Buku Tentang Perdagangan Perempuan

Cover Buku Natasha

Para perempuan di dalam mobil yang melihat kami di pinggir jalan, menghardik kami: dasar pelacur! Tanpa pernah mereka turun, dan bertanya tentang apa yang kami alami…

(Pengakuan Gadis Muda, Korban Perdangagan Perempuan di Rusia)

Jika Samuel Huntington memperkenalkan tema Gelombang Demokratisasi Ketiga, maka Victor Malarek menyebut zaman ini sebagai Gelombang Keempat Perdagangan Perempuan! Bukan istilah main-main. Karena kenyataannya begitu. Jutaan perempuan menjadi ternistakan. Hidup dalam kekejaman nan brutal. Terinjak martabat dan harga diri. Bahkan, sejumlah pihak menyebut para perempuan malang itu diperlakukan (maaf) seperti hewan ternak…

Disebut gelombang keempat perdangagan perempuan, karena lahir sumber-sumber perekrutan baru. Para perempuan muda dan cantik, dari negara reruntuhan Rusia, Balkan, dan Eropa Timur lainnya, diculik, ditipu, disekap, lalu dijual ke berbagai penjuru dunia. Dulu, bisnis dagang perempuan, melulu bersumber dari China, Taiwan, Thailand, atau Filipina. Kini bergeser ke sana.

Lalu, ada fakta lain, yaitu modus yang benar-benar baru. Seperti memanfaatkan jalur distribusi dan mata rantai internasional dalam memasok para perempuan itu, yang mengikuti pola perdagangan narkotika dan senjata api. Terakhir, karena adanya fakta bahwa Internet justru memperparah kejahatan woman trafficking (perdagangan perempuan). Setelah era internet, maka menjamur pula bisnis syahat pemuas hidung belang. Mulai dari pesan perempuan, seks interaktif, wisata seks internasional, hingga pernikahan sementara. Begitulah…

Apa-apa yang tersaji dalam buku ini adalah memperlihatkan wajah buruk peradaban manusia, justru ketika iklim kebebasan nyaris sempurna. Sebuah ironi tentang demokrasi. Mengapa demokrasi? Jawabannya bisa berangkat dari kasus-kasus yang diangkat buku ini. Ketika Uni Sovyet runtuh, dan Negara Rusia berkeping-keping, justru rakyat hidup dalam berbagai kesulitan (terutama ekonomi). Rakyat menjadi frustrasi. Kriminalitas melonjak, dan ratusan ribu gadis di sana terjerat dalam dunia prostitusi (baik secara paksa atau sukarela). Dari reruntuhan Rusia inilah kemudian terjadi pola baru dalam distribusi perempuan yang dijual ke mana-mana, baik ke Eropa Barat, negara-negara Arab (termasuk Israel), hingga ke Korea dan Jepang.

Jika mencerna buku ini secara keseluruhan, tergambar seolah para perempuan bergerak dalam kereta sejarah yang lamban. Dahulu, mereka dijadikan sesembahan untuk korban para dewa. Lalu, dianggap sebagai pembawa keruntuhan bagi para raja. Pernah juga kaum hawa dianggap sebagai penyebar penyakit, lalu diburu sebagai tukang tenung atau sihir. Kini, dalam politik demokratis dan kebebasan informasi, mereka menjadi komoditas. Dengan nilai, dalam taksiran buku ini, tak berbatas. Hitung saja, per perempuan, bisa mendatangkan tumpukan dollar sebesar U$ 250.000 per tahun (angka ini tinggal dikalikan dengan jumlah wanita yang diperjual-belikan itu).

Bisnis raksasa yang tak kenal ampun! Para pelakunya mulai dari gangster jalanan, mafioso, triad, Yakuza, hingga kartel di Kolumbia. Di Rusia pun begitu. Bahkan di Israel dan Korea Selatan, para pelaku justru melibatkan anggota parlemen, polisi, jaksa, serta kaum agamawan. Dengan begini, skala bisnis perempuan untuk seks itu telah menjadi merchant death (bisnis yang mematikan). Tak kalah mengerikan dari bisnis narkotika dan senjata gelap. Dan memang, pada kenyataannya, seperti terpapar dalam buku ini, justru peredaran perempuan yang dijadikan budak seks itu mengikuti mata rantai distribusi narkoba dan senjata. Hanya saja, bisnis perempuan-perempuan muda dan cantik dari reruntuhan Rusia ini (yang biasanya dipanggil Natasha), kadang-kadang memasuki pola legal.

Korupsi dan Politik
Dunia bukan tak tahu nasib jutaan perempuan yang ternista itu. Apa daya, di beberapa negara, standar perlindungan terhadap perempuan begitu rendah. Bahkan, di Israel dan Korea Selatan terjadi aksi rasis menanggapi nasib buruk para perempuan malang ini. Menanggapi para perempuan dari luar negeri yang dipasok ke tempat-tempat pemuasan seks di kedua negara itu, mereka malah membiarkan. Demi alasan “melindungi” gadis-gadis lokal dari kebuasan pria hidung belang.

Di tempat lain, mulai dari Eropa, Amerika, Rusia, dan negara-negara Arab, woman trafficking (perdagangan perempuan) menggila karena perilaku korupsi para pejabat, kongkalingkong antara mucikari, gangster, dan para bos di dunia hitam, atau polisi yang menjadi klien —pelanggan tetap. Dengan sinis, Victor Malarek berujar: selama masih ada tangan pejabat yang terjulur dan celana polisi yang terbuka, maka perdagangan perempuan akan selalu ada.

Memang senyatanya, bukan tak ada gerakan besar menanggulangi isu ini. Tetapi kerapkali hanya bersifat permukaan. Tidak serius. Lebih sering jatuh menjadi alat politik diplomasi. Inilah yang terjadi pada laporan tahunan yang dilansir Pejabat Gedung Putih, Amerika Serikat. Negera adidaya yang berkampanye menjadi pionier dalam kasus ini justru sering bersikap inkonsisten. Mereka membuat laporan untuk menampar dan mempermalukan negara-negara yang tak serius membendung perdagangan perempuan. Tetapi sungguh jauh dari fakta. Karena negara-negara yang terus menerus melakukan pembiaran atas para perempuan yang diperjualbelikan, justru masuk kategori kedua (yaitu aktif dalam melakukan pemberantasan).

Penistaan Keji
Membendung perdangangan perempuan yang sudah bersifat massif dan internasional ini, tergolong pekerjaan raksasa. Tapi seperti terurai barusan, bahwa kerapkali membentur tembok (lantaran aksi rasisme negara, kebobrokan hukum, korupsi pejabat, suap, dan politik diplomasi pura-pura. Akhirnya, dalam buku ini, disebut beberapa succes story, tentang penyelamatan terhadap para perempuan ternista itu. Mereka adalah para individu tegar. Berani. Serta hanya berpamrih kemanusiaan.

Sayangnya, di tengah berbagai kerumitan, menurut buku ini, masih ada persepsi sesat (sesesat-sesatnya) dari ummat manusia di muka bumi ini. Para perempuan yang diperdagangkan itu disebut pelacur, lonte, atau penjual diri. Bisa jadi itu benar. Tetapi lebih sering, para perempuan itu justru disiksa, diculik, disekap, diperkosa ramai-ramai, bahkan tak sedikit yang dibunuh, oleh para mucikari atau Bos Mafia. Jauh dari bayangan umum, bahwa para perempuan itu dibayar mahal, hidup mewah, glamour, dan pesta tiap malam. Mereka, bahkan untuk tersenyum sekalipun, berada di bawah ancaman kekerasan. Natasha, nasibmu…

Informasi Detil Buku:

Informasi Detil Buku:

Judul                      : Natasha, Menyibak Perdagangan Seks Dunia

Penulis                   : Victor Malarek

Penerbit                 : PT Serambi Ilmu Semesta, Februari 2008

Tebal                      : 358 halaman

ISBN                       : 978-979-1275-44-6

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s