Buku Tentang Chairul Tandjung

Chairul Tandjung

Resensi Buku: Nama besar sudah pasti beriring sejalan dengan gosip besar. Pun dengan Chairul Tanjung. Kini, nyaris tiap momen politik yang mengguncang, nama CT selalu disebut. Anda tentu tak asing dengan isu panas atas kemenangan SBY di dua kali Pemilu Presiden (2004 dan 2009). Kata sahibul kisah, Bos CT Corp menjadi penyokong utama (pemenangan) SBY. Tentu, bumbu cerita berlanjut, bahwa atas jasanya itu, CT memperoleh aneka fasilitas first class, untuk memenangkan tender, mengakuisisi, memborong saham, dan segala proyek gajah di negeri ini.

Sudah tentu semua itu tak tersedia lengkap di buku ini, yang berjudul Chairul Tanjung Si Anak Singkong, terbitan Kompas Gramedia, tahun 2012. Namun saya jamin, terlalu datar kalau menyelidik pengusaha asli Jakarta (tapi berdarah Batak) hanya dari buku itu. Bubur panas justru ada di luar menu utama buku. Kebetulan, buku ini sendiri tak sepi dari kontroversi.

Keributan antara penulis utama buku ini, Tjahja Gunawan Diredja (wartawan Senior Kompas), dengan penulis hantu yang membantunya, yaitu Inu Febriana, bergulir deras. Seolah menjadi strategi promosi yang jitu, justru mampu meletupkan rasa penasaran orang. Namun tentu ini bukan by design, mengingat betapa kerasnya si penulis hantu melancarkan serang-serangan kasar via twitter, yang menunjukan ada masalah besar dalam komitmen pembuatan buku. Wajar saja jika orang lantas curiga, buku ini pasti proyek besar…

Sekali lagi, kehebatan Chairul Tanjung memang melampaui aneka kontroversi. Lebih-lebih saat ini, beliau beredar di segala pojok kehidupan. Bisnisnya berkibar dan merambah aneka bidang. Dari media, perbankan, ritel, makanan, hotel, hiburan dan semua itu biasanya berkelas (bahkan high end). Langkah pengabdiannya pun berjejak di banyak tempat, mulai dari pendidikan, keagamaan (beliau juga pengurus MUI), pelayanan sosial (mendirikan rumah asuh), sampai menjadi Ketua Komisi Ekonomi Nasional. Barangkali, dengan segala posisinya itu, ia akan disegani kawan dan lawan…

Untuk itu, ada pula desas-desus. Tatkala akan berlangsung pendaftaran konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat, ada konglomerat media yang akan daftar. Namun, si calon pendaftar itu hanya pasang satu syarat: kalau CT tidak daftar, saya akan daftar, tapi kalau CT ikut konvensi, saya akan mundur. Bayangkan, sekelas Bos Media Jawa Post Grup saja sungkan. Hebat, bukan?

Kalau ukuran prestasi kelas bintang itu yang dipakai standar untuk membaca buku ini, maka terlalu sedikit yang tersaji dalam buku ini.

Tak ada seluk beluk kisah dan pendalaman peristiwa atas pelbagai hal penting yang mengiringi perjalanan Chairul Tanjung si Anak Singkong. Terkhusus aneka kabar fantastik tentang pengusaha segala ada ini. Melulu bertutur dari sisi-sisi kemanusiaan belaka. Semisal masa kecil sang tokoh. Pengabdiannya yang tulus terhadap Ibunda (dan keluarga). Perjalanan semasa kuliah. Merintis bisnis. Membesarkan usaha. Hingga cita-cita dan idealisme seorang Chairul Tanjung.

Bukannya hal itu tak penting. Namun pasti tak cukup. Sosok sekaliber CT sangat layak diulas detil dan mendalam, dan dari segala sudut. Sementara buku ini hanyalah aquarium (yang menampilkan objek dengan pendar gemerlap). Bukan mikroskop, yang menampilkan aneka pesona yang punya cerita, tapi tak menghadirkan kritik, penialaian obyektif, dan argumentasi faktual dari sumber lain. Jika belajar dari biografi orang-orang luar negeri, selalu terjadi analisis yang jeli. Tak jarang bahkan menampilkan komentar para lawan, sekaligus kegilaan dan keanehan orang-orang hebat. Percayalah, ada sisi kegilaan dari orang-orang jenius. Saya salah satu orang yang percaya, bahwa kepribadian CT pasti ada yang rada aneh untuk ukuran orang kebanyakan. Di buku ini, tak ada…

Tunggu dulu, tak lantas buku ini hanya patut jadi pajangan di rak perpustakaan. Itu keliru. Sebagai sebuah sumber inspirasi, karya pustaka yang diiklankan di televisi ini tak patut diperlakukan leceh.

Penceritaan mengharukan selalu ada. Betapa luluh hati menyimak pengakuan CT bahwa ketika ia kuliah mendapatkan modal pertama dari Ibunda yang berasal dari kain halus yang dijual. Atau tekadnya yang membara untuk membuktikan bahwa ia bisa berbisnis (dan dirintis sejak dini, di saat kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia. Pun dengan kiprahnya di masa kecil, seraya mendapat pesan keluarga bahwa satu-satunya kunci melawan kemiskinan adalah pendidikan.

Insipirasi yang begitu kuat dalam buku ini adalah kegagahan mengusung cita-cita. CT ketika bertekad memiliki stasiun Televisi pun bersumber dari kuatnya keinginan. Alkisah, suatu saat ia pontang-panting memproduksi sebuah program televisi. Apa lacur, di ujung perjalanan, karyanya itu tak diputar oleh stasiun yang telah berjanji akan menayangkan. Rasa jengkel menguatkan tekadnya, suatu saat ia harus punya stasiun televisi. Kejadian serupa juga ia lakukan ketika mengajak kawan-kawannya semasa sekolah untuk membangun kembali SMA Boedi Oetomo Jakarta.

Masih banyak yang lain. Tetapi alurnya sama. Dalam hal petikan-petikan kalimat nasihat ada begitu banyak yang penting. Kebanyakan dalam perkara bisnis. Semisal: menjadi pengusaha bukan karena bakat atau keturunan tetapi karena kemauan dan kemampuan yang terus dilatih. Plus kiat-kiat beliau dalam mengembangkan sayap usaha. Menurutnya, dalam bisnis, membangun jaringan, mitra, dan memegang kepercayaan adalah hal yang sangat penting. Bacalah…

Informasi Detil Buku:

Judul : Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Penulis : Tjahja Gunawan Diredja

Penerbit : PT Kompas Media Nusantara

Tahun Terbit : 30 Juni 2012

Tebal : xvi + 384 h; 15 cm x 23cm

ISBN : 978-979-709-650-2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s