Buku Tentang Petuah Jenaka Sang Pertapa

Cover Buku Ajahn Brahm

Rangkai artikel di buku ini mengaduk-aduk akal, hati, dan juga urat tawa. Siapkan sebuah tisu untuk menyeka derai air mata (karena haru atau malah terlalu lucu). Tapi jika cuma itu, apa istimewanya?

Buku ini, ditulis dengan kekuatan yang jarang terjadi. Lahir dari refleksi seorang “resi”, yang bertapa selama puluhan tahun di belantara Thailand. Sekaligus memadukan ketajaman nalar dari fisikawan —Ajahn Brahm, penulis buku ini, sebelumnya memang kuliah di jurusan itu, di Cambridge University. Masih ada tambahan: nasehat bijak tentang pelbagai problema kehidupan, dengan contoh yang sangat dekat dengan aktivitas hidup sehari-hari.

Maka Anda yang telah begitu jengah dengan tumpukan buku-buku motivasi (self help) belakangan ini, bisa memperoleh cara baru. Setidaknya tak lagi berjumpa dengan retorika berlebihan dari para pakar motivasi —-yang mendewa-dewakan kesuksesan orang-orang seperti Donald Trump, Rockefeller, George Sors ataupun Bill Gates. Sukses dibaca sebagai kekayaan tanpa batas… Dalam buku ini, orang miskin pun bisa bahagia.

Lagipula, tak ada petikan tentang ungkapan-ungkapan klise dari para filosof, jenderal perang, ataupun penasehat pasar modal. Semuanya orisinil, lahir dari kasus hidup orang-orang biasa. Buku ini sungguh membumi. Bercerita seputar kesedihan. Kegagalan. Kekurangan uang —atau juga kelebihan uang. Segalanya menyangkut duka jasmaniah dan duka batiniah. Seraya menjadikannya sebagai kelaziman. Agar kita bersiap menerima segala kekurangan. Lantas bersegera pindah kuadran: menjadi pribadi yang menikmati tiap momen. Bahagia di segala cuaca.

Tentu ada syarat, jika ingin menikmati karya ini dengan sepenuh gairah. Jangan terlalu serius, ini syarat pokok yang pertama. Karena bisa saja di tengah aliran teks yang kita baca, tiba-tiba berbalik arah sekaligus. Dari alur yang mendayu-dayu serta menyedihkan, ditutup dengan lelucon nan mengejutkan.

Contohnya adalah tentang seorang pelukis yang ingin bunuh diri. Ia naik ke ketinggian gedung. Siap meloncat. Namun sekonyong, di bawah sana, tersuguh pemandangan unik: seorang tua yang menari-nari. Si pelukis tertegun. Ia hanya kehilangan satu tangan dan berencana mengakhiri hidup, tetapi orang yang dilihatnya malah tak punya tangan sama sekali, tetapi masih bisa menari-nari. Apa yang dilihatnya ini membalik rencana semula. Niat bunuh diripun digagalkan.

Setiba di bawah, si pelukis bertanya: “Pak, mengapa Anda yang tak punya tangan sama sekali masih bisa ceria, menari-nari?”

Si orang tua tanpa tangan itupun menjawab pendek. “Saya tidak menari. Melainkan pantat gatal dan perlu menggoyang-goyangkan tubuh…”

Berikutnya, syarat kedua, jangan apriori dengan keyakinan Agama orang lain. Muslim yang sholeh, kristen yang taat, penganut Hindu yang bijak, atau bahkan Yahudi yang rajin ke Sinagog, berbaik sangka sajalah. Tuhan mengirim begitu banyak manusia baik dan berniat baik ke tengah-tengah kita. Dan itu, bisa saja  salah satunya melalui seorang Bikhu yang 38 Tahun mengabiskan waktu sebagai pertapa di Thailand —lalu menuliskan pengalaman religiusnya untuk kita.

Tak sedikit petikan hikmah dalam tuturan Ajahn Brahm ini yang memilki irisan persamaan dengan Agama-Agama besar. Ajahn Brahm begitu fasih bermain dengan cuplikan Sufisme (dalam Islam, misalnya kisah Nasruddin); mampu berkelakar tentang dunia Kristen; juga sesekali menyentil kenakalan para pertapa di lingkungan penganut Budha.

Kunci-kunci nasehat dalam rangkaian buku ini adalah universal. Meneguhkan pilar utama kehidupan: kasih sayang, kepasrahan, keikhlasan, kedekatan dengan pencipta, kematian, dan juga demokrasi. Nilai-nilai itu, tentulah, berlaku di semua agama.

Di beberapa bagian buku, penulis buku ini pun mengingatkan hal itu. Tentang pentingnya toleransi antar umat beragama, perdamaian, dan juga upaya saling memahami. Bahkan ia juga menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan Umat Islam di Indonesia. Ketika di Australia, tempat ia bermukim kini, begitu banyak publikasi minor tentang Islam Indonesia, yang terkesan berwajah sangar dan penuh aksi terorisme. Ternyata, begitu menjelajah Nusantara,  ia bertemu dengan wajah-wajah muslim yang ramah dan hangat.

Syarat lain, yang ketiga, bersiap dengan cara berpikir terbalik (think opposite) atau berpikir di luar kotak kelaziman (thin out of the box).

Ambil saja artikel tentang makna sakit. Selama ini, semua orang, jika datang ke dokter selalu berkata: “Dokter, tolonglah. Ada yang tak beres dengan kesehatan saya.” Menurut Ajahn Brahm, kalimat ini lahir karena persepsi permanen yang terus menerus diulang. Sebuah bentuk kekeliru-tahuan (pengetahuan keliru). Sebenarnya: sakit itu biasa-biasa saja. Lazim saja. Bisa terjadi pada siapa saja. Tak ada yang salah dengan sakit. Jadi, jika Anda ke dokter, sebaiknya berkata: Dokter, tolonglah. Ada yang beres dengan kesehatan saya…

Empat Pilar:

Menurut Ajahn Brahm, ajaran Budha menyatakan ada dua bagian duka: duka jasmaniah dan duka batiniah. Seringkali bagian yang termasuk jasmaniah, misalnya berbagai gangguan, masalah, rintangan, sakit, ancaman, atau ketakutan, adalah sesuatu yang tak bisa kita ubah. Katakanlah seperti ketika kita berhadapan dengan kemacetan total di Jakarta, bertemu dengan orang-orang yang sulit, menghadapi krisis keuangan, dan lain sebagainya. Namun, kita mampu melakukan sesuatu terhadap reaksi batin kita terhadap hal-hal itu. Yaitu tanggapan secara emosional dan spiritual.

Di bagian itulah kita memiliki kendali penuh. Melepaskannya. Membiarkannya pergi. Dan berada dalam kedamaian. Bahkan meski merasa nyeri, duk, kecewa atau apapun, semuanya bisa diatasi. Tentu dengan praktek kepiawaian yang agung. Ini bukan teori, tetapi bisa dipraktekkan (lihat halaman 27).

Caranya?

Agar kita mampu melepas, meraih keheningan, kedamaian dan kebahagiaan. Betapa sering kita menggengam duka dan kepedihan —yang bersumber dari masa lalu atau sesuatu yang telah lewat. Padahal, seperti sebongkah batu yang berat bila dipikul, semua itu bisa ditanggalkan. Bukan hanya bisa, tetapi baik untuk dilakukan. Melepas juga berarti membuang jauh-jauh segala pikiran keliru dan pengetahuan yang membelenggu. Inilah pilar pertama.

Pilar yang kedua, agar kita mampu memaknai kebebasan. Dalam hal memilih antara sesuatu yang menyenangkan dan menjengkelkan, tersedia pilihan-pilihan. Jika berjumpa dengan perkara yang menjengkelkan sekalipun, kita bebas untuk memilih berbahagia —dengan aktivitas yang kita suka. Caranya, yakinkan diri bahwa hal itu dilakukan karena kita mau melakukan. Contohnya, misalnya tatkala menghadapi insomnia (sulit tidur), sedang sakit, menghadapi keributan, dan kesulitan terhadap perilaku orang lain.

Seringkali kita tersiksa oleh hal-hal seperti itu karena batin berteriak ingin segera mengahkiri atau mengubahnya secepat mungkin. Padahal, itu yang justru menambah beban. Kebebasan di sini, triknya adalah: oke, karena kita sanggup dan mau menghadapi hal-hal itu.

Berikutnya, pilar ketiga, member tanpa harap kembali. Mengharap sesuatu atas apa yang kita kerjakan adalah bagian dari batu pembeban batin. Kemudian hal itu bertumpuk sebagai gunungan tuntutan. Padahal yang benar adalah: berikanlah segenap kebaikan, cinta, kasih sayang, dengan sepenuh hati. Inilah cara yang indah untuk melepas beban, yaitu dengan memberi.

Terakhir, pilar keempat, memiliki batin seperti Teflon —yang tidak bisa dilekat kotoran apapun. Ingatan, dendam, amarah, prasangka, seringkali melekat kuat dalam jiwa kita. Semuanya memperburuk keadaan ruhaniah kita. Padahal, batin selalu berjalan mengikuti momen yang berlangsung. Caranya, nikmatilah setiap momen yang ada, tanpa digelayuti kotoran batin yang melekat itu. Lepaskanlah semua memori buruk, untuk kemudian beralih dan siap menikmati setiap proses yang kita hadapi.

Istimewa

Keseluruhan artikel di buku ini kuat karena tidak mengawang. Jauh dari rumus, teori, dogma, atau pemaksaan ide. Cair dan mengalir. Kalaupun ada kelemahan, tak lain justru kekuatannya: yaitu obyek bahasan yang begitu meluas. Tetapi bukan berarti jauh dari kenyataan. Benar belaka bila buku ini penuh pujian dari para pakar. Satu tambahan: contoh-contoh yang diajukan, baik dalam bentuk cerita, pengalaman hidup, ataupun ajaran kebijaksanaan, teramat sesuai dengan kehidupan kita. Karena sebagian besar bersumber dari tanah Asia (yaitu Thailand) dan Australia (dekat secara geografis). Bahkan beberapa diantaranya bersumber dari Indonesia. Nah, tunggu apa lagi?

Informasi Detil Buku:

Judul                               : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2!

Penulis                            : Ajahn Brahm

Penerbit                         : Awarness Publications, Jakarta, 2011

Tebal                               : 340 halaman

ISBN                                : 978-602-8194-54-9

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s