Buku Tentang Sejarah Tuhan

Buku Tentang Sejarah Tuhan

Resensi Buku. Mitra tanding untuk debat intelektual tentang Tuhan, menurut buku ini, adalah kaum atheis.

Terutama mereka para intelektual dan pemikir ingkar Tuhan di abad-abad belakangan ini. Menariknya, menurut Karen Armstrong, penulis buku ini, yang berjudul Masa Depan Tuhan, kaum atheis tak sungguh-sungguh menentang eksistensi Tuhan. Slogan Tuhan Sudah Mati (dari Filsuf Sartre) atau perayaan kembali pemikiran agnostik (penentang gagasan-gagasan Tuhan yang bersumber dari teks kitab suci), melulu sebagai respon psikologis.

Mereka adalah orang-orang yang kecewa terhadap realitas fundamentalisme agama. Yang terlihat melakukan dehumanisasi dan perusakan. Dan semua itu kerap dikerjakan atas nama kesalehan (ber)agama.

Jadi dengan kata lain buku ini menganggap bahwa atheisme sama sekali tidak bersumber pada sejarah otentik ummat manusia. Melainkan artifisial (buatan, kreasi terkini). Tak ada pola arketip (kuno) yang memperlihatkan bahwa manusia sejak dulu menyingkirkan atau menganggap Tuhan tak ada.

Justru sebaliknya. Manusia purba yang menulis inskripsi di dalam gua, lembaran-lembaran hierogrip, pahatan-pahatan paku, tak lain adalah narasi paling jelas tentang manusia kuno yang mempercayai kekuatan adikodrati (Tuhan). Hanya saja, konsep ke-Tuhan-an mereka berbeda dengan yang kini kita kenal.

Penulis buku ini menghadirkan riset sejarah, eksperimen lapangan, dan analisis atas temuan-temuan purbakala, yang menghadirkan detil akurat, bahwa sejak awal manusia sudah mengenal gagasan tentang Tuhan. Hanya saja, tak selalu mirip dengan konsep Tuhan yang kita kenal kini (dalam berbagai agama).

Manusia, kata Karena Armstrong, tak bisa hidup satu dimensi —hanya mengandalkan akal saja. Melainkan butuh logos (nalar) dan mythos (mitos, pengetahuan spekulatif). Semua itu demi meredam pelbagai kegelisahan. Sekaligus membantu manusia di segala zaman untuk hidup kreatif, menemukan makna, dan merasakan kebahagiaan. Agama, kata Karen Armstrong, memenuhi dua kaidah itu.

Bila begitu, mengapa Tuhan terus dipertanyakan?

Hari ini, teruama di Eropa dan Amerika Serikat, terjadi tren kuat bahwa mereka mulai meninggalkan konsep beragama tradisional (maksudnya agama-agama besar yang kita kenal sekarang, terutama Kristen). Semakin tinggi jumlah orang yang tak beragama. Kian banyak warga di sana yang tak lagi ke gereja. Pencarian terbaru yang mereka lakukan adalah menemukan gagasan Tuhan dalam konsep sendiri. Baik melalui ritual, ajaran, atau pengalaman masing-masing.

Fenomena ini bersumber dari gugatan keras mereka terhadap berbagai kekejaman, brutalitas, dan perusakan luar biasa yang dilakukan kaum fundamentalis (garis keras dalam pemeluk agama). Orang moderen itu juga menjadi tidak sabar dengan ajaran, inskripsi, wahyu, misteri, mukjizat, atau apapun yang bersumber dari agama. Meskipun semua referensi keagamaan itu mengajarkan empati, cinta kasih, dan perdamaian. Orang moderen melihat bahwa simboloisasi Tuhan yang dipraktekkan orang-orang beragama tak lagi cocok dengan mereka.

Tentu tak ada gunanya melakukan counter opini terhadap kaum ingkar Tuhan itu. Karena memang agama teramat kompleks. Tak pernah ada kecenderungan tunggal —bahkan di lingkungan internal agama itu sendiri. Wajah fundamentalisme garis keras dan sikap intoleran, selalu ada dalam setiap agama. Orang Islam garis keras misalnya, terlalu banyak mengutip Ayat Al Quran yang melegitimasi kekerasan seraya menyingkirkan puluhan ayat-ayat lain yang mengutamakan perdamaian. Dalam sejarah Kristen pun ada yang begitu (bahkan belakangan kita melihat sikap yang sama di pemeluk Agama Budha). Orang mengamalkan agama mereka dalam beragam cara yang berbeda dan kontradiktif, kata Karen Armstrong (lihat halaman 23).

Di sisi lain, untuk menemukan kesejatian agama, yaitu compassion (dalam bentuk kasih sayang dan empati), orang butuh melakukan usaha serius. Tak mudah untuk merasakan saripati agama yang penuh damai. Sikap keagamaan yang benar, tutur Armstrong, hanya lahir dari sikap penuh dedikasi. Agama adalah kerja keras Tidak tumbuh dengan sendirinya. Harus dibina dengan cara yang sama sebagaimana orang menikmati seni, puisi, atau musik. Pendeknya: agama adalah keterampilan yang diperoleh dengan praktek langsung. Orang tak bisa belajar memasak dengan enak kalau hanya berbekal buku resep (halaman 55).

Jika begitu, maka pertarungan gagasan ber-Tuhan dengan anti Tuhan, tentu akan menjadi abadi. Selalu ada posisi menyalahkan Agama yang berTuhan (karena tak bersungguh-sungguh mendalami agama) dan pihak yang membela agama.

Jelas. Karena menurut Karen Armstrong terkadang para pihak pun keliru dalam memaknai Tuhan. Mereka selalu ingin mengetahui dengan detil sosok Tuhan. Baik kalangan pro agama atau anti agama, sama-sama melakukan itu. Seolah, mengutip ucapan Filsuf Era Hellenistik yaitu Demetrius, orang ingin melihat Tuhan seperti melihat gadis telanjang. Padahal, segala sesuatu yang terlalu jelas akan mudah disepelekan

Pengingatan

Bagian paling menarik dari buku ini (dibalik uraian yang panjang lebar di buku tebal ini) terletak pada dua bagian. Masing-masing bagian pendahuluan yang dilengkapi dengan sejumlah istilah penting ke-agama-an, baik dalam tradisi Yahudi, Kristen, Islam, Budah, dan Hindu. Serta bagian Epilog —atau catatan akhir.

Menurut penulis buku ini, orang beragama kadang terlalu bernafsu memaksakan peran agama untuk menyediakan informasi faktual tentang Tuhan, tentang dunia, dan tentang segalanya. Padahal, itu adalah peran logos (nalar). Tugas agama mirip dengan seni, membantu kita hidup secara kreatif dan bahagia. Agama membantu kita menyediakan kesempatan untuk bisa hidup damai dan berbahagia. Bila sains dan ilmu moderen bisa membantu melakukan operasi, pembedahan, cangkok jantung, dan lain sebagainya, maka sains dan ilmu tak bisa membantu orang lepas dari rasa cemas. Agamalah yang bisa

Tentang Karen Armstrong

Penulis buku ini adalah penganjur gerakan kasih sayang antar sesama ummat manusia. Beliau tekun menulis, melakukan riset, wawancara, pembuatan film dokumenter, dan karya-karyanya selalu menjadi Best Seller. Pembaca di Indonesia tentu tak asing dengan hasil pemikiran Karen Armstrong. Terutama buku-bukunya yang laku, seperti Sejarah Tuhan, Berperang Demi Tuhan, Perang Suci, ataupun Muhammad, Sang Nabi.

Informasi Detil Buku:

Judul : Masa Depan Tuhan

Penulis : Karen Armstrong

Penerbit : Mizan, Bandung, 2011

Tebal : 608 halaman

ISBN : 978-979-433-589-5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s