Buku Tentang Khalifah Harun Ar Rasyid

Harun Ar Rasyid

Baghdad dalam Bahasa Persia artinya didirikan oleh Tuhan. Jauh sebelum kota ini mengalami puncak kejayaan di masa Harun Al Rasyid, telah menjadi tempat kuno yang melegenda (yaitu Babilonia di masa Nebukadnezar).

Oleh Khalifah Al Mansyur —kakek Harun Al Rasyid— kota ini dibangun dengan tangannya sendiri. Dan seperti lahir dari tongkat seorang penyihir, Baghdad kemudian menjadi mercusuar menggemintang dari Dinasti Abbasiyah. Bahkan pesona Baghdad tak jua pupus. Pun ketika berkali-kali dihempas prahara. Dahulu oleh Pasukan Mongol dan kini oleh balatentara Amerika Serikat dan para sekutunya.

Satu nama yang kemudian menjadi Dongeng Seribu Satu Malam di Baghdad adalah Khalifah Harun Al Rasyid. Nama belakang, Al Rasyid, yang artinya orang yang diberi petunjuk diperoleh persis ketika Sang Khalifah Agung ini pulang dari peperangan yang ia menangkan (saat itu, usianya baru menginjak 23 tahun).

Penguasa paling brilian di puncak kejayaan Islam masa lalu ini dalam buku ini tak melulu ditaburi puja dan sanjung. Begitu detil, penulis buku berjudul lengkap Kejayaan Sang Khalifah Harun Al Rasyid, Kemajuan Peradaban Pada Zaman Keemasan Islam ini membuat pelukisan. Penulis, bernama Benson Bobrick, memang memiliki otoritas untuk melakukan itu. Dia melakukan riset mendalam dan menghabiskan waktu bertahun-tahun. Dalam buku ini, jelas terpampang aneka intrik, kekejian, pengkhianatan, gaya hidup pesta pora, dan tentu saja kebobrokkan istana Khalifah Harun Al Rasyid. Ini tentu saja berbalik punggung dengan bacaan yang selama ini kita konsumsi. Dunia Baghdad saat itu, seolah negeri di awan

Tetapi buku ini jelas sangat adil. Bagaimana latar kelahiran Istana Baghdad dan kejayaan Khalifah bersumber dari jejak yang panjang, diurai panjang lebar. Pasukan Islam yang berhasil memunculkan peradaban besar ini adalah kombinasi kompleks, antara keberanian, mental penakluk, kesabaran, strategi, dan juga kemampuan beradaptasi dengan peradaban lain. Kemenangan balatentara Islam bukan karena dibantu malaikat, melainkan hasil proses panjang.

Begitupun dengan tradisi mengelola ilmu, mencintai budaya, menghargai sastera, mengundang para intelektual non muslim, mempercayakan urusan administrasi keuangan kekhalifahan kepada kaum profesional, tak lahir tiba-tiba. Kemauan untuk belajar, merekrut kaum cerdik cendekia, dan menghidupkan suasana intelektual di kalangan penguasa Islam saat itu, adalah garis pembeda dengan para penakluk lain. Dunia Islam Arab, telah lama tumbuh dalam iklim yang menghargai sastera, puisi, lirik, dan tradisi literasi lainnya. Dan ini adalah bagian dari kemewahan hidup mereka, kebanggaan akan akar sejarah dari era nenek moyang.

Hingga itu, ketika Harun Al Rasyid berkuasa, ia menyempurnakan semua kehebatan itu. Barisan balatentara pemberani yang beribu-ribu banyaknya. Bangunan megah, benteng, istana, permandian, pasar, masjid, dan bahkan perpustakaan kian mengkilau. Seni, budaya, kaligarafi, puisi, mencapai puncak kehebatan. Para intelektual diundang dan datang berduyun-duyun. Ribuan buku ditulis atau diterjemahkan. Singkat kata, Islam terbaik ada di masa ini.

Lagipula, dari sisi pribadi, Harun Al Rasyid memang melengkapi diri dengan sejumlah kemampuan agung. Ia didik seluruh ilmu-ilmu penting sejak era belia. Ia juga belajar ilmu beladiri, stratgi militer, sikap sopan santun, dan praktek pemerintahan. Wajar belaka jika ketika berkuasa, maka ia memiliki kecintaan terhadap semua hal-hal yang agung, termasuk ilmu dan pengetahuan.

Pengaruh kekhalifahan Harun Al Rasyid, tentu masih ada hingga saat ini. Dan bukan Cuma Abu Nawas atau Shaharaz dalam Seribu Satu Malam. Tetapi: temuan-temuan besar di bidang ilmu astronomi, geometri, aljabar, obat-obatan, fashion, persenjataan, musik, hukum, filsafat, dan juga sastera, bermunculan di saat itu.

Lalu apa sisi lain yang dikorek oleh Benson Bobrick dalam buku ini?

Sesungguhnya biasa. Sebagaimana disebut oleh Ibnu Khaldun, bahwa peradabaan mengalami siklus tetap: perintis-pejuang-pembentuk-penikmat-dekaden!

Lingkungan istana penuh harem (dari kata tempat suci dan terlarang, tetapi kemudian menjadi wadah penampung para perempuan cantik, selir, gundik, dan budak seks). Intrik antar sesama pejabat tinggi —antara wazir dengan jenderal perang, antara pemuka hukum dengan selir, dan lain-lain. Tetapi yang paling fenomenal adalah ini: takhta Khalifah bersimbah darah. Perlu beberapa korban di kalangan keluarga istana untuk kemudian mahkota dapat digenggaman. Termasuk, tentu saja, keluarga inti dari Harun Al Rasyid sendiri.

Kalimat menggigit datang dari Ibnu Khaldun, demi melihat krisis di pusaran inti Khalifah. Begini: Rasa dengki, iri, dan kecemburuan telah menanggalkan topengnya kalajengking fitnah pun datang menyengat (Lihat halaman: 234).

Terlalu banyak pihak yang ikut bermain —dan untuk itu terlalu banyak kepentingan yang diperebutkan. Istana khalifah tidak dibangun monolit. Kebesaran Baghdad saat itu datang dari berbagai tangan. Tak cuma oleh kalangan Islam dan sanak saudaranya, tetapi juga oleh kaum Yahudi yang cerdas, pihak Nasrani, atau bahkan para budak dan zindik. Semua membuat front sendiri-sendiri. Saling curiga. Dan siap untuk saling menerkam.

Sulur-sulur pertikaian oleh buku ini diurai tuntas.

Termasuk tentang bagaimana sikap Sang Khalifah Agung itu sendiri, yang ternyata mudah curiga, tega menghabisi kawan dekat, dan selalu siap memberikan hukuman maha berat terhadap pihak yang ia anggap melawan (Halaman 237).

Kata pamungkas, sejarah memberi kita banyak nasihat. Kekahlifahan Agung Harun Al Rasyid jalin menjalin dengan begitu rumit tetapi terang dengan peradaban Barat. Di masa beliaulah Islam memberi kontribusi besar bagi lahirnya modernitas di dunia saat ini, terutama di bidang ilmu dan budaya.

Dalam buku ini, beberapa hal disebut, misalnya: istilah-istilah dalam perdagangan yang dipakai hingga saat ini (kata caravan, bazaar, dinar, traffic, dan tarif). Atau istilah-istilah dalam pelayaran (arsenal dan admiral). Berikut istilah-istilah dalam kimia (alkaline, antimony, alembic). Bahkan dalam gaya hidup (syrup, alcove, sofa, carafe, mattress). Semuanya tercantum di halaman: 347. So, kegemilangan Islam sama sekali bukan dongeng bukan?

Informasi Detil Buku:

Judul : Kejayaan Sang Khalifah Harun Al Rasyid

Penulis : Benson Bobrick

Penerbit : Alvabet, Maret, 2013

Tebal : 400 halaman

ISBN : 978-602-9193-30-5

One thought on “Buku Tentang Khalifah Harun Ar Rasyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s