Buku Anak Anak Revolusi 2, Budiman Sudjatmiko

anak anak revolusi 2

Resensi Buku Anak-Anak Revlusi 2. Aku tak mau menghadapi era politik baru dengan jadi keledai di Indonesia. Kalimat bertenaga ini menjadi bantal penopang Budiman Sudjatmiko ketika menghadapi tantangan menarik, yakni melanjutkan kuliah di Cambride University, Inggris. Pendek kata, eks Ketua Umum Partai Rakyat Demokrat ini ingin menggenapkan jalan hidupnya sebagai politisi sekuat mungkin. Termasuk dengan melengkapi diri melalui pelbagai khasanah ilmu pengetahuan. Catatan: (petikan kalimat berhurup miring terdapat di halaman 144).

Saripati buku Anak Anak Revolusi (Buku 2), menurut saya, terangkai di bagian itu, seputar perjalanan Iko (nama panggilan Budiman Sudjatmiko) dalam menggenapi proses menjadi. Khalayak akan segera mahfum, bahwa memilih menjadi seorang politisi itu bukan perkara asal-asalan. Melainkan sebentuk garis pilihan tegas, diperjuangkan, dibenturkan dengan realitas, menadah pahit getir, dan tak melulu berpusat pada soal kalah atau menang (menjabat atau tidak menjabat).

Dalam buku setebal 575 halaman ini, potret politik Indonesia di momen-momen penting nan bergejolak serasa hadir dengan ulasan yang pantas. Tak cuma sekedar riwayat pengakuan atau catatan arsip mati. Lebih-lebih, Iko adalah pelaku yang memiliki kecerdasan mencukupi. Rasanya, untuk mereka yang berada di posisi spektrum politik yang berbeda dengan Iko sekalipun (misalnya kalangan aktivis Islam), akan merasa nyaman membaca buku ini. Jangan sampai ada a priori, bahwa Budiman pasti mencaci maki satu pihak, dan menista kelompok lain.

Ada satu petikan yang luwes —dan semoga ini memang benar hadir sebagai kesadaran Budiman sejak dulu, tak lain adalah petikan soal Habibie, Presiden RI di fase awal reformasi. Menurut penulis buku ini, Habibie adalah orang cerdas dan baik, hanya dalam posisi tidak leluasa… Di bagian lain buku ini, tertera pula pengakuan bahwa penulis buku ini sama sekali tak membenci Soeharto secara pribadi. Ia melawan The Smiling General itu (sebutan Pak Harto sebagai jenderal yang selalu tersenyum) karena marah melihat kebebasan jutaan rakyat Indonesia dikekang.

Titik berat terhadap ungkapan-ungkapan personal Budiman Sudjatmiko di buku terasa penting oleh setidaknya tiga hal. Pertama, buku ini rekaman perjalanan pribadi, olehnya karakter personal, nuansa psikologis, dan cita ideal penulisnya menjadi salah satu warna kental di buku ini. Tentu di sini bisa jadi ukuran untuk kita, pantas tidaknya Budiman menjadi harapan bagi lahirnya politik penuh makna di tanah air. Satu contoh tentang karakter personal yang terdapat di buku ini adalah peluang Budiman untuk mendapat bantuan rumah dari Almarhum Taufieq Kiemas, tetapi ditolaknya. Dengan argumen: saya lebih membutuhkan otoritas dari sekedar harta…

Lalu berkutnya, poin kedua, tertuang pula ide-ide politik yang menjadi misi kejuangan Budiman bersama kawan-kawan dan jaringannya. Kelak kita akan memperoleh bukti, sejauh mana konsistensi dalam memperjuangkan gagasan penting mereka untuk bangsa (misalnya untuk mewujudkan kemajuan desa, plus desa berbasis IT, hingga tersedia bank data desa seluruh Indonesia, semacam sibernetika desa). Narasi ini, tercantum di buku ini halaman 346.

Yang ketiga, mungkin ini agak subyektif, tetapi justru bagian yang paling optimis. Budiman hingga hari ini masih memperlihatkan sikap otentik. Dia pernah jadi pendobrak Orde Baru. Lalu menghilang untuk —mengutip istilah Steven R. Covey— mengasah gergaji, dengan cara mematangkan daya intelektualitasnya di kampus-kampus ternama di Eropa.

Dan di Pemilu 2009, etape penting dalam karir politiknya, bisa memenangkan pertarungan politik yang berat, via metode kombinasi antara jaringan dan gagasan. Beliau mendapat bantuan dari kawan-kawan lamanya (di bidang jurnalistik, advokasi, atau sesama aktivis), plus menjual ide tentang Undang Undang Desa (yang hari ini telah disahkan). Gaya politik otentik ini yang sesungguhnya melecutkan sprit bagi kita, kaum muda. Bahwa gagasan, konsistensi, dan basis jaringan bisa menjadi alat kemenangan politik.

Barangkali ada perspektif berbeda dalam menanggapi buku ini —sebagaimana respon publik terhadap buku Anak-Anak Revolusi yang pertama. Para pembaca boleh saja mensejajarkan buku ini dengan karya pustaka lain, ada justru menilai leceh. Misalnya sebuah website yang menilai buku ini tak bermutu karena ditulis oleh seorang Anggota DPR yang berlimpah fasilitas dan kenyamanan.

Akan tetapi beda hal kalau dibenturkan dengan realitas faktual…

Betapa miskinnya contoh tentang figur politisi yang berkutat dalam medan aktivisme sekaligus intelektualisme —seperti penulis buku ini. Jika yang seperti itu hanya ada beberapa, maka lebih sedikit lagi politisi yang konsisten dalam pemikiran dan tindakan, tetapi mampu mewujudkan gagasannya (lewat reproduksi kebijakan publik yang sepadan dengan ide-ide dasar yang diperjuangkan).

Hari ini, hasil Pemilu Legislatif 2014 telah sama-sama kita lihat. Begitu banyak legislator menyandang atribut mewah, mulai dari Master hingga Doktor. Sebagian besar diantaranya juga berusia muda. Tetapi apakah kita pernah mendengar jejak perjuangan faktual mereka sebelumnya? Kecuali informasi bahwa mereka-mereka itu tak lain eks pejabat, atau anak-anak pejabat? Maka kehadiran buku ini layak menjadi penyelamat harapan kita.

Pendek kata, bulir-bulir semangat berpolitik sepenuh-penuhnya tertuang penuh di buku ini. Dari mula pergolakan gagasan, penguatan ilmu, pencarian jejaring, hingga proyeksi politik penulisnya (diantaranya tentang perjuangan membangkitkan kemajuan desa di tanah air).

Kritik Buku

Sebagai sebuah mozaik peristiwa, buku ini memang agak melompat-lompat. Bagi pembaca yang tidak tekun akan kesulitan menarik benang merah. Satu bagian yang sepertinya lepas begitu saja, adalah cerita seputar perjuangan ideologi sosialisme demokratis dan beberapa kemenangan mutakhir ideologi tersebut di Amerika Latin. Sayang penulis buku ini hanya mengguratkan catatan-catatan singkat, tentang pengelanaan, perjumpaan dramatis, dan diskusi pribadi dengan para tokoh besar di Amerika Latin. Akan lebih kencang lagi bobot pengalaman personal penulis buku ini jika saja membuat garis pertautan antara pengalaman Amerika Latin dengan Indonesia. Semisal saja tentang persamaan sejarah, kondisi sosial budaya, tantangan, jejak perjuangan, peluang, dan model desain politik yang bisa diwujudkan.

Informasi Detil Buku,

Judul : Anak Anak Revolusi (Buku 2)

Penulis : Budiman Sudjatmiko

Tebal : 574 halaman

Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2014

ISBN : 978-602-03-0277-5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s