Buku Anak-Anak Revolusi Budiman Sudjatmiko

anak anak revolusi

Anakanak muda itu dari mana mendapat inspirasi melawan Jenderal Besar Soeharto? Hal apakah yang meracuni otak mereka? Sehingga begitu nekat menghadapi rezim yang saat itu begitu kukuh dan perkasa memberangus tiap letupan perlawanan?

Jangankan anak-anak ingusan (istilah para tentara Orde Baru untuk para aktivis mahasiswa era 90-an), senyampang para Mantan Jenderal sekalipun dengan mudah dilumpuhkan oleh kekuasaan despotik Soeharto.

Jika membaca buku Anak-Anak Revolusi-nya Budiman Sudjatmiko ini, yang merupakan otobiografi penulisnya yang ditulis ngepop, jawaban untuk pertanyaan di atas adalah pendek saja. Buku. Ilmu. Dan guru.

Tiga perkara itu yang menjadi alat tafsir atas setiap realitas. Budiman Sudjatmiko begitu berhasil menafsirkan pelik-pelik kehidupannya, dengan petikan berbagai-bagai kalimat menggugah, yang bersumber dari buku-buku hebat, dari segalam macam disiplin ilmu, dan dari pergaulannya dengan berbagai kalangan (tempat ia berguru mencari makna hidup).

Maka pembaca akan disuguhi sejumlah teori plus testimoni nyaris di tiap lembar halaman buku ini.

Meski begitu, tak bisa dikatakan bahwa penulis yang kini menjadi Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, melakukan sejenis kegenitan intelektual. Seraya menghamburkan hedonisme berbahasa —-sebagaimana tabiat koleganya di Gedung Senayan ketika unjuk diri di hadapan publik.

Budiman tak berkepentingan unjuk diri dan mempertontonkan kapasitas intelektualnya. Ia adalah sedikit saja contoh kaum muda yang sangat dikenal publik dalam hal intelektualitas, energi perjuangan, militansi, dan keberpihakan. Petikan perjalanan karirnya yang terakhir, yakni sebagai Ketua Panitia Khusus RUU Pemerintahan Desa, kian membuktikan nilai lebih Budiman dibanding politisi-politisi lain.

Gaya penuturan cerita dalam buku ini memang haruslah begitu. Jika tidak, maka akan jatuh pada penonjolan riwayat penulisnya semata —-dan tentu kering makna.

Maklumlah, soal kehidupan Iko (panggilan penulis buku ini dikalangan keluarga dan sejawatnya), tak beda jauh dengan manusia-manusia muda era 90-an lainnya di republik ini.

Terbelenggu kemiskinan di masa belia. Menjadi pelajar dan mahasiswa yang haus ilmu pengetahuan. Menjadi sosok muda yang militan, kritis, marah, serta berani melawan praktek kekuasaan yang otoriter. Plus mengalami geletar asmara khas anak muda, tergolong sesuatu yang lazim dan tak terlalu istimewa.

Beruntung teknik penulisan buku ini lepas dari gaya roman picisan atau fiksi yang semata-mata mengandalkan dramatisasi dan sensasi. Buku ini meski ditulis bak novel, tapi bukan fiksi imajiner. Tak pula terjebak pada ambisi memotivasi orang seraya mengutip aneka pernyataan agung —sebagaimana halnya buku-buku psikologi populer yang kini membanjiri pasar.

Justru kita akan menikmati khasanah pemikiran dari segala tokoh, dan pintu masuknya adalah kisah hidup Budiman Sudjatmiko. Ini memang bagian dari karakter sejati penulisnya yang sedari awal sadar bahwa hidup adalah melakukan refleksi-teori-aksi.

Maka tiap peristiwa menjadi kaya makna. Pembaca memperoleh suguhan alternatif, tentang diri Budiman sendiri, atau tentang tokoh-tokoh pejuang lain yang ia kutip. Pun dengan setiap gugatan kritis dari penulisnya, langsung mendapat jawaban memuaskan —-yang berasal bacaan lengkap Budiman yang ia santap sejak usia dini.

Tapi yang benar-benar penting (karena menjadi bagian dari memori kolektif bangsa ini di penghujung keruntuhan mesin politik Orde Baru) adalah realitas sejarah faktual yang dituliskan buku ini. Sang penulis yang pernah menjadi Ketua Umum PRD (Partai Rakyat Demokratik) ini bukan cuma tahu dan menjadi pelaku sejarah, tapi pengubah!

Saripati buku ini ada di situ. Menceritakan tentang rezim yang buas sekaligus menelanjangi pelbagai kelemahannya. Membeber benih-benih perlawanan dari kaum oposisi yang mulai bergerak. Mengupas struktur ekonomi politik saat itu —termasuk peran ABRI, intelejen, dan pasukan elit yang melakukan penculikan terhadap para musuh Negara Orde Baru.

Seraya membubuhkan refleksi individual dari penulisnya sendiri. Kita menjadi mahfum, bagaimana seorang Budiman Sudjatmiko merumuskan garis takdirnya sendiri. Bersedia menentang badai, berkali-kali dipenjara, menjadi buronan, dipermalukan, dan yang membuat hati giris adalah perlakuan rezim terhadap keluarganya. Ayahnya dipecat dari pekerjaan. Kakeknya —-yang sangat ia kagumi, dan menjadi rujukan pencerahan paling awal terhadap dirinya—- meninggal terkena serangan jantung tak lama setelah tampang Budiman bergentayangan di televisi dengan status buronan. Bahkan, orang-orang yang sama sekali tak ada sangkut paut dengan gerakan politik Budiman pun banyak yang jadi korban.

Lebih dari itu, pesan-pesan perjuangan dalam buku ini tak melulu bersikutat dengan tema-tema teoritis dan konseptual. Akan tetapi juga menghadirkan sajian panduan aksi, pembelajaran tentang perjuangan mengorganisasi massa rakyat, teknik-teknik advokasi, strategi penggalangan dukungan, dan ketekunan dalam memperjuangkan perlawanan. Hingga itu, sangat cocok untuk dibaca kalangan aktivis muda saat ini. Budiman Sudjatmiko layak jadi teladan. Dan kita tak selalu mengatakan: politisi muda hanya cocok menghuni KPK

Informasi Detil Buku:

Judul : Anak-Anak Revolusi

Penulis : Budiman Sudjatmiko

Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2013

Tebal : 473 halaman

ISBN : 978-979-22-9943-4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s