Buku Tentang Isteri Tegar Bung Karno

Cover Buku Kuantar ke Gerbang

Bung Karno (dan Inggit Garnasih). Ksatria tampan dan (gadis ayu dari Bumi Priangan). Singa podium penghipnotis massa (dan sosok pendiam tapi tabah).

Tuhan seperti mempertemukan dua arus besar: satu bergolak tak pernah berhenti, satu tenang tetapi dalam. Soekarno, atau Kusno, atau Bung Karno, adalah maha gelora laki-laki muda yang bergemuruh. Tetapi melabuh reda di pelukan Inggit Garnasih, —perempuan tenang, tabah, tetapi menaklukkan. Setidaknya menaklukan Bung Karno ketika tokoh proklamator itu berada dalam guncangan. Ingat, waktu itu beliau berada dalam fase maha berat, dipenjara, diasingkan, difitnah, dan berbagai bentuk tekanan lainnya.

Kisah mengalun dengan merdu —pada awal buku, tentu saja. Tentang bagaimana Kusno (panggilan Soekarno saat itu) terpikat dengan Inggit Garnasih. Padahal, sang puspa yang diincarnya itu masih berstatus isteri orang, yaitu Sanusi. Sebelum dengan Sanusi (yang oleh Inggit dipanggil Kang Uci), Inggit pun pernah pula menikah sebelumnya. Di pihak Putera Sang Fajar sekalipun tak jauh beda, berposisi sebagai isteri dari Utari Tjokroaminoto (puteri dari tokoh S.I, H.O.S Tjokroaminoto).

Sudahlah, namanya juga cinta!

Namun beda benar bila konteks kita giring kepada sisi terdalam dari dua “sejoli” yang sama-sama punya pendamping itu. Bung Karno, menurut penuturan dirinya sendiri, atau terlihat faktual di mata Inggit, adalah “suami yang gelisah”. Sedangkan Inggit, adalah isteri yang “tak menentu”.

Status Bung Karno memang suami dari Utari, tetapi pendampingnya itu masih (terlampau) anak-anak, baik dari sisi fisik-biologis, maupun perilaku (psikologis). Padahal senyatanya si Bung butuh perempuan yang sanggup menjadi isteri yang melayani, kawan bercakap, sekaligus menjadi tempatnya bermanja —setelah lelah berjuang di era pergerakan. Di sisi yang berseberangan, Inggit malah berbeda. Ia sangat ingin melayani suaminya saat itu (yaitu Kang Sanusi). Sayangnya, sang suami malah sering ke luar dan sibuk dengan usahanya. Meski beda “tuntutan” namun dua manusia bernama Soekarno dan Inggit Garnasih ini akhirnya bertemu juga. Pertemuan yang menghanyutkan… Seperti pengakuan Inggit, di halaman 33:

Ia (maksudnya Soekarno) merayuku lagi. Dan akupun peka. Setan apa yang telah menyeret kami sehingga kami lupa diri dan menikmati kehidupan ini, dihanyut ke lautan asmara tanpa akal sedikitpun…

Sepenuh Cinta

Terlalu jika mencerna makna cinta dari Inggit dengan romantisasi klise nan mendayu. Sebab yang diperlihatkannya adalah menadah derita, melesakkan ketabahan, dan memancang daya juang tak kunjung surut. Meski jauh dari memori publik Indonesia (buku ini tak menjadi bacaan paling popular tentang sosok Bung Karno), bukan berarti jasa dan pengabdian perempuan kelahiran Bandung itu adalah sepele.

Kita bisa melihatnya dari sisi ketulusan. Misalnya ketika Bung Karno dipenjara di Sukamiskin, Ibu Inggit tetap setia berkunjung saban hari. Meski uang sedikit, malah kadang tak ada sama sekali, ia tetap setia menjenguk suami terkasih. Pernah, dalam suatu hari, dalam keadaan tak punya uang, ia harus berjalan kaki yang cukup jauh. Malangnya, dalam perjalanan, ia ditimpa hujan lebat… Tak ada keluhan tentang itu.

Kalau cuma sebegitu, mungkin kaum hawa yang lain masih sanggup. Tapi Inggit lebih dari itu. Ia bukan tipikal perempuan (maaf) cengeng. Dalam suasana prihatin, karena secara ekonomi mereka hidup pas-pasan saja, dan Bung Karno belum punya penghasilan tetap, seringkali mereka kesulitan. Inggit tampil sebagai pencari nafkah. Di sini, sosok tegar Inggit nampak berperan besar. Ia menjadi sangat kreatif. Apapun dilakukan. Mulai dari membuat pupur bedak (dan menjualnya langsung), menjahit pakaian, merangkai bunga, membuat jamu, hingga mengobati orang sakit (dengan membaca Al Qur’an). Simak penuturannya, di halaman 58:

Di samping itu, ada yang membeli bedak, ada yang membeli jamu buatanku. Malahan ada yang meminta tolong karena ada yang sakit di rumahnya. Aku menolong sebisa-bisanya. Apakah aku sudah disebut dukun?

Ataupun penuturan di bagaian lain buku ini, yaitu halaman 148:

Aku terima menjadi agen sabun cuci. Aku membuat rokok dan menjualnya dengan merk Ratna Djuami (anak angkat Inggit dan Bung Karno). Aku menjadi agen penjual cangkul dan parang…

Saksi Kunci

Tak lengkap tanpa memapar kedudukan Inggit sebagai penyaksi dan penjelas atas rentetan fitnah kejam serta provokasi kontra Bung Karno. Maklumlah, meski masih muda, Bung Karno telah menjadi pujaan rakyat banyak. Tak sedikit yang iri, atau sekedar curiga dan ingin menghentikan langkah politik Soekarno.

Paling tidak ada dua hal yang —bahkan hingga kini— menjadi pertanyaan tentang kiprah Bung Karno di masa awal perjuangannya. Pertama, tentang orisinalitas ramuan pikir dan ideologi utama yang digaungkan Soekarno, yang ia kunci dalam satu istilah, yaitu Marhaenisme. Maksudnya tak lain adalah ideologi asli Indonesia, yang diambil dari nama seorang petani di Desa Cibintinu, Bandung.Marhaen ini adalah orang yang mempunyai alat, orang kecil dengan modal kecil, dengan peralatan kecil, dan penghasilan kecil. Tipe petani seperti inilah yang menjadi khas di Indonesia. Menurut Inggit, di halaman 59 di buku ini:

Pada suatu sore, Kusno-ku pulang ke rumah dengan girang sekali. Ia bercerita telah bertemu seorang petani bernama Marhaen. Itulah penemuannya, Marhaenisme!

Pengakuan ini bisa mematahkan keraguan banyak orang, bahwa Soekarno hanya berimajinasi saja tentang orang yang bernama Marhaen (karena agak jarang orang Sunda bernama seperti itu).

Kedua, Ibu Inggit juga menjadi saksi dan pembela utama atas cibiran banyak pihak, bahwa Bung Karno pernah merengek ke penguasa Kolonial, agar diberi ampun dan dibebaskan dari penjara. Padahal, isu ini mutlak rekayasa Kumpeni. Tak sedikit kalangan pejuang kemerdekaan yang termakan, termasuk Bung Hatta, yang menulis dengan pedas di Koran-koran, bahwa Bung Karno telah menyerah dan lenyap dari garis perjuangan. Sontak kabar itu membuat panas Inggit, lebih-lebih ia dituduh sebagai sosok yang membuat Bung Karno lemah. Dengan ketabahan luar biasa, isu ini ia pendam, agar tak membebani suaminya. Lalu kebenaran datang, tatkala utusan Belanda datang membujuk, agar Inggit merayu suaminya dan membuat pernyataan memohon ampun dan menyerah. Tapi, skenario busuk itu patah di tangan Inggit.

Episode Giris

Terakhir, buku atau novel ini pun sekaligus meruntuhkan kesan bahwa Inggit sekedar perempuan yang hanya bisa memanjakan Bung Karno. Senyatanya, perempuan ini juga punya kecerdasan lebih. Terbukti, ketika Bung Karno di dalam penjara dan berada dalam pengawasan ketat, Inggit lah yang sanggup mengirim pesan-pesan rahasia. Via metode manipulasi canggih, yaitu menorehkan tusukan jarum ke lembaran kertas Al Qur-an, agar bisa diraba dan difahami maksudnya oleh Soekarno.

Resensi ini pungkas dengan sedikit pembelaan: tak layak melihat Inggit semata secuil bagian dari perjalanan hidup Bung Karno. Karena sejatinya, perempuan inilah yang paling berjasa sekaligus paling menderita. Adakah isteri Bung Karno yang sebesar itu pengabdiannya? Sekaligus ditinggal pergi persis di masa keemasan Bung Karno?

Informasi Detil Buku

Judul : Kuantar ke Gerbang,

Kisah Cinta Ibu Inggit Dengan Bung Karno

Penulis : Ramadhan K.H.

Penerbit : Bentang, Jakarta, 2011 (terbit pertama kali, tahun 1981)

Tebal : 431 halaman (plus foto)

ISBN : 978-602-8811-32-2

One thought on “Buku Tentang Isteri Tegar Bung Karno

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s