Buku Tentang Samurai Pengasih

Efek popularitas menjadi satu paket terpenting dari orang-orang sukses di masa kini. Nama melambung, pundi-pundi rezeki pun menggembung. Tapi bukan satu dua yang lantas tersandung. Mereka limbung dan tak sanggup mempertahankan pencapaian tertinggi. Lalu marah kepada siapa saja.

Ada lagi kutub yang berlawanan. Mereka yang gagal mencapai keinginan, merutuki nasib dan takdir. Dalam buku ini, bahkan disebut kebiasaan jelek kalangan bergama: menyalahkan setan dan iblis! Sebagai biang keladi seluruh persoalan. Nah, gaya sedemikian inilah yang tak tercantum dalam Samurai Pengasih —The Compassionate Samurai.

Sang Samurai Pengasih, salah satu keperkasaannya adalah justru tak pernah merasa kehilangan apa-apa (nothing to loose). Pun ketika terguling dari puncak menara kekuasaan-kekayaan-kehormatan. Para ksatria yang menjalankan nilai Bushido ini (the way of warrior, jalan ksatria), tak akan menjual kehormatan semata-mata demi mempertahankan kuasa.

Mereka berpijak pada harga diri dan konsisten dalam menerapkan janji (sebuah komitmen). Asas hidup seperti inilah yang kering di ladang kehidupan masyarakat kita. Betapa hari-hari kita diwarnai perseteruan orang-orang “besar” dan “atas” yang mati-matian mempertahankan posisi. Meski dalam kondisi yang sepenuhnya menyimpan aib buruk. Di posisi ekstrem lain, orang-orang yang miskin dan kalah, menjadi begitu pemarah dan merasa berhak melakukan keburukan di mana-mana.

Beda dengan jiwa Samurai Pengasih. Jika ia membuat komitmen, maka bukan janji manis yang menghambur, melainkan keteguhan batu karang. Inilah yang membedakan antara jiwa samurai dengan jiwa manusia biasa. Manusia biasa hanya memenuhi komitmen yang menguntungkan dirinya, atau menyenangkan untuk dilakukan. Sementara Sang Samurai Pengasih, mati pun sanggup jika “izab kabul” telah dilontarkan. Tetes nilai bersetia pada janji dan kehormatan diri inilah yang kini masih membekas dalam budaya Jepang. Sehingga mereka menanggung malu tak terperi, jika tak sanggup mewujudkan komitmen (beda dengan kita, tentu saja).

Saripati dari jiwa Samurai Pengasih, tak lain adalah bersedia berkorban, bahkan mati, untuk mempertahankan prinsip, dan memberi faedah bagi orang lain. Jikapun mereka menjadi pemenang, unggul dalam kehidupan, seraya meraih kekayaan, tak akan menista orang lain.

Terlampau ideal?

Interogasi dingin seperti itu tentu akan lahir dalam benak, manakala dikonfrontasikan dengan pengalaman faktual dalam hidup. Entah mengapa, para pelaku keculasan justru berkibar dalam karir; politisi licik justru jadi pemenang; pedagang curang yang kaya raya; dan lain sebagainya. Sementara di kutub bersebarangan, orang-orang baik tergilas tak berdaya. Seperti kutipan menarik dari buku ini, asumsi umum yang mengatakan bahwa: Orang baik selesai belakangan…

Baik dan Menang!

Buku ini nyaris mengolok-olok mindset (patokan berpikir) kita selama ini. Di saat kita gagal, tak sanggup meraih impian, tertinggal dalam kompetisi, dan “hanya” berpredikat biasa-biasa saja, maka satu-satunya kreativitas yang lahir adalah beribu alasan. Menyebut para pemenang karena mereka si raja tega; sinis terhadap orang-orang sukses karena orang sukses selalu egois; menyindir orang-orang kaya karena melanggar moral dan etika; dan lain sebagainya.

Padahal, sesungguhnya kegagalan kita hari ini mungkin karena sifat-sifat yang berjauhan dengan jalan kesuksesan. Dalam buku ini, Brian Klemmer, menuliskan sepuluh prinsip untuk menjadi sukses sekaligus menjadi orang yang baik. Diantaranya adalah: Komitmen, bertanggung jawab secara pribadi, kontribusi, fokus, kejujuran, kehormatan, kepercayaan, kelimpahan, keberanian, dan pengetahuan. Seluruh kaidah ini diurai dengan menarik, berbahasa renyah, disertai contoh-contoh yang menggetarkan.

Fokus dan Keberanian

Mari petik dari sepuluh nilai itu yang paling dekat dengan hidup kita, yaitu perkara “fokus” dan masalah “keberanian”. Pernahkah memikirkan bagaimana sebuah balok besar tak bisa melubangi kayu yang ukurannya lebih kecil? Tetapi paku sebesar lintingan rokok justru menembus dengan mudah? Pernahkah pula merenungkan betapa pengungkit besi yang kecil bisa mengangkat Truk besar yang tak jalan karena ban kempis?

Dalam buku ini, karena mengambil kasus Amerika, contoh yang diambil adalah kisah Rusa yang terperangkap sorotan lampu mobil di malam hari. Sang Rusa, bukannya menghindar ke tepi, tapi malah memelototi lampu tanpa henti. Semua ini membawa kita pada satu bahasa: fokus. Fokus pada kekuatan. Fokus pada jalan ke luar. Mengutip nasehat Mario Teguh, maka kita harus fokus pada apa-apa yang membesarkan kita. Sementara yang kerap terjadi: kita berputar-putar dan terjerat dalam lintingan masalah, karena pikiran tak bergeser pada pencarian jalan ke luar. Anggaplah begitu.

Dalam buku ini, disebut senarai contoh. Seperti Tiger Woods, pegolf professional kelas dunia, yang sebenarnya ribuan kali melakukan kesalahan dalam melakukan pukulan. Tapi ia fokus pada hasil, dan melupakan kegagalan. Begitu juga dengan Michael Jordan. Atau, paling fenomenal dan laku dikutip oleh buku-buku motivasi, tak lain tentang Thomas Alva Edison, yang sebelum berhasil melakukan penemuan justru melewati terlebih dahulu ribuan kegagalan. Kita, berpijak pada contoh kasus ini, pun harus berkonsentrasi pada keberhasilan. Jangan meratap dalam kegagalan.

Narasi lain yang mendesiskan angin segar ke dalam kalbu adalah kisah tentang Legenda Talk Show Amerika, Oprah Winfrey. Semua orang tahu, perempuan luar biasa ini punya masa lalu kelam. Mendapatkan pelecehan seksual. Dikerjai berkali-kali oleh saudara-saudaranya. Sempat hamil. Semua itu luar biasa kelam —sudah pasti. Namun Oprah tidak memilih menjadi korban yang meratap. Meski ia punya ribuan alasan untuk dikasihani orang lain. Jalan lain ia pilih —jalan Samurai Pengasih— yaitu keberanian. Berani untuk tidak menjadi korban. Berani untuk mengubur segalanya, lantas membaktikan diri, agar kasus hitam itu tak terjadi pada orang lain.

Terakhir, bagaimana dengan kita? Bukankah lebih nyaman untuk menjadi melanokolis, malah menikmati kepedihan-kepedihan, . Ini sesungguhnya egoisme luar biasa. Karena dengan demikian kita berharap agar orang lain, lingkungan luar diri kita, menjadi iba, seraya memaklumi kegagalan-kegagalan kita. Lalu sesekali menyalahkan ini dan itu. Buku ini memberi nasehat singkat: masalah mereka adalah milik mereka. Masalah kita adalah milik kita. Itu saja…

Informasi Detil Buku:

Judul : The Compasionate Samurai

Penulis : Brian Klemmer

Penerbit : Penerbit Gemilang (Kelompok Pustaka Alvabet)

Tebal : 260 halaman

ISBN : 978-979-19974-0-9

//

One thought on “Buku Tentang Samurai Pengasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s