Buku Tentang Pelayaran “Dewa Ruci”

Cover Buku Dewa Ruci

“Indonesia”, kata Bung Karno, “adalah lautan yang ditaburi pulau-pulau”. Petikan kalimat itu bisa dilihat dari buku Negara Paripurna, karya Yudi Latief, terbitan Gramedia, 2010. Pengakuan Bapak Proklamator itu, yang melihat kejayaan anak negeri dalam “tradisi bahari” kini tumpas sudah. Ditebas oleh mahluk-mahluk kerdil manusia Indonesia yang bermental surut ke belakang. Sebuah mentalitas yang berorientasi ke “daratan”.

Hanya mata awas dan pikiran cerdas yang mengakui kedigdayaan budaya jelajah lautan itu. Termasuk, misalnya Bung Hatta dan Tan Malaka. Kedua founding father (Bapak Bangsa) itu punya opini masing-masing.

Bung Hatta menyatakan bahwa gairah berkelana dan jelajah ke segala pelosok dunia, adalah warisan besar manusia Nusantara. Sementara Tan Malaka, melihat bahwa mentalitas terjajah dan menjadi budak, persis lahir tatkala penghuni nusantara menjadi manusia manja. Melulu mencukupi diri dengan kenikmatan yang ada di darat —menjadi petani, pemetik teh, atau sekedar kuli.

Konteks pemahaman seperti inilah yang perlu, guna membongkar habis tirta wacana (Bahasa Jawa Kuno, tirta adalah air dan wacana adalah pemikiran) dalam buku ini. Sebab hari ini, dalam paparan sebutan sekalipun, kita malah nyaman dengan sebutan kepualaun, bukannya kelautan. Beruntung, masih ada padanan kata dalam Bahasa Inggris, yang menyebut Indonesia sebagai Archipelago (dari istilah Latin, archi sebagai kekuasaan, dan pelagos sebagai lautan, artinya, Indonesia adalah penguasa lautan!).

Maka begitu melaju ke halaman dalam di buku ini, ada petikan yang membuat tertegun! Di saat para kadet yang delapan bulan mengarungi lautan maha luas, mengharumkan nama bangsa, dan disambut di mana-mana (di Amerika, ada seorang Nenek yang menyebut kru Dewa Ruci sebagai “barisan para dewa”, karena kagum), lalu pulang ke tanah air, malah disambut dengan biasa saja.

Mereka tak dinaikan pangkat —maka otomatis akan tertinggal posisi oleh kawannya yang berdiam di daratan. Menurut penulis buku ini, bernama Cornelis Kowaas, yang ikut serta dalam penjelajahan pertama di Tahun 1964 itu, alasan penolakan penghormatan dan pemberian pangkat itu, karena dianggap misi Dewa Ruci adalah rutinitas biasa. Pendapat ini datang dari para perwira atau tentara Angkatan Darat! Rupanya, dari dulu terjadi persaingan tak sehat antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di negeri ini…

Menembus Batas

Pendar mutiara lain yang diungkap buku ini menyembulkan rasa kagum kita akan keberanian para pelaut. Mengingatkan kembali, bahwa dulu negeri ini punya sejarah yang tak main-main. Melalui Gajah Mada yang meluncurkan Hamukti Palapa, sebuah ikrar tajam, untuk tidak menikmati kesenangan duniawi, sebelum berhasil menaklukan negara-negara di “atas angin” (belahan utara dunia). Tekad maha berani itu, mana bisa tercapai jika tak memiliki kesanggupan jelajah samudera (dan saat itu dibantu pasukan dari Swarnabumhi, melalui Aditiawarman).

Belum lagi sejumlah kisah arung laut yang mencengangkan. Betapa hanya dengan kapal Pinisi, nenek moyang kita sampai berdagang hingga Madagaskar. Cocok benar, jika demikian adanya, sebuah komposisi lagu anak, tentang Nenek Moyangku, Orang Pelaut… Atau sebuah sisa legenda yang ditabalkan dalam motto Angkatau Laut kita, Jelesveva Jaya Mahe (di laut kita berjaya). Pun, dalam buku ini, kobar semangat yang menggelegak di dada para pelaut Dewa Ruci, adalah semboyan Indonesian Rule! Tak lain tekad untuk mewujudkan bukti bahwa di lautan, orang-orang Indonesia bisa berkuasa… (Meskipun, semboyan ini diadopsi dari tradisi Kerajaan Inggris, yaitu England Rule!).

Tentu saja para awak Dewa Ruci memiliki luapan semangat yang lebih dari itu. Mereka tak cukup dengan semboyan berapi-api dan “memori sejarah”. Sebab ketika jangkar di lepas, di depannya adalah Samudera tanpa batas. Tantangan dari gulungan ombak, angin yang membadai, terlunta tanpa bantuan, dan ancaman dari pihak lain, selalu datang tanpa diduga. Hanya keberanian dan mental seteguh baja saja yang sanggup mengatasi aneka tantangan.

Halaman awal buku ini, dibuka dengan fakta, bahwa di saat memasuki selat Malaka, Kapal Dewa Ruci langsung menghadapi provokasi. Bersumber dari kapal-kapal Inggris dan Malaysia, yang memang tengah berkonfrontasi dengan Indonesia. Beruntung, gertakan dari pihak asing itu tak mewujud dalam perang tanding. Mereka akhirnya memberi jalan. Dewa Ruci pun selamat menuju lautan lepas.

Selanjutnya, tuturan buku ini berisi lapis demi lapis informasi unik, menarik, dan sesekali mengagetkan. Mereka, para awak, berkali-kali singgah di manca negara. Berkenalan dengan pendududuk setempat. Mempelajari aneka budaya. Serta melakukan misi diplomasi yang begitu penting. Sehingga menurut buku ini, seorang Duta Besar Indonesia di AS, yakni AM Palar, mengakui misi Dewa Ruci menyamai upaya Diplomasi para duta besar yang dilakukan selama sepuluh tahun.

Rangkai Kisah

Buku ini memang edisi revisi, atas buku asli yang telah dicetak puluhan tahun lalu —seraya dilengkapi dengan informasi tambahan, seputar negara-negara yang disinggahi. Akan tetapi hikmah yang tertayang selalu up to date.

Paling penting memberi cermin kepada sesama anak negeri bahwa sebuah tekad selalu menjadi patokan utama. Tujuan berani, selalu mengundang dukungan dari orang-orang yang berani. Demikian pula di kapal ini. “Penghuni” Dewa Ruci, datang dari berbagai latar kehidupan. Tetapi mereka satu tujuan: mengharumkan nama bangsa. Tujuan mulia inilah yang kemudian diuji dengan kehidupan di tengah lautan. Termasuk ganasnya beberapa tempat yang telah sohor ke seantero jagat. Seperti Selat Sokotra, Barmuda, dan terkatung-katung berhari-hari di lautan Atlantik serta Pasifik.

Olehnya, kisah-kisah humanis bermunculan. Bahwa terkadang para awak dilanda frustrasi dan kepayahan. Tak jarang, karena tekanan keadaan, mereka bertingkah di luar batas. Misalnya berkelahi dengan sesama teman. Melakukan hal-hal aneh. Atau sekedar perbuatan iseng guna memecah kesepian.

Kelemahan

Di balik nilai penting buku ini, sayangnya terdapat cela utama. Sepele saja sebenarnya, tetapi sangat dibutuhkan jika saja penerbit (atau penulis) mau menyediakan informasi tambahan. Yaitu dengan membubuhkan peta perjalanan di setiap sub bab. Misalnya, ketika Kapal Dewa Ruci menuju Maroko, akan lebih mengasyikan kalau di halaman itu tercantum peta lokasi Maroko. Inilah yang rupanya terlewatkan. Namun, secara keseluruhan, buku ini cocok dibaca siapa saja. Terutama mereka yang masih percaya bahwa Indonesia selalu mampu melahirkan orang-orang yang berani…

Informasi Detil Buku:

Judul: Dewa Ruci, Pelayaran Pertama Menaklukan Tujuh Samudera

Penulis: Cornelis Kowaas

Penerbit: Penerbit Kompas, Jakarta, 2010

Tebal: 441 halaman

ISBN: 978-979-709-528-4

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s