Buku Tentang Pendar Islam di Eropa

Thariq Bin Ziyad membakar semua Armada Perang yang mengangkut logistik seluruh pasukannya, di bibir pantai Selat Gibraltar (laut Mediterania), persis di periode awal penaklukan Eropa oleh balatentara Islam.

Namun jauh dari amuk dan kalap semodel Kaisar Nero yang membakar Kota Roma —-sebagai pelampiasan amarah, Sang Legenda Panglima Perang Islam itu justru sedang memancang strategi ulung. Api masih bergulung-gulung, ketika Thariq bin Jiyad berpidato di hadapan pasuakannya yang terlongong-longong karena bingung…

Lihatlah, sekarang kapal sudah hangus. Tak ada pilihan untuk lari dan pulang. Hanya ada satu cara… rebut dan menangkan perang yang ada dihadapan kalian!!!

Sebegitu dramatis. Tetapi banyak catatan historis yang membenarkan aksi nekat tapi brilian ini. Terutama di sekitar proses penalukan Spanyol oleh pasukan Muslim —meski tentu pula ada varian versi lain. Saripati yang bisa diserap adalah: Islam datang dengan komitmen. Atau seperti istilah dari Hugh Kennedy,  dalam buku The Great Arab Conquest, bahwa kemenangan telak prajurit Islam kala itu bukan karena keunggulan teknologi ataupun jumlah armada perang, melainkan keuatan visi —yang kita sebut hari ini sebagai semangat dawah.

Berbalik punggung dengan tujuh abad setelahnya, ketika Kekhalifahan Islam dipukul mundur oleh Ferdinand dan Issabelle (duo raja dan ratu Spanyol), dan kemudian diratapi mendalam oleh Umat Islam hingga kini. Kekhalifahan saat itu memang despotik, korup, dan hanya tahu pesta pora. Mereka —mengutip Ibnu Khaldun— memasuki tahap dekaden. Tinggal menunggu keruntuhan.

Kegelapan lalu menggantung. Islam di Eropa meredup. Dihajar oleh misi pembersihan (nyaris bisa dibilang sebagai Vendetta, balas dendam yang sadis).

Misalnya melalui praktek reconquista (penaklukan kembali) dan inkuisisi (pembersihan dari orang-orang Muslim). Kejayaan Islam, pada akhirnya, hanya tersisa sebagai artefak (benda-benda seni). Meninggalkan jejak sosiofak (warisan sosial dan jejak kultural yang masih ada). Serta maintifak (hasil pemikiran para cendekiawan Islam saat itu). Seperti dari Avicena (Ibnu Sina), Averros (Ibnu Rusyd), dan lain-lain sahaja.

Berabad-abad kemudian, “wajah” Eropa sangat berubah. Mereka kini menjadi episentrum budaya. Membuncahkan magma peradaban nan mempesonakan. Seraya —nyaris— tak meninggalkan jejak Islam sama sekali. Kecuali oleh mereka-mereka yang memiliki ketekunan khusus. Melalu studi mendalam tentang “kontribusi” Islam di Eropa. Pihak lain, ada pula yang melakuan over romantisasi atas “jasa-jasa” Islam di sejumlah Negara maju tersebut. Apapun, it’s ok! Namun kita butuh kecerdasan memilih. Agar memiliki khasanah yang kaya dan perspektif yang penuh hikmah, atas sejarah Islam di Eropa itu.

Salah satu alternatif rujukan terbaik, menurut saya, tersimpan di buku karangan Hanum Salsabila Rais (puteri Amien Rais) ini, yang berjudul: 99 Cahaya di Langit Eropa ini (diterbitan Gramedia, Jakarta, 2011). Hanum Rais mengolah itu dalam bentuk novel perjalanan. Sejarah, di buku atau novel ini, tidak menjadi teks membosankan. Melainkan hidup lewat penulisan yang penuh emosi. Disertai selaksa peristiwa yang penuh kesan.

Contohnya?

Mari mulai dari catatan unik, seputar temuan yang dicatat buku ini tentang Islam itu ada di Jantung Eropa hari ini. Semisal dari benda-benda seni di museum Louvre, Paris, Perancis. Di situ berserak jejak Islam dalam rupa-rupa karya, mulai dari lukisan, arsitektur, tembikar, atau bahan patung). Juga dari lanskap Kota Paris yang dibangun oleh Napoleon Bonaparte. Masih ada yang lain: seputar konflik cultural yang dialami oleh orang-orang Islam di Eropa hari ini, termasuk oleh suami Hanum Rais sendiri, yaitu Rangga Almahendra, yang mengejar studi doktoral di sana. Oh, ya, masih ada. Cukup mengagetkan juga sebenarnya, bahwa ada sebuah Masjid di Perancis, yang pernah menjadi bunker perlindungan bagi kaum Yahudi dari pembantaian Nazi Jerman.

Perinciannya?

Di dalam museum Louvre —yang juga menjadi latar novel Dan Brown, Da Vinci Code, terdapat bukti-bukti itu. Buku ini menyebut, misalnya, bola dunia (celestial sphere) dari Yunus Ibn Husayn Asturalbi, sebagai karya Astronomi Eropa di Abad 12 (lihat halaman 150). Juga tentang teknologi optic (lensa), yang ditemukan oleh para intelektual Islam era lalu.

Jika itu kurang menarik, ada yang ini… Beberapa barang tembikar (piring kuno), koleksi museum itu, juga menjadi penanda bahwa Islam menjadi kiblat budaya Eropa zaman baheula (dulu). Benda-benda bersejarah itu, mengguratkan pesan-pesan khas Islam, melalui kaligrafi dari hurup Kufic (Arab kuno). Dengan kalimat berisi hikmah, seperti berikut ini: Ilmu pengetahuan itu pahit pada awalnya, tetapi manis melebih madu di kemudian hari (halaman 155).

Berlanjut ke temuan lain. Bak Robert Langdong (pakar Simbologi, tokoh imajiner dalam novel-novel karya Dan Brown yang berhasil memecah kode rahasia dalam sejumlah karya seni), penulis buku ini menemuan bahwa di balik lukisan Madame The Rock, atau Lukisan Bunda Maria Perawan, ternyata mencantumkan kode Islam. Tak lain pada jurai tepi kerudung pada lukisan Bunda Maria. Di situ tertera hurup psudeo kufic (seperti Arab Kuno), dengan lafaz: La Illa ha Illallah…

Rupanya, di luar museum tersohor sedunia itu, jejak Islam juga bertapak. Tak lain pada desain lanskap Kota Paris itu sendiri, yang jika ditarik garis imajiner yang lurus, justru mengarah ke Kota Mekah. Penjelasannya: koridor jalan Champ D Elysees hingga ke Triomphe de l Etoile, berisi berbagai bangunan bersejarah dan penting, di bangun oleh Napoleon Bonaparte, di ruas ini disebut dengan Voie Triomphale atau jalan ke menangan, yang arahnya justru mengarah ke Ka’bah.

Sejatinya, bukan hal-hal ini yang jadi kekuatan utama buku ini. Melainkan pada betapa bijaksana penulisnya membuat justifikasi. Dia, Hanum Rais, tidak menggelegakkan romantisme Islam berlebihan. Melainkan biasa saja. Bahwa bisa jadi itu semua adalah kebetulan. Atau, paling tidak terjadi karena memang pesona Islam pernah menjadi anutan di Eropa, hingga wajar saja orang Eropa saat itu condong kepada budaya-budaya Islam (sebagaimana kini orang Islam Indonesia yang kebarat-baratan, tanpa harus menjadi Kristen, misalnya).

Tambahan lain, buku atau novel ini juga begitu humanis, pro terhadap nilai-nilai kebaikan manusia. Misalnya ketika Hanum dan kawan muslimnya yang dari Turki, bernama Fatma, mendapat ejekan menyakitan dari para bule, justru mereka membalasnya dengan menawan. Dengan membayari (mentraktir) biaya jajan orang-orang yang menghina itu. Nah…

Informasi Detil Buku:

Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapa Jejak Islam di Eropa

Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2011

Tebal: 392 halaman plus foto

ISBN: 978-979-22-7274-1

4 thoughts on “Buku Tentang Pendar Islam di Eropa

  1. saya pengen beli buku ini …kehabisan (di toko habis dan duit juga menjelang habis) hahaha reviewnya keren mas…bahasanya itu loh khas dan bernas kek berita : lanjott dah

    • Iya, kawan saya juga katanya sudah nyari di toko buku tak dapet. Akhirnya, saya kasih aja koleksi punya saya untuk dia. Jadi, saya juga udah nggak megang,he..he..he.. terima kasih sudah berkunjung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s