Buku Tentang Perjuangan Tangerang Barat

Garis perjuangan membentuk Daerah Otonom Baru (DOB) Kabupaten Tangerang Barat memiliki karakteristik khas. Tak seperti daerah lain, yang penuh gejolak dan “berdarah-darah”. Jauh pula dari metode tekanan politik dan parade demonstratif. Ciri khas gerakan politik membentuk Kabupaten Tangerang Barat, justru berpijak pada argumentasi.

Berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, gerakan politik menuntut pemekaran daerah, selalu diwarnai oleh kekerasan politik —dalam berbagai bentuk. Mulai dari mengusung isu etnik, agama, dan kesukuan, hingga kepada provokasi perebutan “lahan ekonomi” (seperti konflik perebutan wilayah pertambangan, atau bancakan sumber daya alam).

Tetapi untuk konteks Tangerang Barat, dua “isu panas” itu sama sekali tak hadir. Tak ada lahan tambang yang diperebutkan, dan tak ada pula isu SARA yang dihembuskan. Tak berlebihan, bila akar tunjang gerakan politik membentuk Kabupaten Tangerang Barat berpijak pada politik rasional (memiliki bobot argumentasi dan kajian akademik).

Sejumlah pasal bisa diajukan, sebagai pilar argumentasi. Diantaranya adalah: (1) latar sejarah di Tangerang Barat; (2) iklim pendidikan yang kuat; (3) posisi geopolitik; (4) pertumbuhan ekonomi; (5) daya dukung sumber daya alam plus sumber daya manusia; dan (6) dinamika populasi serta demografi.

Dan buku ini, yang berjudul Menuju Tangerang Barat Termajukan! meramu semua argumentasi nalar tentang semua itu. Membeber catatan historis yang berserak di Tangerang Barat, mengajukan rangkaian potensi dan kekuatan di Tangerang Barat, hingga kepada alasan-alasan pendukung lainnya (semacam isu pendidikan, dukungan sumber daya manusia, hingga kepada analisis budaya). Singkat kata, inilah dokumen faktual yang pertama tentang Tangerang Barat (terdiri dari kecamatan Balaraja, Sukamulya, Gunung Kaler, Kresek, Mekar Baru, Jayanti, Solear, dan Cisoka).

Jejak Sejarah
Salah satu bab dalam buku ini secara khusus melakukan penjelajahan panjang tentang salah satu kecamatan di Tangerang Barat, yaitu Kecamatan Balaraja. Menurut penulis di bab sejarah ini, yaitu Supiyatna (seorang praktisi pendidikan dan PNS di Departemen Agama), Balaraja menyimpan banyak rekaman sejarah penting. Ditarik ke garis terjauh, Balaraja adalah bale (tempat singgah) para raja (penguasa zaman dulu). Bukti-bukti tentang hal ini, tertuang, misalnya dengan penamaan salah satu desa di sekitar situ, yaitu Talagasari (dari kata Talaga, artinya kolam, dan sari, artinya wangi, yang menjadi tempat istirahat raja dan keluarga).

Peninggalan berharga lain yang berserak di Balaraja dan sekitarnya berkaitan dengan etape perjuangan, baik di bidang ke-agama-an (dakwah), maupun perang kemerdekaan. Menurut buku ini, sejumlah tokoh penting yang terlibat dalam dunia dakwah dan perjuangan kemerdekaan, berasal dari Balaraja, dan (atau) pernah menetap di Balaraja. Sejumlah situs sejarah (seperti makam dan patung), menunjukan adanya bukti-bukti tokoh besar yang berjasa dalam perjuangan di Balaraja —dan berdampak ke daerah lain. Satu hal lagi: pada awalnya, di Balaraja pula sentra administrasi dan pemerintahan era kolonial hingga masa Orde Baru terdapat. Bisa dilihat dari dijadikannya Balaraja sebagai salah satu kewedanaan di Kabupaten Tangerang.

Unggul Pendidiikan
Sisi lain buku ini juga mengurai tuntas skenario dan keunggulan faktual yang terdapat di Tangerang Barat. Sejumlah tokoh penting menyebutkan bahwa sektor unggulan di Tangerang Barat adalah bidang pendidikan. Argumentasi ini berpijak pada kenyataan bahwa di Tangerang Barat terdapat lembaga-lembaga pendidikan terbaik —jauh melebih tempat lain, bahkan untuk ukuran se-Kabupaten Tangerang. Begitu juga dengan tokoh-tokoh pendidikan dan praktisi pendidikan, rata-rata berasal dari Tangerang Barat.

Belum lagi bila menghitung sumber daya manusia yang terdidik, yang juga terdapat di daerah ini.

Nalar argumentatif tentang sumber daya manusia yang terdidik ini, bisa dilihat dari rumusan gagasan yang mendukung Tangerang Barat. Tidak melulu pada pemikiran politis dan adu kekuatan. Melainkan pada rancang bangun pemikiran yang matang dan sistematis.

Salah satunya: tulisan dari Isbandi Ardiwinata, tokoh muda di Tangerang Barat. Isbandi, yang juga Ketua TP2D (Tim Percepatan Pemekaran Daerah Tangerang Barat) mengajukan skema tata kelola pemerintahan untuk Tangerang Barat. Dalam buku ini, Isbandi mengurai tuntas aspek-aspek tata kelola pemerintahan, termasuk gagasan untuk menerapkan e-government di Tangerang Barat.

Multi Ide
Bagian lain buku ini, tak pelak menebalkan informasi tentang peluang dan kemungkinan pewujudan Kabupaten Tangerang Barat. Dengan adanya tulisan (artikel) yang bertema budaya, ke-Islam-an dan juga testimoni (dukungan tertulis dari para tokoh di Tangerang Barat). Beberapa judul tulisan itu adalah: (1) Spirit ke-Islam-an untuk Aktivis Tangerang Barat, ditulis Endi Biaro, dan (2) Karakter Budaya dan Sosial di Tangerang Barat, oleh Subandi Musbah.

Dari semua itu, layaklah buku ini menjadi rekaman intelektual yang strategis, guna memasok energi perjuangan menuju Kabuapten Tangerang Barat.

Informasi Detil Buku:
Judul Buku : Menuju Tangerang Barat Termajukan!
Penulis : Isbandi Ardiwinata, Endi Biaro, et.al
Penerbit : Sastra Publishing, Tangerang, Januari 2012
Tebal : 70 halaman plus foto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s