Buku Tentang Penaklukan Agung Dalam Islam

Cover Buku The Great Arab Conquest

Buku ini berjudul panjang: The Great Arab Conquest, Penaklukan Terbesar dalam Sejarah Islam yang Mengubah Dunia. Ditulis oleh Hugh Kennedy, Guru Besar Fakultas Kajian Asia dan Afrika, Universitas London, Inggris. Jauh dari kesan parabolis, judul buku ini justru mengungkap teks-teks klasik dan modern, guna menemukan jawaban sesungguhnya, atas pertanyaan besar yang telah lama menggantung: Mengapa begitu cepat tentara Arab-Islam menaklukkan dunia?

Hanya butuh tempo sekelebatan (untuk ukuran sejarah penaklukan di manapun), bagi Khalid Bin Walid menembus Syiria, Amr Bin Ash menaklukkan Persia, Tariq Bin Ziyad melengkapi ekspedisi ini ke Andalusia (Spanyol), Uqba Bin Nafi merebut Afrika, dan Saad Bin Abi Waqas menyeberang ke Transoxania (jalur sutera, hingga tepi barat China). Kisah gemilang ini bahkan melahirkan anekdot di kalangan sejarawan. Termasuk dari Marshall Hodgson, yang mengatakan: “Jika saat itu mahluk dari Planet Mars berkunjung ke bumi, maka ia akan mengira bahwa seluruh dunia menuju gerbang menjadi Islam…

Tapi jika sekedar ekspansi yang jadi basis pijak, banyak benar riwayat serupa —bahkan dengan kengerian tak terperi. Dari era Alexander Agung hingga Genghis Khan, dari Hernando Cortez hingga Napoleon dan Hitler. Namun terdapat kontras nyata, bahwa nyaris tak terjadi pewarisan kultural dan konversi budaya dari cerita-cerita perang besar itu. Hernando Cortez bahkan mengubur kekaisasran Aztec, dan kawannya Fernando Pizzaro membumihanguskan Bangsa Inca. Apalagi dengan Genghis Khan, yang turunannya malah beralih menjadi Islam.

Di luar klaim “takdir Tuhan”, tentu ada fakta-fakta menarik untuk dikaji. Sebab selain mendunia, pasukan Arab Islam itu juga mewarnai komposisi dunia hingga hari ini. Islam, budaya Arab, hingga Bahasa Arab, terwaris hingga sekarang, dengan komunitas yang memanjang dari Maroko hingga Indonesia.

Buku ini sanggup mengungkap tuntas, selubung misteri itu. Melacak dari era Nabi, para khalifah, dan hingga ke seluk beluk tradisi dan konsolidasi para tentara Arab di daerah taklukan. Termasuk, tentu saja, aspek-aspek militer dan teknis yang menyertainya. Bedanya: buku ini menyingkirkan klaim-klaim yang nyaris mistis dan takhayul, tentang keperkasaan balatentara Islam periode awal. Tak ada kisah malaikat yang membantu berperang. Melainkan, menceritakan apa adanya.

Mari Bandingkan
Seringkali sebuah fakta sulit diuji, kecuali membandingkannya dengan kasus sejenis. Prajurit Arab Islam, tidak menang karena kecanggihan senjata dibanding musuh. Bila kita membaca buku Hari-hari Terakhir Bangsa Inca, oleh Kim Macquarrie (terbitan Elex Media Komputindo, 2010), terpapar jelas, bagaiaman pasukan bajak laut yang dipimpin Cortes dan Pizzaro, yang menaklukan Aztec serta Inca, menggunakan senjata api, untuk membunuhi orang-orang pribumi yang hanya menggunakan panah berjarak lempar 100-an meter, sungguh timpang.

Pasukan Arab-Islam, tak punya akses teknologi ke dunia luar. Mereka bahkan tak punya seragam —di masa-masa awal, berpakaian seadanya. Kekuatan pasukan Arab tidak terletak pada formasi dan infrastruktur logistik. Mereka tidak memiliki kelebihan persenjataan —jika tak ingin dikatakan kekurangan. Pengenalan mereka terhadap baju zirah (pelindung), pedang (yang terbaik adalah hindi), panah, dan tombak panjang (rumh), dan harbah (senjata pelontar), sama belaka dengan perangkat yang digunakan musuh-musuhnya di berbagai wilayah. Begitupun dengan panji-panji uqub (symbol burung elang), suplai logistik dan dukungan mobilitas (kuda dan unta) malah jauh lebih tradisional —-tentara Romawi bahkan sudah mampu menggunakan pasukan gajah. Keunggulan itu, sejatinya, terletak pada kekuatan moral.

Disiplin Diri
Mustahil tanpa kualitas moral yang tangguh mampu membendung naluri liar kaum nomad dan suku Badui yang bergabung dalam prajurit Arab Islam. Penyebanya: cikal bakal tentara Arab-Islam, secara analogis, disebut sebagai suku Badui yang membangun tanpa bangunan, melukis tanpa gambar, dan tidak menghasilkan apapun. Kecuali warisan semangat bertempur dan menaklukan alam yang keras. Mereka terbiasa melakukan ghawzu (menyerang suku lain), kuat dengan martabat diri dan kelompok (mur’uah), dan memegang nilai-nilai maskulinitas serta kontrol diri yang kuat (hilm).

Mereka tak ingin rumit. Sebab atmosfir kehidupan begitu garang. Harus mampu melakukan perjalanan berat di gurun pasir, mencari makanan apa saja dari lahan kerontang, terlatih menunggang kuda, mahir memakai panah atau tombak, dan peka terhadap ancaman (termasuk kompetisi antar klan). Bergabung dengan komunitas Islam awal, mau tak mau, menjadi katarsis yang sempurna. Mereka tak perlu lagi bertempur dengan sesama. Justru ke luar untuk sesuatu yang jauh lebih menjanjikan, baik secara spiritual maupun material. Ini sama sekali tak bisa diperoleh dalam kehidupan lama (halaman 49).

Kaum nomad ini tak sekedar ikut karena takluk, melainkan faktor trust. Mereka terpesona oleh kualitas akhlak para penerus sirah Nabi. Lebih-lebih, mereka kenal persis keunggulan-keunggulan para pemimpin mereka (umumnya suku Quraisy), jauh sebelum Islam datang. Inilah salah satu perekat persatuan para prajurit Islam di fase awal penaklukkan.

Dengan demikian, penjelasan sosiologis, bahwa “kayu bakar” yang menggerakan mesin penaklukan itu semata-mata ekonomi, tak sepenuhnya benar. Meskipun, menurut Philip K Hitti, dalam buku The History of Arab, memang ada beberapa motif dari perluasan pengaruh Arab-Islam dari Semenanjung Hijaz ke berbagai pelosok dunia yang jauh.

Menurutnya, literatur klasik Arab menyebut gerakan itu sepenuhnya religius, tanpa ambisi ekonomi. Sedangkan hipotesis kalangan Kristen menampilkan gambaran pasukan Islam yang di tangan kanan memegang Al Qur’an, sementara tangan kanan mengacungkan pedang. Sementara perspektif lain menyebut dengan agak lebar: selain menggenggam Al Qur’an dan pedang, juga menarik pajak.

Tetapi yang jelas, pasukan Arab Islam itu, terlebih dahulu menaklukkan dirinya, sebelum menaklukan dunia. Jadi, “Islamisme” hadir lebih dahulu, baru kemudian “Arabisme”. Transformasi nilai-nilai futuhat (penaklukan), mur’uah (kehormatan), hilm (control diri)i dan semangat berperang, mendapatkan katarsis aktualisasi melalui serangkaian pertempuran ke wilayah eksternal (di luar semenanjung Arab).

Kepemimpinan
Satu lagi, tidak semua penaklukan itu beredar dalam garis militer yang agresif. Melainkan via strategi genius para jenderal. Mereka, di satu saat bisa dengan jalur diplomasi, atau kombinasi antara militer dan politik. Mengapa? Tak lain karena kualitas kepemimpinan yang bercokol saat itu. Hal ini menjawab penuh, bahwa penaklukan Arab-Islam tak melulu berdarah-darah. Para jenderal perang, bukanlah kaum barbar yang lapar dan buta hurup (sebagaimana dalam epik penaklukan di wilayah lain).

Kualitas kepemimpinan (para jenderal perang) pasukan Muslim sangat tinggi. Mereka, berbeda dengan para penakluk Spanyol dari daerah Extramedura, yaitu Fernando Pizzaro atau Hernando Cortes yang menaklukkan Aztec dan Inca di Amerika Latin, adalah para elit terdidik dan dari kalangan bangsawan terpandang. Nama-nama berikut: Khalid Bin Walid, Amr Bin Ash, Saad Bin Abi Waqas, Uqba Bin Nafi, Tareq Bin Ziyad dan Mussa Bin Nussair, adalah elit Arab yang mumpuni. Motivasi ekonomi tak cukup untuk menjelaskan keterlibatan mereka dalam rangkaian penaklukan, karena sesungguhnya priveledge itu sudah lama mereka nikmati. Mereka bukanlah para panglima yang haus darah.

Ciri lain, adalah disiplin total para jenderal itu. Hingga tak pernah terdengar mereka berniat memberontak terhadap Madinah (zaman Abu Bakar, Umar hingga Utsman dan Ali). Padahal peluang untuk itu demikian terbuka lebar. Bentang jarak yang begitu jauh, tak ada suplai logistic, jaringan surat-menyurat yang terlambat, rampasan perang yang berada di genggaman, hingga kekuasaan atas pasukan yang ril, adalah godaan yang menjerumuskan.

Tetapi tidak. Mereka berkibar dengan panji-panji Islam yang begitu kuat. Berbeda, sekedar contoh, dengan para jenderal di Romawi dan Persia, yang tak henti melakukan pemberontakan terhadap otoritas pusat. Akhirnya, menurut buku ini, keberhasilan penaklukkan Muslim adalah produk dari kondisi yang unik dan dakwah tentang keyakinan monoteistik yang baru (serta tidak rumit). Dan itu pula yang diterima oleh penduduk di wilayah koloni.


Informasi Detil Buku:

Judul: The Great Arab Conquest
Penulis: Hugh Kennedy
Penerbit: Alvabet, Januari, 2010
Tebal: 504 halaman:
ISBN: 978-979-3064-66-6

//

One thought on “Buku Tentang Penaklukan Agung Dalam Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s