Buku Tentang Nelson Mandela

Dunia membutuhkan banyak pahlawan, tetapi hanya tersedia segelintir.

Nelson Mandela adalah barangkali pahlawan paling murni yang kita miliki…

Richard Stangler, dalam buku The Mandelas Way…

Gambar 

Di Afrika Selatan berlaku prinsip Ubuntu, yang artinya adalah kemanusiaan kepada sesama. Halaman paling awal buku ini, The Mandelas Way, ditulis oleh Richard Stengel, dan di Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Grup Erlangga (Jakarta, 2010), menyebut Ubuntu sebagai berikut: Bahwa jika kita ingin mengerjakan sesuatu di dunia ini, hal itu akan tercapai berkat adanya jasa orang lain (di Halaman Pengantar).

Istilah Ubuntu kini mendunia, lantaran dijadikan nama salah satu program aplikasi (perangkat lunak) bebas di dunia komputer, yang disponsori oleh Linux.

Mandela, menurut buku ini, adalah arketip nan sempurna bagi manusia yang memegang teguh prinsip hebat ini. Di matanya, semua manusia adalah baik —sejahat apapun itu.

Ada beberapa kisah populer tentang pemenang Nobel Perdamaian ini. Serentetan contoh itu sungguh menggeletarkan buhul kesadaran kita. Nelson Mandela, adalah orang yang sanggup memutus mata rantai kebencian di Afrika Selatan.

Rakyat Afrika pernah berada di titik nadir. Sangat dekat untuk jatuh pada kolam genangan darah, yakni perang bersaudara yang berkobar dengan dedam kesumat. Terutama yang bergemuruh di dada kaum kulit hitam terhadap kaum kulit putih —yang menindas mereka puluhan tahun. Cukup satu perintah dari jari telunjuk saja dari Nelson Mandela, jika ingin meletupkan perang, jutaan rakyat bersiap di belakangnya. Tapi ia bertindak berbeda: menyerukan perintah maafkan dan lupakan.

Tapi kalau cuma itu, bukankah banyak tokoh lain yang sanggup melakukan?

Lihat ini. Manusia beradab pasti tak sanggup menahan buliran air mata. Tatkala membaca bahwa Nelson Mandela tak hanya memaafkan orang-orang yang aniaya, mendholimi dirinya ketika ia dipenjara oleh rezim apartheid. Salah seorang sipir penjara yang paling kejam, kerap memperlakukannya bak hewan. Menghina. Menyiksa. Meludahi. Menelanjangi. Melukai. Tapi apa yang dilakukan sang pembebas Afrika Selatan itu terhadap si sipir tatkala ia bebas dan jadi presiden?

Mandela tak hanya memaafkan sang sipir penyiksa. Melainkan menyekolahkan dan memberi beasiswa bagi anak si sipir…

Dunia hari ini menekuk leher. Duka mendalam sangat terasa di mana-mana. Sesuatu yang pantas belaka. Dalam buku ini, ada kalimat yang nyaris provokatif. Bahwa: Dunia membutuhkan banyak pahlawan, tetapi hanya tersedia segelintir. Nelson Mandela adalah barangkali pahlawan paling murni yang kita miliki (Halaman 5).

Barangkali pelajaran terpenting dari sosok Mandela justru dari sisi itu, memutus mata rantai kebencian. Semua agama, saya kira, baik Islam, Nasrani, Yahudi, Budha, Hindu, Jeroaster, Konghucu, atau yang lainnya, pasti punya dalil yang membenarkan tindakan ini. Dalam Nasrani misalnya, bukankah ada perintah Yesus untuk memberikan pipi kanan jika pipi kirimu ditampar orang lain? Ini ajaran yang dalam pemahaman saya adalah perintah yang kuat dan menekan, agar kita sanggup memutus dendam dan saling balas.

Dalam Islam pun, bisa ditemukan kisah yang paralel dengan pentingnya memupus dendam. Menurut Martin Ling, dalam buku Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, menyebut peristiwa tragik, tatkala Hindun mencabik dada Hamzah (paman Nabi), lalu memakan jantung pahlawan Islam itu mentah-mentah. Dari perspektif manusia normal, siapapun boleh menggelegak muntab melihat tindakan keji ini. Tapi Muhammad diingatkan oleh Allah, melalui sebuah wahyu, yang memerintahkan yang memerintahkan keharusan bertindak adil terhadap musuh…

Kembali ke buku ini. Memang tak ada uraian perjalanan hidup sang tokoh secara runut. Melainkan petikan kejadian-kejadian khusus yang dialami oleh penulis (Richard Stangler) dengan nara sumbernya (Nelson Mandela sendiri). Tapi justru di sini kekuatannya. Buku ini bebas dari beban harus meracik kata-kata dahsyat disertai khutbah ayat suci. Melainkan berbasis peristiwa.

Olehnya, kita bebas menikmati isi buku dari bagian mana saja. Sebagai gambaran, buku setebal 265 halaman ini berisi 16 cerita. Semuanya tuntas membeber soal di mana, dengan siapa, sedang apa, dan mengapa Mandela harus mengatakan A atau menolak melakukan B. Harap maklum jika kemudian kita sulit melepas buku ini begitu menyimak halaman pilihan. Lantaran si penulisnya sendiri adalah penulis Biografi Nelson Mandela yang paling tersohor, yang berjudul Long Walk To Freedom (sudah difilmkan dengan judul sama, dipasarkan 29 November 2013).

Berikut detil isi buku per bagian: (1) Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut; (2) Penuh pertimbangan; (3) Pimpin dari depan; (4) Pimpin dari belakang; (5) Sesuaikan penampilan; (6) Miliki prinsip inti, selebihnya adalah taktik; (7) Lihat sisi baik orang lain; (8) Kenali musuhmu; (9) Tetap dekat dengan rivalmu; (10) Tahu kapan mengatakan tidak; (11) Permainan yang panjang; (12) Cinta membuat perbedaan; (13) Berhenti adalah memimpin juga; (14) Selalu keduanya; (15) Temukan kebunmu sendiri; dan (16) Hadiah dari mandela.

Jika disisir satu persatu, maka bolehlah buku ini disebut sebagai buku (super) motivasi. Bukankah beberapa bagian yang diungkapkan adalah dekat dengan realitas kehidupan kita? Bagian pertama misalnya, yang berjudul Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, persis menggambarkan gejolak kehidupan kita sehari-hari.

Mandela mendefinisikan keberanian (melawan rasa takut) dengan cara simpel. Keberanian, menurutnya, bukan obat mujarab yang tiba-tiba hadir, atau bisa dipelajari secara konvensional (misalnya melalui buku atau nasehat para guru). Keberanian terletak pada cara kita membuat respon terhadap sesuatu.

Formula ini bisa saja disebut teori. Tapi Mandela melewati puluhan momen dramatik yang membuat siapapun akan ketakutan (dan Mandela sendiri mengakui, ia pun kerap merasa takut). Betapa sering ia diintimidasi, diteror, disiksa, diberi kabar palsu, dan lain sebagainya. Simak: Mandela merasa takut ketika pengadilan Rivona memvonisnya penjara seumur hidup; dia merasa takut ketika kepala penjara mengancam memukulinya sampai mati; dia merasa takut ketika menjadi buronan penjara bawah tanah, tetapi… dia memutuskan untuk tidak terlihat goyah (halaman 33).

Aspek lain yang membetot selera baca, tak lain dari tradisi para penulis Barat yang tak pernah menjilat (beda 100% dengan penulis Biografi Politik di Tanah Air, yang penuh mazmur pujian).

Terdapat satu bagian khusus di buku ini yang menceritakan The Dark Sides of Mandela (sisi gelap Mandela). Tokoh yang mendunia ini, ketika muda adalah pemberang, penuh kebencian, dan tak sabar. Tapi penjara 27 tahun pelan-pelan memperlunak sisi tak baik itu. Meski, tentu ada beberapa karakter lain yang kontroversial dari Mandela.

Ia, misalnya, sangat hemat —mendekati pelit— dalam soal uang. Beliau adalah orang yang sangat peka, tetapi sekaligus bisa mengabaikan orang-orang terdekatnya (bukankah ada contoh perceraian dua kali yang ia alami dengan para isterinya). Dia nyaris seorang yang sangat keras kepala (misalnya, Mandela menganggap keterlambatan waktu yang dilakukan orang lain sebagai cacat karakter). Pungkas cerita: Mandela memang bukan malaikat. Selamat Jalan Nelson Rolihlahla Mandela…

Info Detil Buku:

Judul Buku: Mandela’s Way
Penulis: Richard Stengel
Tebal: 265 halaman
Penerbit: Esensi, Erlangga Grup, Jakarta, 2010
ISBN: 61-12-292-0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s