Buku Tentang Mutiara Keteladanan, Yudi Latif

Mutiara Keteladanan

Buku ini seolah kembali mengabari kita bahwa Indonesia adalah negeri yang diberkahi para pengikut setia Yesus, Muhammad, Sang Budha, bahkan kaum Brahmana suci sekaligus (juga ladang subur penyemaian filosifi bijak Konfusius). Begitu banyak orang yang sanggup menjadi batu karang. Bersetia melakoni prinsip nilai-nilai kemanusiaan yang universal (kebaikan, cinta kasih, saling tolong, dan solidaritas).

Sekaligus juga meneguhkan kembali ingatan, bahwa di periode dini kelahiran Republik, adalah negara-negara yang menjadi kiblat agama-agama besar di dunia, yang paling awal mengakui kemerdekaan negeri ini (yaitu Mesir, di susul negara-negara Arab, lalu Vatikan, dan India). Masihkah kita terus berselisih atas nama keyakinan agama —bahkan untuk perkara sepele?

Maka teknik membaca kilat dan efektif adalah pantangan utama dalam menyimak buku ini. Di sejumlah halaman, bahkan bab demi bab, banyak untaian kisah yang membuat pembaca tertegun. Membuat hati basah, dan olehnya tak perlu membaca terburu-buru. Nikmat. Seraya membatin: Indonesia ini sungguh hamparan tanah yang sangat banyak menanam pohon kebaikan dari orang-orang penting. Terutama di masa silam.

Buku berjudul Mutiara Keteladanan, Pancasila dalam Keteladanan ini, memapras dengan lembut sifat-sifat degil kita selama ini —terutama di arena politik. Kita hari-hari terakhir ini seolah memeluk teguh keyakinan bahwa manusia adalah serigala bagi yang lain. Saling caci. Menguar-uar kebencian ke lawan (atau pihak yang dianggap lawan). Bahkan terkesan ingin mengabadikan permusuhan. Semisal koalisi Merah Putih dengan kubu Jokowi JK.

Padahal (di dalam buku ini) terlihat jelas, bagaimana para founding fathers kita tempo doeloe meniti irama persahabatan nan indah. Mereka teguh dalam ideologi politik, sikap perjuangan, dan dalam penghayatan agama masing-masing. Tetapi sangat humanis. Pribadi-pribadi yang lembut, sanggup menjalin persahabatan dengan penganut agama yang berbeda. Mengutip istilah Almarhum Romo Mangun, mereka bisa mewujudkan toleransi beragama yang positif (tak sekedar menghargai kebebasan beragama secara pasif, tetapi juga bekerjasama).

Baiklah. Berikut sepetik contoh: alkisah Prawoto Mangkusasmito, tokoh Partai Masyumi dan Muhammadiyah belum juga punya rumah (beliau pernah menjadi Wakil Perdana Menteri). Hal ini diketahui oleh I.J. Kasimo (tokoh Katolik), yang dengan segera menggerakkan kawan-kawannya untuk memberi bantuan. Serta mendekati pemilik rumah yang seorang Zuster Katolik Keturunan Tionghoa (bernama Tan Kin Liang). Tak lama, berkat bantuan mereka semua, Pak Prawoto pun sanggup membeli rumah (Lihat halaman: 2).

Atau coba longok perkawanan Buya Hamka dengan Kardinal Justinus Darmoyuwono. Orang mungkin hanya ingat Buya Hamka yang mengeluarkan fatwa haram (untuk kemudian beliau menegaskan bahwa itu hanya keyakinan pribadi, dan tak berniat memaksakan), namun hal ini diimbangi dengan sikap pribadi beliau, yang antusias menggalang kerjasama dengan tokoh dari agama lain. Terkhusus dalam hal menentang ketidakadilan dan kedzhaliman (halaman: 46).

Terlalu sedikit tempat di artikel ini untuk mengutip contoh-contoh serupa, termasuk pesona toleransi dan kasih sayang dari tokoh Protestan, Hindu, dan Budha, juga para pejuang dari kalangan keturunan Tionghoa. Namun perlu diangkat model kemanusiaan universal yang tumbuh di negeri ini, seperti yang diperlihatkan oleh Pastor Van Lith, seorang tokoh pendidik, yang menghasilkan orang-orang sekelas I.J. Kasimo dan Drijarkara. Pastor Van Lith berperan dalam memperjuangkan agar perwakilan tokoh pribumi bisa hadir di Volksraad (parlemen pertama di Hindia Belanda).

Kampanye Akal Budi

Penulis, Yudi Latif, terbilang tekun merajut potongan-potongan peristiwa dan pelaku sejarah di tanah air, untuk kemudian diberi pola, diwarnai oleh narasi filosofis, dan merumuskannya dalam konteks ideologi negara. Memang ini yang diperlukan, agar tafsir terhadap Pancasila tidak menjadi fosil dalam dokumen-dokumen klasik. Boleh dibilang, kehadiran buku ini adalah roh baru yang kaya informasi.

Komposisi buku ini, mengikuti judul di bagian muka, terpatok pada lima sila dalam falsafah bangsa kita. Masing-masingnya: 1) Mata Air Keteladanan dalam Pengalaman Ketuhanan; 2) Mata Air Keteladanan dalam Pengalaman Kemanusiaan; 3) Mata Air Keteladanan dalam Pengalaman Persatuan; 4) Mata Air Keteladanan dalam Pengalaman Kerakyatan; dan 5) Mata Air Keteladanan dalam Pengalaman Keadilan.

Setiap bagian diberi rumusan ide pokok (sila per sila dalam Pancasila). Lalu disertai dengan kisah-kisah keteladanan, baik dari masa lampau ataupun masa kini. Tokoh-tokoh yang dijadikan contoh, mewakili keragaman Indonesia, baik dari sisi agama, etnis, kelas sosial, jenis kelamin, maupun wilayah.

Sudah tentu nilai penting buku ini akan tersia-sia jika selesai sebagai referensi motivasi, semacam self helf atau psikologi populer. Sebab niatannya tidak di situ. Melainkan kembali meneguhkan pola transmisi penghayatan kita terhadap Pancasila. Selama ini, pola pendidikan karakter hidup ber-Pancasila dilakukan dengan kering. Membosankan. Maka etos kepahlawanan dan perjuangan manusia-manusia Indonesia, kerap ditangkap tak utuh. Miskin impresi (kesan), dan terlalu menonjolkan pada sisi prestasi. Atau bahkan semata memenuhi batok memori hapalan semata.

Setiap butir Pancasila dalam buku ini hadir memenuhi kebenaran akal budi. Bahwa kebaikan, pengabdian, dan totalitas bisa hadir di mana-mana, tak terikat konteks waktu, latar, maupun posisi orang per orang. Olehnya, bisa saja contoh keteladanan bahkan hadir dari Pak Harto (sewaktu beliau blusukan tanpa pengawalan resmi dan tanpa panduan protokoler, untuk memeriksa hasil pembangunan di berbagai daerah). Bahwa yang jadi pokok soal, adalah contoh-contoh karakter dan semangat hidup yang paralel dengan jiwa Pancasila.

Kaidah Emas

Dari sisi ini, manusia Indonesia berkesempatan untuk saling belajar dan saling memberi (sebagaimana telah dicontohkan para pendahulu). Kembali meneguhkan kepercayaan bahwa Pancasila adalah kaidah emas, yang sangat bisa menjadi alat solidaritas dan kebersamaan dalam melakukan kebaikan. Tantangannya hanya satu: formulasi penghayatan yang kreatif, sebagaimana telah disodorkan buku ini.

Informasi Detil Buku:

Judul: Mutiara Keteladanan, Pancasila dalam Keteladanan

Pengarang: Yudi Latif

Penerbit: Mizan, Maret, 2014

Tebal: 648

ISBN: 978-979-433-830-8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s