Buku Tentan Kapitalisme Yang Baik

Cover Buku Good Capitalism

Buku ini bersampul hitam pekat! Tetapi sesungguhnya adalah “buku putih”. Melakukan pembelaan nan meyakinkan, menyebarkan optimisme, dan membuka cakrawala pikir tentang keharusan “memilih jalan kapitalisme” menuju kemakmuran negara.

Boleh setuju atau ragu. Tetapi percayalah, buku ini berisi penjelasan yang kaya dan jauh dari dogma. Beda dengan literatur sejenis, seperti buku-buku how to atau self help (buku motivasi dan bisnis) yang terlampau berhamburan dengan janji muluk. Dalam buku berjudul Good Capitalism, Bad Capitalism, Ekonomi Pertumbuhan dan Kemakmuran ini, justru padat dengan otokritik (terhadap dalil kapitalisme dan pertumbuhan ekonomi). Para penulisnya mengakui bahwa ada sisi buruk dalam kapitalisme, tetapi banyak pula keunggulannya. Olehnya mereka menawarkan solusi. Yaitu dengan menerapkan Kapitalisme Kewirausahaan. Disertai dengan mengembang-biakkan jumlah dan mutu para pengusaha (wirausahawan).

Untuk konteks Indonesia, terasa cocok benar. Simak “keluhan” salah satu selebritis muda di blantika bisnis tanah air, yaitu Sandiaga Salahudin Uno, di Harian Kompas (03/02/2011). Menurutnya, “di Indonesia terlalu banyak politisi. Dalam Pemilu Legislatif 2009 lalu, tercatat 700.000 Caleg. Sementara jumlah wirausahawan hanya 300.000”. Pendiri dan pemilik PT Saratoga Advisor (bidang keuangan) ini pantas galau. Tak banyak sumbangan berarti dari para politisi yang membanjir ini, selain memperparah kebangkrutan negeri.

Semangat dari buku ini terpatok di situ: kebutuhan melipatgandakan jumlah dan mutu para pengusaha di tanah air. Sebagaimana disampaikan oleh Ir. Ciputra, kewirausahaan (entrepreneurship) adalah kunci menuju masa depan negara yang maju. “Saya percaya”, kata legenda bisnis nasional itu, “dengan merangkul entrepreneurship memungkinkan negara mencapai kemakmuran” (halaman viii).

Kapitalisme Baik
Di banyak negara, kapitalisme selalu dicurigai. Dianggap menjadi biang kerok segala kerusakan (budaya, alam, dan bahkan politik). Ideologi ini juga yang dijadikan musuh bersama, oleh gerakan-gerakan anti utang, anti ketergantungan, dan bahkan anti globalisasi. Seolah-olah, kapitalisme hanya sebentuk wajah tunggal (monolitik). Padahal, sebagaimana ideologi-ideologi lain yang dikenal di kolong langit ini, kapitalisme sekalipun berwajah banyak. Terdapat sisi-sisi parsialitas yang berbeda, keunikan khas, dan adaptasi serta pengembangan.

Dalam buku ini, misalnya, diperkenalkan istilah (dan juga metode) kapitalisme kewirausahaan. Kurang lebih berarti: sistem perekonomian yang bertumpu pada kehadiran inovasi —dan teknologi. Idealnya, kapitalisme jenis ini melibatkan sebanyak mungkin pengusaha-pengusaha cerdas, dan berperan sebagai inovator. Selebihnya, pengusaha pengekor (pedagang dan pebisnis musiman), dibutuhkan seperlunya saja. Mengapa inovasi? Karena dunia selalu bergerak dalam alur perubahan dan penuh ketidakpastian, maka hanya kaum inovator saja yang bisa memandu ke arah kemajuan.

Kaum intelektual kritis, boleh kecewa dengan buku ini. Karena tidak masuk ke seluk beluk paradigma dan wacana besar. Melainkan membeber contoh faktual serta trend yang sedang berlangsung. Tipologi kapitalisme yang diperkenalkan, juga semata-mata urusan bisnis dan dunia usaha —-tidak menjangkau seluruh hal. Jauh berbeda, misalnya, dengan corak lain, seperti Compasionate Capitalims (Kapitalisme berwajah manusiawi).

Optimisme
Kabar baik, sesungguhnya, terletak di penerbitan buku ini. Kita harus menatap dengan lebih elegan. Bahwa perdebatan teoritik dan ideologis, memang perlu. Tetapi tidak boleh menjadi wacana dominan. Saatnya beralih ke keyakinan mendalam. Bahwa kecurigaan berlebih terhadap para pengusaha, terhadap mentalitas entrepreneurship, seringkali berbau fobia. Lantaran faktanya, negeri ini terpuruk dalam kemelut yang itu-itu juga.

Dalam buku ini, terpapar jelas, bahwa tumbuhnya kapitalisme yang baik tidak butuh faktor-faktor yang kaku, melainkan bisa dihadirkan. Pengalaman dari berbagai negara membuktikan, bahwa apapun kondisi sebuah negara, toh bisa sukses dengan pilihan “mengembang-biakkan” kewirausahaan. Sebaliknya, negara-negara yang memiliki anugerah berlimpah (modal alam, misalnya), juga bisa gagal dalam desain pertumbuhan ekonominya.

Bukan Serakah
Di Indonesia, tetap saja lahir trauma besar. Meletakkan anasir budaya, warisan lokal, dan “keragaman identitas”, dan sumber daya manusia, sebagai sesuatu yang akan dihabisi oleh kapitalimse (dan para pengusaha). Sebagaimana popularitas istilah yang salah kaprah, bahwa kapitalisme itu rakus! Sementara buku ini berusaha meyakinkan bahwa kapitalisme itu bagus. Apa buktinya?

Pertama, di mana-mana secara manusiawi orang membutuhkan kemakmuran, atau katakanlah taraf hidup yang lebih baik. Dan para pengusaha-lah yang bisa mewujudkan ini. Tanpa adanya wirausahawan, kata buku ini, maka setiap gagasan yang baik, ide-ide yang baik, dan inovasi yang baik, hanya akan menumpuk di dalam buku dan di dalam laboratorium. Sebab tak ada pihak yang sanggup “menjual”, sebaik para wirausahawan.

Kedua, bukan asas materialisme yang menggerakan pertumbuhan ekonomi, melainkan orang ingin hidup lebih berkualitas. Benar ada ancaman buruk dari pertumbuhan ekonomi (kapitalis), seperti polusi, kerusakan alam, defisit energi, dan dehumanisasi. Tetapi, dalam buku ini, terbukti bahwa dunia bergerak ke arah sebaliknya. Dengan kemampuan kapital di tangan, orang semakin memiliki kesempatan untuk mengikis semua dampak buruk ini.

Ketiga, optimalisasi sumber daya, hanya dimungkinkan ketika sistem ekonomi yang berlaku menghargai semua ini. Manusia tidak bisa dihela secara kaku, melainkan tumbuh dengan sukarela (dan keyakinan mencapai kemakmuran). Bukan oleh kerangkeng ideologi yang membatasi naluri orang untuk menjadi lebih makmur.

Kebutuhan
Memang tidak ada kontroversi dari buku ini. Karena hadir dengan analisis dingin, jauh dari provokasi. Namun satu hal jelas, bahwa untuk melipatgandakan jumlah dan mutu para pengusaha (kaum inovator itu), butuh sejumlah prasyarat. Antara lain adalah: penghargaan terhadap hak cipta, sistem hukum yang mendukung, pranata sosial yang stabil, dukungan negara, dan mengikis faktor-faktor penghambat (seperti korupsi, kolusi, dan monopoli).

Terakhir, bagaimanapun ada keterkaitan antara penerbitan buku ini dengan cita-cita besar para pengusaha legendaris di Indonesia. Seperti buku ini, misalnya, yang lahir karena kerjasama antara Universitas Ciputra dan Kaufmann Foundation. Sangat jelas bahwa mereka menginginkan tumbuhnya kekuatan entrepreneurship di Indonesia. Siapa tahu, ini adalah solusi. Agar negeri ini tak terlalu sesak dengan politisi. Semoga saja…

Informasi Detil Buku:
Judul : Good Capitalism, Bad Capitalism
Kapitalisme Baik dan Kapitalisme Buruk dan Ekonomi Pertumbuhan dan
Kemakmuran
Penulis : Carl J. Schramm, et.al
Penerbit : Universitas Ciputra, bekerjasama dengan Gramedia, Jakarta, 2010
Tebal : 600 halaman
ISBN : 978-979-22-6210-0

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s