Buku Tentang Tantangan MDGs

Cover Buku MDGs

Kemiskinan adalah hukuman atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Hukuman itu datang datang dari kemaruk orang-orang kaya. Karena sama sekali, bukan orang miskin yang membabat hutan sampai gundul, menguras energi habis-habisan; memproduksi sampah sebesar gunung; melahirkan polusi nan pekat; dan melahap dana publik tanpa ampun…

Tapi di garis terdepan yang menadah aneka akibat mengerikan dari semua itu, selalu saja orang miskin. Karena mereka tinggal dan hidup di wilayah rentan bencana. Dan kerap tidak berdaya menghadapi aneka kerusakan (lingkungan) ataupun disharmoni sosial.

Beberapa riset juga menunjukkan, bahwa orang miskin juga membayar lebih mahal harga beli sesuatu tinimbang orang kaya. Contoh untuk ini, salah satunya, adalah air bersih. Mereka antre mengular untuk segalon air bersih —dan membawa dengan jarak yang cukup jauh. Ongkos beli dan pengangkutan jelas tinggi. Sementara orang kaya bahkan memandikan koleksi mobil mewah, mengganti isi kolam renang, atau sekedar menyirami taman, dengan air bersih yang biaya bayarnya lebih rendah. Pun dalam soal penggunaan energi. Subsidi untuk orang miskin, lebih banyak disedot oleh orang kaya —dalam hal pemakaian BBM, misalnya.

Potret inilah yang melahirkan apa yang disebut dengan kemiskinan ekstrim. Sebuah kondisi fatal. Diwarrnai kelaparan massif dan epidemi penyakit —juga ketertutupan akses ekonomi. Secara struktural, mereka dipinggirkan oleh pemerintah, oleh hukum, oleh para pemodal. Daya juang dan potensi kebangkitan kaum dhuafa ini digunting habis oleh aktor-aktor yang barusan disebut. Mereka seperti kaum paria dalam sistem kasta Hindu —golongan najis tak tersentuh.

Proses ini berlangsung sekian lama. Hingga membuka mata dunia, dan melahirkan aneka upaya penanggulangan. Salah satu yang paling menonjol adalah: Millenium Development Goals atau biasa disebut MDGs. MDGs adalah sebuah komitmen global (via PBB) yang lahir tahun 2010 di New York untuk mengatasi berbagai isu penting, dan ditargetkan tercapai pada 2015. Beberapa isu pokok, yang disebutkan oleh Sekjen PBB, Ban Ki Moon, adalah: (1) mengakhiri kemiskinan dan kelaparan; (2) pendidikan universal; (3) kesetaraan gender; (4) kesehatan anak; (5) kesehatan ibu yang hamil; (6) penanggulangan HIV/AIDS; (7) keberlanjutan lingkungan; dan (8) kemitraan global.

Kini, waktu tersisa hanya tiga tahun lebih. Sanggupkah kita mengatai horor kelaparan ekstrem di tanah air? Atau melulu bersikutat pada angka pertumbuhan ekonomi yang mengasyikan tapi tak bermanfaat di rakyat bawah? Atau hanya menjadikan agenda MDGs sebagai retorika politik, dan kemudian abai pada sejumlah fakta bahwa hari ini ada tiga hal yang nyata-nyata gagal teratasi?

Buku ini hadir sebagai pengingatan keras. Juga membeber fakta-fakta ilmiah akademik bahwa Indonesia terancam gagal dalam memenuhi target MDGs. Buku berjudul lengkap MDGs Sebentar Lagi, Sanggupkah Kita Menghapus Kemiskinan di Dunia, ini lahir dari tangan-tangan yang memiliki kompetensi tinggi —di bidang masing-masing. Mereka adalah para Alumni ITB Angkatan 1975, rata-rata adalah Profesor dan Guru Besar, yang mengurai aneka problem kemiskinan di Indonesia. Telaah yang kaya ini hadir dengan beragam aspek. Mulai dari masalah pendidikan, isu gender, penggunaan teknologi ramah lingkungan, pemberdayaan ekonomi rakyat, pemanfaatan sampah, hingga ke soal bioteknologi.

Setiap bab yang ditulis punya bobot tersendiri. Namun ada beberapa yang mengungkap fakta menarik seraya menggugah kesadaran kita —tentang lemahnya komitmen dalam pencapaian MDGs.

Misalnya bagian yang membahas masalah posisi Indonesia yang sangat rentan dalam mengatasi kemiskinan. Tersebutlah beberapa laporan dari lembaga internasional (seperti ADB dan UNDP) yang menyebut tingkat kerentanan Indonesia yang mengkhawatirkan (lihat halaman xvii), setara dengan posisi dari negara-negara terbelakang lain, seperti Nepal, Bangladesh, Papua Nugini, dan Filipina. Anehnya, status peringatan keras itu ditanggapi dingin. Menurut buku ini, pemerintah dan seluruh komponen bangsa, masih bersikap bussines as usual (biasa-biasa saja).

Gugatan langsung dari buku ini juga menyeruak kepada pilihan (atau strategi) pembangunan nasional, yang masih bertumpu pada aksioma pertumbuhan ekonomi. Padahal, menurut pemenang Nobel Ekonomi, Joseph Stiglitz, pertumbuhan ekonomi terkadang membantu orang miskin, tetapi terkadang juga tidak (halaman xxi). Meski demikian, dari sebelas pakar yang menulis di buku ini, memang tidak membuat klaim melakukan exit strategy (jalan ke luar) atas setiap permasalahan. Melainkan hanya mendorong agar lahir upaya lebih serius dalam mengejar target MDGs.

Namun bukan berarti isi buku ini hampa. Sebab di sejumlah pemikiran dan gagasan, sebenarnya menyeruak wacana penting. Semisal proyeksi masa depan pendidikan nasional. Disadari bahwa pendidikan adalah modal utama dalam mengatasi kemiskinan, namun harus disertai dengan desain yang tepat. Menurut Dadang Ahmad Suriamihardja, salah satu kontributor buku ini, proyeksi pendidikan di Indoensia ke depan nanti, harus bersifat pembelajaran kolaboratif (halaman 8), yaitu menggabungkan semua metode belajar untuk mengatasi semua permasalahan. Hal ini guna mencegah metode penyelesaian masalah yang parsial (hanya dari satu sisi).

Di bagian lain, terpapar tentang potensi Indonesia untuk ikut serta dalam upaya pengentasan kemiskinan dan penyelesaian masalah-masalah global. Melalui eksplorasi dan eksploitasi terukur dalam bidang energi alternatif. Karena bumi, air, udara di nusantara ini begitu kaya dengan potensi energi non pulutan. Seperti tenaga surya, tenaga angin, geotermal, dan lain-lain. Menurut Satryo Soemantri Brodjonegoro, penyumbang tulisan di buku ini, Indonesia harus melakukan upaya swasembada energi (lihat halaman 31).

Sebenarnya masih banyak artikel menarik dalam buku ini. Termasuk soal-soal yang selama ini tak terlalu serius dipikirkan bersama, yaitu upaya pemanfaatan sampah, sebagai barang yang memiliki potensi ekonomi tinggi, melibatkan banyak tenaga kerja, padat modal, serta mampu mengatasi kemiskinan secara langsung.

Catatan akhir dari buku ini adalah: tidak ada konsistensi tema, atau tepatnya tema pembahasan tidak diselaraskan dengan Agenda MDGs, melainkan dibuat acak. Jika saja itu dilakukan, maka akan lebih memudahkan para pembaca. Bahkan ada isu penting dari MDGs,yaitu masalah penanggulangan HIV/AIDS yang tidak dibahas secara khusus. Namun secara keseluruhan, buku ini cukup bermutu. Selamat membaca…

//

One thought on “Buku Tentang Tantangan MDGs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s