Buku Tentang Teknik Baca Kilat

Cover Buku Teknik Bacakilat

Fakta tak terbantahkan: membaca adalah menyerap 100% informasi yang kita butuhkan. Dan bukan membaca 100% seluruh informasi yang disampaikan oleh para penulis buku (Tony Buzan, penemu teknik Mind Map).

Simak pula: “Buku yang baik,” kata Socrates, “adalah buku yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.” Kalau benak dipenuhi pertanyaan seputar “misteri” Gayus Tambunan, maka buku yang bisa memberi jawaban memuaskan, mungkin berasal dari buku-buku terbitan ICW (Indonesia Corruption Watch). Lantaran kasus Gayus adalah salah satu bagian dari peta korupsi di negeri ini.

Prinsip dasar ini seperti dilupakan banyak orang. Ramai-ramai belanja buku yang hangat dibincang —dalam seminar, di televisi, di koran-koran, atau menjadi favorit kawan. Begitu berada dalam genggaman, buku itu tak jua kita baca. Karena memang tidak tuntas menjawab pertanyaan-pertanyaan kita. Buku, dengan demikian adalah sumber informasi —tetapi belum tentu informasi itu menyediakan segala hal yang kita butuhkan.

Di sinilah masalah teknik dan kecerdasan membaca perlu hadir. Agar kita memiliki seperangkat kemampuan dalam memilih bacaan yang baik, sekaligus menyerapnya dengan optimal.

Buku berjudul Bacakilat, Kiat Membaca 1 Halaman/ Detik, karangan Agus Setiawan, terbitan Gramedia Pustaka Utama, November 2010 ini bisa dikatakan full recomended (sangat disarankan untuk dibaca). Sangat bagus. Karena tak melulu bicara tip, trik, atau how to. Melainkan juga bertabur kaidah motivasional. Memberi peta berpikir yang relatif baru —dan jarang disadari orang kebanyakan. Juga berwarna oleh banyak contoh serta halaman-halaman praktikal.

Berjudul bahasa dagang, alias mendramatisir dan cenderung provokatif, dengan subjudul: Kiat Membaca 1 Halaman per Detk, namun buku ini memiliki isi yang imbang. Maksudnya ada korelasi antara judul buku dan materi yang disajikan.

Berbeda dengan buku-buku bergenre sama, Agus Setiawan, penulis buku ini, menghadirkan perspektif lain. Ia mengenali pengetahuan yang mendalam tentang cara kerja pikiran. Bukunya tak cuma pejal dengan teori, tetapi juga berdasarkan riset dan pelatihan yang ia lakukan secara profesional. Tetapi satu hal paling penting: meski buku ini mengulas teknik meningkatkan kecepatan membaca, bukan berarti menghilangkan soal kemampuan “menyerap isi” bacaan.

Kalaupun ada keraguan atas efektivitas dan “janji manis” dari buku ini, tak lain karena ketidakhadiran isu-isu mendasar dalam dunia baca membaca (literacy traditions).

Setidaknya ada tiga isu penting yang tak digarap buku ini. Antara lain: (1) Apakah semua buku bisa dibaca dengan cepat, termasuk text buku dari disiplin ilmu fisika? (2) Bagaimana dengan puisi atau karya sastra yang justru lebih afdal diaca pelan? (3) Haruskah Al Qur,an dibaca sekelebatan petir?

Tak apalah. Barangkali penulisnya menganggap hal-hal seperti itu bukan prioritas dalam memberantas penyakit lamban baca yang hinggap di masyarakat kita. Ia berjuang dengan ambisi mulia: membantu orang-orang yang punya hobi baca namun kepepet waktu. Teknik membaca 1 halaman per detik, sungguh jadi jalan ke luar andalan.

Lagipula sangat realistis. Para penggila buku telah akrab dengan kisah-kisah fenomenal tentang kecepatan membaca. Misalnya Franklin Delano Roosevelt yang meski sibuk luar biasa, masih mampu menuntaskan minimal enam eksemplar buku setiap hari. Juga perilaku ilmuan-ilmuan zaman pencerahan yang bisa pulang pergi ke kantor sembar membaca —tanpa harus kecebur got! Cerita unik juga datang dari Adam Smith, yang konon bisa membaca sembari berjalan mundur. Kecepatan membaca, dengan demikian bukan sesuatu yang musykil.

Perspektif Awal
Kata kunci dalam keseluruhan buku ini adalah membangkitkan kemampuan “komputer biologis” dalam otak kita (lihat halaman xxvii, Kata Pengantar). Detilnya adalah: otak memiliki kecepatan menyerap kata yang luar biasa. Juga mata dan memori berdaya tampung begitu besar dalam memindai ratusan ribu bit informasi per menitnya. Olehnya, kita hanya perlu mengaktivasi semua potensi ini. Dengan latihan terstruktur, tentu saja.

Lazim pula, bila semua buku tentang teknik membaca mengingatkan tentang hal-hal mendasar ini. Seperti teknik fiksasi (fokus mata dalam menelusur halaman buku), non regresi (menghindari pengulangan), memberantas penyakit “jari telunjuk” yang bergerak-gerak di halaman buku, atau leher yang menggeleng ke kanan dan ke kiri. Semua ini penghambat kecepatan membaca.

Lantas, di wilayah teknik, ada beragam teori. Seperti metode PQ3R, yaitu melakukan Prepare (persiapan), Question (bertanya tentang isi buku), Read (membaca cepat struktur umum buku), Recite (memperlambat baca pada bagian penting) dan Review (mengulas ulang isi buku).

Sekali lagi ini hal-hal umum, menyangkut teknik fisik dan teknik praktis. Sementara ada juga inovasi lain dalam membaca, seperti membaca indexical reading, artinya kemampuan membaca cepat dengan langsung ke istilah, tema, ide pokok dalam sebuah buku (artinya, indek adalah penunjuk). Belakangan juga berkembang perspektif alternatif dalam membaca. Seperti teknik inspeksi (memeriksa buku) dan membaca sintopik (menghubung-hubungkan tema dalam bacaan).

Sementara buku ini melompat lebih dari sekedar teknik mendasar itu. Penulisnya menawarkan teknik berdialog dengan buku. Andalannya adlaah pada kapasitas memori, kesadaran otak, sekaligus alam bawah sadar kita dalam berdialog dengan buku. Malah di beberapa halaman, buku ini mengajukan teknik menghadirkan intuisi (firasat) dalam membaca sebuah buku.

Titik tumpu dalam kecepatan membaca, seperti digambarkan buku ini di halaman 31, adalah “daya jelajah otak yang luar biasa”. Otak kita, ketika membaca harus memiliki gambaran besar dan arah yang jelas. Sehingga ketika membaca, otak kita bekerja dengan jauh lebih baik. Menurut buku ini, otak juga otomatis bekerja dengan mengait-ngaitkan setiap informasi yang ditangkap. Meski, misalnya, kita tak membaca utuh sebuah buku, tetapi dengan menyerap potongan-potongan ide utama dalam buku, maka kita bisa menguasai isu buku. Jadi, secepat kilat kita paham keseluruhan isi buku.

Demikianlah gagasan pokok yang terhidang di buku ini. Sebab perkara lainnya, hanyalah penguatan dari hal-hal yang selama ini sering kita sepelekan. Seperti menghadirkan memori jangka panjang dalam benak (guna menyimpan informasi yang sudah kita serap dalam buku), atau juga tentang penciptaan kondisi-kondisi yang memperkuat tradisi kita dalam membaca (secara cepat dan efektif). Selamat mempelajari.


Informasi Detil Buku:

Judul Buku: Bacakilat, Kiat Membaca 1 Halaman Per Detik
Penulis: Agus Setiawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, November 2010
Tebal: 242 halaman:
ISBN: 978-979-22-5987-2

//

12 thoughts on “Buku Tentang Teknik Baca Kilat

  1. barusan dapet bukunya nih.. segera dibaca kilat.. mudah2an memang bisa 1 detik ya? kalau halamannya cuma judul aja… hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s