Buku Tentang Mayat yang “Hidup”

JAUH dari ilusi neraka atau nirwana di alam baka sana. Meski sepenuhnya berkisah tentang salah satu rahasia kematian. Tetapi bukan versi kitab Agama atau buku Primbon —atau tafsir-tafsir kematian yang spekulatif. Sepenuhnya berbasis bukti. Tentang lika-liku perjalanan mayat manusia yang tak selalu normal. Dalam beberapa hal, mayat yang hancur, justru menjadi “benda” yang memudahkan —-misalnya bagi para pakar forensik, demi menginvestiasi kecelakaan pesawat terbang.

Buku ini, sepenuhnya, tidak direkomendasikan untuk penyelia makan siang anda. Darah tercecer, jantung segar yang berdenyut, usus terburai, tulang dada yang digergaji, batok kepala yang dibor, sungguh tak elok menjadi menu pendamping… Apalagi di halaman tertentu ada uraian detil tentang pesta lalat, cacing, dan belatung, menggerumun seperti semut memperebutkan remah roti (di atas seonggok tubuh yang sudah tak bernyawa).

Maka beruntunglah manusia yang lahir, hidup, mati, lalu dikubur (diiringi pidato kematian dan pelayat nan takzim dengan leher tertekuk). Sebab banyak diantara manusia yang lahir, hidup, lantas mayatnya berakhir sebagai lahan eksperimen. Dijadikan “alat peraga” untuk mengukur efek tubrukkan keras dari laboratiorium industri mobil. Diawetkan dengan lumuran madu asli, lantas dimanfaatkan sebagai bahan dasar obat-obatan. Sebagaian lain, untuk mayat yang tak utuh, dijadikan potongan-potongan terpisah, agar cocok sebagai bahan transplantasi (entah jantung, ginjal, atau bahkan otak).

Jangan dulu terhenyak, karena belum apa-apa. Sebagian anda, jika berprofesi sebagai ahli bedah, berurusan dengan forensik, atau punya kawan dekat yang berprofesi seperti itu, minimal mengetahui bocoran informasi tentang “manfaat mayat” bagi manusia (yang masih hidup, tentu, seperti saya dan anda, mudah-mudahan untuk hidup lebih lama lagi). Lelucon di kampus juga terselip dengan kisah-kisah konyol tentang mayat. Misalnya anak kedokteran yang iseng mengutil jempol kaki jasad tanpa identitas (seolah mayat itu benda pajangan di rak-rak supermarket). Atau sekelompok mahasiswa kedokteran yang pusing mengumpulkan duit, bukan untuk pesta Narkoba di akhir tahun, melainkan untuk membeli cadaver! Kata cetak miring barusan berarti: mayat yang siap dibedah, misalnya untuk belajar anatomi…

Cerita Dulu

Sepenuhnya kengerian. Hebatnya penulis buku ini begitu piawai menulis kisah-kisah yang sesungguhnya seram itu menjadi bahan canda ringan. Barangkali, ia termotivasi membeberi kisah tak lazim ini dengan pesan khas untuk mahasiswa kedokteran yang penakut. Konon, kiat untuk meredam nyali ciut dalam menghadapi mayat manusia yang terbujur di meja lab adalah dengan kata-kata ini: objektifikasi. Anggap saja onggok tubuh kaku itu adalah barang sahaja. Toh, merka tak kenal siapa roh yang dulu menghuni jasad itu.

Catatan terlama versi buku ini: manusia sesungguhnya sudah lama melihat bahwa mayat punya fungsi bagi banyak kepentingan. Paling menonjol, adalah perlakukan tak hormat terhadap para mayat, oleh mereka yang berprofesi sebagai ahli anatomi (era pra millenium). Berawal di Alexandria, Mesir, sekitar 300 SM, Raja Ptoomeus I memerintahkan pembedahan orang mati untuk mengetahui bagaimana cara kerja tubuh. Tubuh dibelah terbuka, organ dibuang, lantas mayat itu dimumifikasi (diawetkan menjadi mumi). Berlanjut kepada Bapak Anatomi dalam sejarah manusia, yaitu Herophilus. Ia terlampau ekstrem dalam memenuhi haus ilmu anatomi, sehingga tanpa belas kasihan membedah orang yang belum jadi mayat. Meski orang-orang malang itu diciduk dari tahanan (sebagai penjahat dan kaum kriminal, lihat halaman 31).

Merangkak ke era lebih dekat, yaitu Inggris, sekitar abad ke-18 atau 19. Kekejaman belum sirna, dan perilaku menghormati mayat belum lahir. Maka, saat itu terjadi tren: sebanyak mungkin memberi hukuman mati, dengan alasan sepele, misalnya mencuri babi. Cara ini jadi solusi, untuk mengatasi kelangkaan mayat. Merebaklah cerita-cerita ekstrem seputar perlakuan terhadap jasad manusia. Termasuk perdagangan mayat, perampokan mayat dari kuburan, atau pengumpulan mayat dari kalangan terbuang.

Pembusukan

Sekali lagi, buku ini bertabur dengan aroma busuk, adegan menjijikan, dan sadis berdarah-darah.

Tetapi, ada satu peringatan. Bahwa sama saja ternyata: antara mayat yang diperlakukan normal, maksudnya dikubur baik-baik, dengan mayat yang dipotong, hancur, atau berkeping karena kecelakaan. Hanya perlu beberapa hari saja, maka mayat akan “hidup kembali”. Jika tak percaya frase “mayat hidup kembali”, baiklah, anda pegang keyakinan itu, karena memang benar. Maksud saya, persisnya mayat memberi kehidupan bagi mikroba, bakteri, cacing, lalat, ulat, dan belatung.

Kondisi ini, jauh dari kesan mayat yang baik dan utuh (meski dikubur dalam peti, ditanam di kedalaman enam meter, dicor dengan semen beton). Mayat tak bisa lari dari beberapa fase pembusukan. Yaitu: tahap awal pengelupasan lapisan kulit luar; tahap kedua menggembung dan mengalami pembengkakakan; lalu masuk pada proses pembusukkan, menjadi hancur, tinggal menyisakan tulang kerangka. Inilah yang dimaksud dalam sub judul buku ini, yaitu: STIFF, Kehidupan Ganjil Mayat Manusia. Berminat baca?

Informasi Detil Buku:

Judul : STIFF, Kehidupan Ganjil Mayat Manusia

Penulis : Mary Roach

Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Agustus 2007

Tebal : 304 halaman

ISBN : 978-979-1275-08-8

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s