Buku Tentang Petualangan Ibnu Batuta

Ibnu Batuta

Resensi Buku: Tiga puluh tahun petualangan. Empat puluh empat negara (di empat benua). Tujuh puluh tiga ribu mil jarak tempuh. Dan empat kali bolak-balik berhaji ke Mekkah. Serta satu buah buku dokumen berjudul Rihla (atau catatan perjalanan). Semuanya ada di pundak Ibnu Batuta.

Atas semua itu, dunia Barat menyebutnya sebagai Marcopolo kedua. Dunia Islam —tempat ia tumbuh dan melakukan petualangan plus pengabdian— mengenangnya dengan takzim.

Ibnu Batuta memang bukan orang Islam pertama yang menempuh pelayaran panjang serta ekspedisi jarak jauh. Tetapi jelas ia adalah primus inter pares (yang terbaik diantara yang lainnya). Lagipula, ia bukan sejenis pelancong atau pedagang yang berlayar karena motivasi bisnis atau kesenangan. Jauh melampaui itu. Beliau tiapkali menjejakkan kaki di bumi yang dituju, selalu berburu kepada para ulama yang hebat. Bukan sekali dua, justru Ibnu Batuta diminta oleh para penguasa setempat menjadi guru, ulama, qadhi, atau hakim. Satu sebutan yang layak ia sandang adalah: The Wandering Scholar, atau Sarjana (ulama) pengelana (Lihat halaman pengantar, oleh Taufik Abdullah).

Di sini garis pembeda yang tegas, antara tradisi berpetualang tokoh-tokoh Barat dengan Islam. Ambisi menguasai, menganggap dunia non barat adalah terra incognita (daerah tak bertuan), menjarah kekayaan wilayah orang lain, menyebarkan penyakit, serta membunuhi penduduk asli, adalah khas pengalaman Barat. Tak ayal, muncul olok-olok, misalnya ketika Colombus mendaratkan kaki di Benua Amerika, maka ia hanya berjasa menyebarkan penyakit harpes dan mengirim kuda saja.

Demikian juga dengan nama lain, Maghellan, Bertholemus Diaz, atau bahkan Marcopolo. Pelayaran mereka adalah misi kolonialisasi. Ibnu Batuta, jauh dari itu. Ia melakukan muhibah, semacam ekspedisi persahabatan dengan negara-negara lain. Barangkali sedikit ada kemiripan adalah perjalanan laut kolosal yang dilakukan oleh Laksamana Cheng Ho. Hanya saja, Ibnu Batuta tak sebesar itu, karena ia hanya mengatasnamakan perjalanan pribadi.

Jasa Ibnu Batuta

Kontribusi Ibnu Batuta bagi sejarah Islam pun terbilang luar biasa. Para sejarawan, ulama, penguasa, dan tokoh-tokoh agung dalam dunia Islam memang mampu mengangkat panggung sejarah Islam yang gilang gemilang (di masa lampau). Tapi mereka melihat panorama indah itu sepotong-sepotong. Lain hal dengan tokoh yang kita perbincangkan ini.

Dalam buku ini, berjudul Petualangan Ibnu Batuta, Seorang Musafir Muslim Abad 14, ditulis oleh Ross E. Dunn, jasa-jasa Ibnu Batuta dipapar detil.

Menurut buku ini Ibnu Batuta menghadirkan vista (pemandangan) utuh dunia Islam abad 14. Saat itu, Islam merentang dari laut atlantik sampai China, dari ujung Selat Bosphorus hingga Samudera Hindia, dari Jalur Sutera China hingga Aceh, Laut Tengah, Laut Mediteranian, Maroko, dan Spanyol.

Menariknya, lanskap dunia Islam saat itu tidak hadir satu warna. Ada wilayah yang sedang merangkak naik (kesultanan Turki Saljuk, atau Dinasti Moghul India), dan ada juga yang sedang bangkit dari reruntuhan, yaitu Dinasti Abassiyah di Bahgdad (yang dihumbalang petaka pasukan Tartar Mongol).

Buku ini bahkan menyandingkan kebesaran Ibnu Batuta dengan Ibnu Khaldun. Jika Ibnu Khaldun menulis sejarah Islam dari aspek konsep-teori serta paradigma ilmu sosial, maka Ibnu Batuta menulis fakta lapangan. Dua kombinasi inilah yang perlu dibaca oleh Ummat Islam di manapun berada.

Pelbagai Negeri

Bagi pembaca di Indonesia, buku ini menarik karena berisi kata pengantar oleh Taufik Abdullah. Di bagian itu, sejarawan LIPI ini mendedahkan dengan jelas pengalaman-pengalaman Ibnu Batuta selama di Sumatera (dan sempat singgah selama beberapa minggu). Menurut Taufik, Ibnu Batuta berjasa menceritakan pengalaman penting selama di Kesultanan Samudera Pasai, yaitu tentang tradisi kebesaran kesultanan Islam tertua di Nusantara itu.

Sementara yang lain, tetang perjalanan Ibnu Batuta di pelbagai negeri tak kalah menarik. Dalam buku ini ada corak penuh warna tentang suasana Islam saat itu. Tentang budaya, tradisi, keilmuan, perang, penaklukan, dan bahkan pola kebiasaan para ulama. Mulai dari Maroko, Mekkah, Baghdad, Delfi (India), China, Tunisia, Khurasan, Turki, dan Persia (Iran saat ini).

Dengan kata lain, saat membaca buku ini sesungguhnya kita membaca dokumen sejarah dunia Islam. Meski memang tak mirip benar dengan cerita-cerita petualangan fiktif yang mengharu biru imajinasi. Dalam buku ini, semua dipapar nyaris akademik. Mungkin akan memusingkan bagi mereka yang tak mengenal sejarah dunia Islam saat itu. Tapi apapun itu, karya pustaka ini sangat perlu untuk kita baca.

Informasi Detil Buku:

Judul : Petualangan Ibnu Batuta, Seorang Musafir Muslim Abad 14

Penulis : Ross E. Dunn

Penerbit : Yayasan Obor, Jakarta, 2011

Tebal : 402 halaman

ISBN : 978-979-461-783-0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s