Buku Tentang Buya Hamka

Hamka

Di setiap jelang Natal, ummat Islam Indonesia kerap kembali mengingat nama Buya Hamka. Bukan apa-apa, beliaulah yang mengeluarkan fatwa haram bagi Ummat Islam untuk mengucapkan Selamat Natal kepada Ummat Nasrani.

Tanpa bermaksud memantik kembali kontroversi lama itu, ada baiknya kita menelusur sosok Ulama kharismatis itu secara utuh. Melalui sebuah buku yang ditulis oleh anak kandungnya sendiri, yaitu Irfan Hamka. Buku itu berjudul Ayah, Kisah Buya Hamka… (Penerbit Republika, Jakarta, 2013).

Hari ini memang terasa fatwa Buya Hamka yang mengharamkan Ucapan Selamat Natal terasa begitu keras dan ortodoks. Di balik itu, ada fakta yang tak boleh kita tutupi. Saat itu, Buya sendiri relatif “melepas” keputusannya itu ke tangan Ummat, dan sama sekali tidak ada sikap ngotot. Dasar pertimbangannya: ia tak ingin sikap munafiq di kalangan Ummat. Pokok soal keberatannya adalah jangan sampai sikap toleran Ucapan Selamat Natal berakibat pada konflik batin di kalangan Ummat, dan ini akan berdampak buruk. Buya hanya keberatan jika kita ikut langsung dalam proses liturgi (peribadatannya).

Dalam perjalanan, kita tahu, bahwa banyak pihak Islam sendiri yang “meminta” agar Buya mencabut fatwa-nya itu. Akan tetapi Buya memilih mundur, sebab menurutnya itu adalah soal hati nurani.

Memang bila kita perhatikan, dasar argumentasi Buya lebih pada sikap khawatir. Andaikan saja suasananya seperti saat ini, di mana mengucapkan Natal sama sekali tak berdampak pada aqidah (bisa melalui perangkat teknologi) dan tak perlu terlibat dalam liturgi langsung (sebagaimana di bayangkan Buya), maka tentu pendapatnya akan lain. Sudahlah…

Nama Ulama yang produktif ini (menulis Kitab Tafsir Al Quran secara lengkap, Tafsir Al Azhar) belakangan kerap disebut kembali. Terkait dengan produksi film yang diangkat dari novel yang beliau tulis, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Secara keseluruhan, buku ini memapar pengalaman seorang anak dari Ulama Besasr dari Minangkabau (HAMKA). Sang anak yang mengalami, merasakan, dan ikut serta berjuang bersama Ayahanda tercinta. Irfan Hamka —penulis buku ini— ikut pula dalam perjalanan darat dan laut sepanjang ribuan kilometer, ketika pergi Haji bersama ayahnya. Di mata Irfan, Hamka adalah sosok yang tegas sekaligus berwibawa. Pemberani sekaligus penyabar. Santun dan sangat penyayang —termasuk mahluk hidup yang lain, Hamka bahkan memelihara seekor kucing yang teramat beliau sayangi.

Dan kesemua itu bukan pengakuan orang seorang. Sejumlah tokoh menjadi penyaksi. Lagipula, Hamka adalah Ulama yang mendunia. Beliau mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir (ini adalah universitas tertua di dunia). Hamka kerap pula mendapat penghargaan dari berbagai negera sahabat. Termasuk diundang menjadi tamu kehormatan, menjadi nara sumber, atau bahkan menjadi penassehat dari sejumlah lembaga ke-Islam-an di dunia.

Tetapi yang menjadi kenangan banyak orang —dan pula diceritakan dalam buku ini— tak lain adalah “perlakuan balik” Buya Hamka terhadap orang-orang yang pernah berbuat tak adil kepadanya. Di saat rezim Orde Lama runtuh dan Bung Karno wafat, Hamka lah yang mensholatkan Presiden Pertama RI itu. Padahal semua tahu, rezim Soekarno-lah yang pernah memenjarakan beliau. Dalam buku ini dituturkan bahwa Hamka tidak dendam, malah bersyukur karena di penjara (terbukti ia mampu menyusun karya pustaka penting selama di dalam bui, yaitu Tafsir Al Azhar).

Orang juga pasti ingat, betapa kasar dan culas orang komunis pendukung PKI menyerang Hamka (dalam pergolakan menjelang pemberontakan PKI 1965). Hamka diserang, diolok-olok, difitnah, dan dituduh melakukan pembajakan karya asing. Karya yang menurut orang-orang komunis adalah palsu, tak lain karya yang berjudul tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Lalu apa yang dilakukan Hamka terhadap tokoh komunis paling sengit waktu itu, yakni Pramoedya Ananta Toer?

Di perjalanan waktu, Pramoedya justru menitipkan puteri kandungnya untuk dibimbing oleh Hamka, guna mempelajari Islam lebih dalam. Pramoedya mengaku, hanya kepada Hamka ia percaya anaknya bisa mengenal Islam secara benar…

Petikan-petikan narasi menarik lainnya memang cukup banyak terhampar dalam buku ini. Dan ini memang perlu. Paling tidak memberikan sketsa lebih lengkap, tentang historiografi Hamka dan para “konteks sejarah waktu itu”. Para pembaca yang kritis, pasti akan membandingkan, melakukan refleksi, sekaligus perenungan mendalam, betapa sejarah Indonesia ternyata bertabur dengan manusia-manusia hebat. Padahal zaman itu adalah era yang paling sulit. Namum, justru lahir para intelektual, ulama, pemberani, atau bahkan sosok yang memiliki kelengkapan secara penuh… Hamka, adalah salah satunya. Ia intelektual karena terbukti memiliki karya-karya akademik yang bertahan hingga saat ini —dan mengundang kagum. Hamka juga seorang Ulama besar —sepanjang hidupnya didekasikan untuk kegiatan Dakwah Islamiyah. Hamka juga orang yang pemberani dalam makna sesungguhnya. Beliau bahkan memiliki kemampuan silat dan ilmu beladiri yang mumpuni. Dan para budayawan juga tak segan menyebut Hamka sebagai Pujangga. Lengkap bukan?

Dari sejumlah poin plus yang tergambar dalam buku ini, tentu menjadi tak adil jika Ummat Islam saat ini hanya menjadikan salah satu keputusan kontroversial Hamka soal natal sebagai satu-satunya ukuran. Betapapun, Hamka memiliki dalil sendiri, dan bukan berarti tidak toleran. Bahwa soal sikap dan penerimaan kita saat ini, itu perkara lain. Yang penting adalah: kesediaan memetik lautan hikmah dari sosok kharismatis sekelas Hamka.

Lalu muncul pertanyaan: bagaimana seoarang anak manusia bisa berprestasi selengkap Hamka?

Tak banyak orang tahu, bahwa Buya Hamka yang lahir di Maninjau pada tanggal 17 Februari 1908 adalah anak dari orang tua yangbroken home. Masa kecilnya harus dilewati dengan berpindah-pindah. Pernah juga ia mengalami sakit cacar di seluruh tubuh. Bekas-bekas luka cacar di muka membuat saudara dan temannya di kampung menghinanya habis-habisan karena fisik yang buruk.

Pengalaman hidup membuatnya menjadi lebih tegar. Kesenangannya membaca membawanya untuk menuntut ilmu di tanah Jawa. Pendidikan yang tidak terlalu tinggi membuatnya ditolak di sekolah-sekolah saat ia melamar menjadi guru. Namun kegigihannya belajar membuatnya berkelana dari tanah Jawa hingga ke Mekkah. Dan akhirnya ia menerima gelar Honoris Causa dari Al-Azhar University Cairo serta menulis sebanyak 118 artikel dan buku (sastra islam, filosofi-sosial, roman, tasawuf, sejarah, biografi).

Dalam buku ini, memang banyak penggalan naraasi subyektif (dari sudut pandang seorang anak terahadap Ayahnya). Akan tetapi, jelas pula terpapar sejarah Hamka yang telah menjadai memori kolektif bersama.

Termasuk yang paling mengharukan sekalipun. Misalnya ketegaran Hamka bersama keluarga ketika menghadapi saat-saat yang sulit secara ekonomi, ditinggalkan kawan, dijauhi para penerbit (yang diancam oleh rezim Orde Lama). Ada bagian yang mengundang sedih, isteri Hamka dan Irfan (anak Hamka, penulis buku ini), meminta honor buku Hamka tapi kemudian ditolak. Padahal pasangan Ibu dan Anak itu dalam kondisi benar-benar tak punya uang. Mereka pun pulang dengan kecewa. Akan tetapi tidak marah dan tidak memaki nasib. Mereka tegar menghadapi. Ini cermin jelas, bahwa orang besar juga mampu melahirkan keluarga yang hebat! Hamka pun menunjukan itu, ia bukanlah tokoh yang hanya populer dari sisi gagasan, tetapi gagal dalam membina keluarga…

Catatan akhir. Hari ini Ummat Islam menghadapi aneka problem serius. Islam di Indonesia seperti hanya mampu memperlihatkan sisi intoleran, dangkal, dan tidak solutif atas gejolak zaman. Selain itu, seolah Ummat kehilangan sosok panutan. Para Ulama yang diharapkan jadi pemandu, jauh dari kapasitas keulamaan tempo doeloe. Tak sebagaimana Hamka, yang bisa memberikan pencerahan dengan detil, argumentatif, sekaligus menyejukkan. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan membaca kembali teladan para Ulama masa lalu. Termasuk dengan membaca buku ini. Insya Allah…

Informasi Detil Buku:

Judul : Ayah, Kisah Buya Hamka

Penulis : Irfan Hamka

Penerbit : Republika, 2013

Halaman : 303 halaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s