Buku Tentang Membumikan Al Qur’an

Membumikan Al Quran Jilid 2

Quraish Shihab adalah sumur tanpa dasar. Terutama bila untuk urusan menimba telaga ilmu-ilmu Al Qur’an. Karya-karyanya terus tertuang. Olah pikir dan ketajaman argumentasi beliau mengalir terus. Mengisi dahaga umat —atas aneka problem ke-Islaman.

Kali ini, untuk yang kesekian, lahir khasanah pustaka kajian Al Qur’an, berjudul Membumikan Al Qur’an Jilid 2. Tentu ada mata rantai dari “magnum opus” (kreasi besar) beliau yang terbit belasan tahun lalu, yang berjudul Membumikan Al Qur’an.

Hanya saja ada titik tekan yang serius. Terkhusus di beberapa bagian buku terbaru ini, yaitu mengurai dengan luas tema-tema kebangsaan, toleransi beragama, dan sikap umat Islam dalam menghadapi tantangan. Senarai fakta pembeda yang lain —dari karya sebelumnya— adalah makin menonjol karakter khas seorang Quraish Shihab, yaitu keberanian mengutip khasanah ilmu-ilmu sekuler, dan bahkan petikan pemikiran dari tokoh (Agama) lain.

Tak ayal, di buku ini bertabur kutipan para filsuf, fisikawan, hingga literatur-literatur sastera. Singkat cerita, isi buku ini jangan harap bertemu dengan suguhan tekstual yang keras dan terbatas, melulu pada terjemah atau tafsir pendek ayat-ayat Al Qur’an. Melainkan kaya dengan perbandingan, penelusuran sejarah, konteks sosial, dan kritik terhadap tafsir yang out of date.

Dan penulisnya memang punya otoritas untuk itu. Beliau bebas saja melawan pemikiran umum yang telah mapan dalam benak umat. Semisal tentang konsep kewalian, arti musibah, makna mukjizat, ataupun menyangkut kepemimpinan negeri. Lantaran semuanya kokoh dengan argumentasi intelektual, dilampiri dengan telaah terhadap definisi dasar dari setiap konsep. Seraya memunculkan perspektif baru.

Tentang Iman

Bagian awal buku ini berisi penjelasan menarik tentang Iman, Islam, dan Ikhsan. Bukan dalam bahasa klise nan dogmatis. Melainkan masuk ke jantung persoalan. Misalnya: bahwa sebagai manusia kita wajar saja memiliki keraguan dalam Iman kita.

Karena, menurut Quraish, bahkan Nabi Ibrahim, Nabi Mussa, serta sahabat terdekat Nabi Muhammad sekalipun, pernah memiliki pertanyaan kritis tentang keyakinannya. Ibrahim misalnya, yang meminta bukti, atau Musa yang memohon melihat wajah Allah, adalah sepetik pelajaran —tentang kebutuhan manusia dalam mengokohkan Iman melalui pengalaman factual secara langsung.

Olehnya, membaca, memahami, dan menghayati Al Quran, adalah salah satu cara guna meraih iman dan memantapkannya. Atau, Ummat haruslah menemukan kemantapan Iman melalui Al Quran. Karena dalam hati manusia terpasang kunci-kunci pemahaman (lihat halaman 49).

Petuah ini menjadi landasan kita, bahwa berpikir kritis dan elaboratif bukan sesuatu yang tabu dalam kontekstualisasi Al Qur’an. Malah perlu. Musababnya ada rupa-rupa perkara yang tidak sederhana, dan menjadi berbahaya jika aktualisasi Al Qur’an berjalan melalui “kunci” yang sempit. Alias dengan perspektif yang terbatas.

Ambil contoh tentang menghargai Agama dan tempat Ibadah orang lain. Quraish Shihab berkomentar keras atas fenomena kebrutalan Ummat Islam yang terjadi di berbagai tempat (seperti membakar tempat ibadah, atau memerangi artefak keagamaan dari umat non muslim). Beliau menyebut aksi Taliban yang menghancurkan Patung Budha dan melarang pembuatan patung. Melalui dalil bahwa Nabi melarang hal itu.

Menurut penulis Tafsir Al Misbah ini, para Taliban lupa konteks pelarangan oleh nabi, yang terjadi ketika patung-patung masih di sembah —-di awal perjalanan Islam. Malahan, jika jeli, maka dalam Al Qur’an tak ada larangan itu. Contohnya, Nabi Sulaiman pun menyuruh pembuatan patung dari tanah (Ali Imran ayat 49) tetapi karena tidak menyembahnya, maka taka apa-apa.

Menurut Quraish, memang ada penyakit laten dalam perjalanan umat, yaitu keterbatasan pengetahuan, hingga menyebabkan kita bersikap sangat keras dan kaku (halaman 322).

Tantangan

Sisi terdalam inilah yang boleh disebut menjadi saripati buku Membumikan Al Qur’an Jilid 2 ini. Di pilahan yang lain, berlanjut pada sisi luar, yaitu perwujudan (atau perilaku) orang-orang dalam ber-Islam, sesuai dengan kaidah yang adil dan benar.

Ber-Islam yang sepadan dengan karakter sejati dan melekat pada Agama yang lahir di Mekah ini. Tak lain adalah: (1) Islam sebagai agama yang ralistis; (2) Insaniyah, atau sesuai dengan watak kemanusiaan; (3) memiliki kejelasan; (4) moderat; (5) tidak memberatkan; dan (6) sesuai dengan semua tempat dan situasi. Kesemua nilai ini adalah bahasa universal. Hanya saja, Ummat Islam memiliki panduan teguh, yaitu Al Qur’an dan Hadis.

Masalahnya: kini dunia seolah terbalik. Di fase awal dan era gemilang, Ummat begitu mampu mempraktekan ajaran Al Quran, hingga berpengarauh terhadap peradaban dunia. Sementara Islam berada di buritan kapal. Lengkap dengan tumpukan problem yang begitu memilukan. Memang benar adanya, telah lahir rintisan ijtihad dan daya juang menghebat di kalangan ummat untuk mencari jalan ke luar.

Setidaknya, menurut Quraish (di halaman 315) terdapat tiga arus utama yang bergerak mencari jalan ke luar.

Pertama, melalui model pemurnian agama, yang antara lain dilakukan oleh gerakan Wahabiyah di Saudi Arabia, As-Sanusiyah di Libia, dan Jamaah Islamiyah di Pakistan. Mereka beranggapan bahwa masa Rasululloh adalah era terbaik. Konsekuensinya, mereka berusaha mempertahankan apa saja yang diterima Rasul, tanpa mempertimbangkan faktor budaya dan perkembangan positif di masyarakat. Menurut Quraish, gerakan itu lupa terhadap Sabda Nabi, tentang Hikmah (atau amal, ilmu, dan ibadah) milik dan dambaan kaum Muslim, di mana pun ia ditemukan (termasuk di AS sekalipun, pen) maka Sang Muslimlah yang wajar mengambilnya. Jika kemajuan zaman dan teknologi kita sebut sebagai hikmah, maka kapan dan dimanapun, wajib kita memanfaatkannya.

Pola berikut, yang kedua, kuam Muslim yang menilai bahwa tantangan itu harus dihadapi dengan belajar dari Barat dan mengambil segala sesuatu dari sana. Tetapi, tipe kedua ini juga beresiko menghilangkan jejak khasanah budaya dan tradisi lokal mereka (seperti yang dilakukan Akhmad Khan di India dan Kemal At Taturk di Turki).

Sementara pola yang ketiga, menyerap kemajuan barat dengan tetap mempertahankan identitas budayanya. Dari keseluruhan metode ini, teteap saja membutuhkan keluwesan cakrawala pikir, keluasan perspektif, dan kecerdasan bertindak. Jika tidak, yang terjadi adalah aksi sok tahu, yang mengangkat tinggi-tinggi panji Islam, tetapi justru melakukan kegiatan yang tidak Islami (halaman 321).

Cakrawala

Buku ini, di berbagai halaman, seolah menuntut dengan tegas, bahwa sudah saatnya Ummat Islam (Indoensia) mempersembahkan alternatif pemcecahan masalah. Ummat Islam harus jadi problem solver dan bukan trouble maker.

Tak lagi bersikukuh dengan gaya kadaluarsa, yaitu dogmatis, garang, dan sempit. Melainkan berjalan melalui perangkat keilmuan yang mumpuni. Menjadikan Al Quran tidak hanya sebagai klaim sepihak.

Tetapi justru menerapkannya sebagai konsep, membuat metode, melahirkan instrument, dan berdampak sebagai solusi terbaik. Kira-kira, hal ini seirama dengan gagasan Islam Propethik yang diajukan Kuntowijoyo, beberapa tahun silam. Budayawan Muslim itu benar-benar menginginkan agar Ilmu Al Quran lahir sebagai teori, paradigma, dan menjadi aksi. Jadi tidak lagi menjadi sandaran tekstual dan retorika bahasa semata.

Dengan melihat cakrawala pemikiran Quraish di buku ini, jelaslah bahwa Al Quran bisa menjawab National Question di hari ini. Perkara terorisme, kerusuhan ummat beragama, kemiskinan, bencana alam, sains dan teknologi, semuanya terpapar dengan rinci. Disertai penjelasan yang meyakinkan.

Petikan contoh: Quraish membahas tragedy Tsunami melalui pendekatan tafsir Al Quran. Juga isu-isu gender, dinamika politik, kepemimpinan nasional, dan bahkan perkara medis (kedokteran). Dari aneka deskripsi yang meluas ini, batin menjadi tercenung. Bahwa Al Qur’an sesungguhnya Maha Kaya.

Sebuah mukjizat yang memancar secara intelektual. Bukan pertunjukan fisik dan mistis (sebagaimana yang dilakukan orang Islam kuno di berbagai daerah Indonesia, yang memperlakukan Al Quran sebagai jimat). Selamat membaca…

Informasi Detil Buku:

Judul : Membumikan Al Qur’an Jilid 2

Penulis : Quraish Shihab

Penerbit : Lentera Hati, Jakarta, 2011

Tebal : 812 halaman

ISBN : 979-978-9048-83-7

//

2 thoughts on “Buku Tentang Membumikan Al Qur’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s