Buku Tentang Tragedi Perempuan Saudi Arabia

Novel Perempuan Terpasung

SARAH. Bermata jeli. Pipi kemerahan. Suami kaya raya. Punya anak kembar. Rajin Shalat. Apa lagi? Sarah. Cerdas. Rajin membaca. Perpustakaan pribadi. Tiap malam menulis diary. Punya banyak teman. Banyak waktu luang. Apa lagi? Sarah. Menangis. Selalu. Kesepian. Disergap aneka gejolak. Tak punya cinta… Inilah masalahnya.

Seorang Sarah, hidup di Negeri Islam Konservatif, yang terlalu banyak perkara menjadi haram. Tindak tanduk penduduk diawasi polisi syariah. Intel berkeliaran di tiap pojok. Segalanya serba dibatasi. Penderita paling utama atas kondisi ini, siapa lagi kalau bukan perempuan. Pun para wanita yang bertengger di status sosial atas. Mereka menjadi “sandera” para suami —-yang atas nama tafsir agama, berhak melakukan apa saja,menyakiti, meninggalkan, atau malah melakukan pelecehan seksual terhadap para pembantu rumah tangga.

Dengan sinis Sarah menulis: siapa bilang zaman jahiliyah telah berlalu? Memang tidak ada lagi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Tetapi masih banyak perempuan yang terkurung, tak bisa melakukan apa-apa.

Novel ini, mengusung klaim based on true story (dari kisah nyata), menarik bukan karena dramatisasi atau kisah melankolik para korban. Jauh dari ritme penulisan yang mendayu-dayu —atau penggambaran sadis dan vulgar. Anda akan kecewa jika saja mengidamkan isi buku ini seperti The Princess-nya Jean P. Seasson.

Novel ini lebih kental dengan nuansa refleksi. Bukan karya propagandis barat. Melainkan hasil karya Hani Naqsabandhi, seorang jurnalis dan kolumnis. Alur cerita mengalir dari catatan kritis seorang perempuan bernama Sarah, yang melakukan korespondensi dengan seorang pria bernama Hisyam. Keduanya berbeda jarak, baik geografis maupun kultur. Sarah hidup (dengan membosankan) di Saudi Arabia, berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga (dan sesekali tidur dengan suami yang kelelahan). Sedangkan Hisyam, playboy tulen, gonta-ganti perempuan, tinggal di London, dan berprofesi Pemimpin Redaksi sebuah Majalah Perempuan. Hisyam punya trade mark (yang ternyata palsu), sebagai penulis kritis isu-isu perempuan. Ia pembela perempuan (minimal, dalam artikel yang dibuatnya).

Sebagai novel (sekaligus refleksi), tentu saja penceritaan berlangsung menarik. Mengungkap sisi-sisi tak terceritakan dari tradisi ber-Islam yang kaku. Para lelaki, termasuk Imam dan Para Guru, begitu berapi-api membatasi gerak perempuan. Tiap hari mengutuk budaya barat, padahal kelakuan mereka tak kalah bejat! Mereka juga mudah sekali “memetik” gadis muda di bawah umur, segera menceraikan begitu hamil, atau memperkosa pembantu (termasuk pembantu Indonesia, bernama Rahimah, yang diceritakan diperkosa oleh seorang Pria yang dianggap saleh).

Melalui Sarah, tokoh utama dalam novel ini, para tokoh (atau mungkin korban), yang merupakan teman-teman Sarah, muncul satu per satu. Ada Asma, yang cantik, tetapi berperilaku lesbi. Ia terganggu secara seksual karena kelakuan suaminya. Ada juga Nur, Laila, Afra, dan lainnya (halaman 99). Kurang lebih, keluhan kawan-kawan Sarah ini begini: cerai dengan suami, suami selingkuh dengan gadis muda yang dinikahi siri, mengalami kekerasan dalam rumah tangga, atau “perempuan itu sendiri yang selingkuh”, sebagai reaksi balas dendam. Kepada Sarah lah mereka mengeluh. Inilah butir-butir tulisan yang dikirim Sarah, kepada Hasyim (di London).

Tapi bobot kuat Novel ini justru tak melulu di alur —yang menjadi ajang publikasi sinis terhadap kondisi para perempuan di Arab Saudi. Melainkan terletak pada renungan kritis dan cerdas dari Sarah. Tak ayal, lalu bergulir berbagai kalimat nikmat. Simak saja, misalnya: Orang yang bernasib buruk adalah orang yang tidak mempunyai cinta. Dan, orang yang sangat bernasib buruk adalah orang yang merasakan cinta hanya sekali, tapi kemudian kehilangan cinta untuk selamanya.

Petikan itu muncul, justru menohok jantung Sarah sendiri, yang telah lama hilang selera terhadap suaminya, Khalid. Persis di malam pertama, yang ia idamkan sangat Romantis, justru direnggut Khalid dengan kasar. Suaminya itu, begitu terburu-buru, dan hanya berkata: “Saya meminta hak saya”.

Uraian lain: Bahagia adalah sesuatu yang kamu ciptakan lewat pilihan kamu sendiri, sementara menerima adalah sesuatu yang memaksakan untuk hidup dengannya. Begitu pula yang ini: Hidup adalah perjuangan melawan kesedihan. Sementara, ketika diminta pendapat oleh Afra, perempuan cantik yang begitu optimis dan percaya diri, tetapi hancur gara-gara suami yang khianat, Sarah bertutur: Pengkhianatan adalah jiwa buruk yang melekat di tubuh kita semua.

Semua itu terekam detil dalam surat-surat sarah. Beberapa dipublikasi di Majalah Perempuan terbitan London, yang digawangi oleh Hisyam. Bahkan, dalam perjalanan lanjutan, surat-surat inilah yang dijadikan bahan studi seorang mahasiswa cantik dari Spanyol, yang bernama Issabel. Gadis ini penasaran dengan sisa-sisa pengaruh kebudayaan Arab di Spanyol (terutama jejak sejarah Al Hambra, yang begitu memesona).

Sayang sekali, surat-surat ini ternyata jatuh ke tangan batil. Hisyam memang pemimpin redaksi, dan kerap menulis kritis isu-isu perempuan Saudi. Tetapi ia mata keranjang. Belum menikah, mesik menjelang kepala empat. Tak berani melawan, karena tunduk kepada Intel dari Kerajaan Saudi. Dan lebih parah lagi, ia tertarik dengan surat-surat Sarah, bukan kepada isinya. Melainkan imajinasi birahi. Hisyam membayangkan bisa bercumbu dengan Sarah yang jelita. Hal inilah yang kemudian dibongkar oleh Issabel. Hingga mereka bertengkar, lalu berpisah sebagai “teman”.

Catatan akhir. Bila anda berburu romantika “anggur dan bulan”, tentu tak ada di Novel ini. Tetapi jika ingin menyerap konteks perlawanan para perempuan di Saudi, mungkin sekali novel berjudul Perempuan Terpasung, Cinta dibalik Cadar ini cocok jadi referensi. Wallahu’alam…

Informasi Detil Buku:

Judul : Perempuan Terpasung, Gejolak Cinta dibalik Cadar

Penulis : Hani Naqshabandi

Penerbit : Serambi, Agustus 2010

Tebal : 480 halaman

ISBN : 978-979-024-1886

//

One thought on “Buku Tentang Tragedi Perempuan Saudi Arabia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s