Sebuah Novel tentang Konflik Sosialisme di Chile

Novel The House of The Spirit

Sebuah rezim Sosialis tumbang melalui kudeta berdarah. Presiden Salvador Allende (terpilih melalui Pemilu demokratis) tewas dengan patriotik, oleh pemberontakan militer, kaum kapitalis lokal, dan sekutu Amerika Serikat.

Tetapi kematiannya berbekas panjang. Terutama untuk sebuah tema tunggal: cita-cita sosialis melalui jalan demokratis. Kudeta Chile kini menjadi causa celebrare (sebuah contoh yang selalu disebut, ketika orang membincangkan cara-cara menuju negara sosialis, tanpa melalui revolusi model Marx-Lenin).

Apa pentingnya untuk kita, orang Indonesia yang membaca Novel ini? Tak lain tak bukan karena terungkapnya berbagai dokumen yang menyebut-nyebut KODE JAKARTA, dalam pemberontakan di Chile.

Dan novel ini menyebut-nyebut hal itu, bahkan mengungkapkan bahwa beberapa hari sebelum pemberontakan pecah, banyak slebaran dan pamflet di jalanan yang berjudul JAKARTA. Militer yang melakukan coup, melibatkan kalangan kanan, agamawan, dan mahasiswa, untuk menumbangkan Presiden Allende. Konon, strategi ini mengadaptasi model kudeta Orde Baru terhadap Bung Karno. Penggulingan militer Indonesia itu, tak pelak, juga ditiru negara-negara lain. Bahkan rezim Junta Militer Burma/Myanmar, terang-terangan mengakui meniru gaya militeristik Soeharto. Inilah latar historis yang menjadi setting cerita novel ini, yang berjudul Rumah Arwah (The House of The Spirit).

Tapi novel ini bukan buku politik. Melainkan berkait berkelindan dengan dunia takhyul, cenayang, mistis, paranormal, dan kaum proletar yang bodoh dan ditindas. Jalinan cerita begitu pelik tapi menggigit. Penulis novel ini, yaitu Issabel Allende, terkategori prolifik, teramat pandai menuangkan pengisahan.

Kisah bermula dari tiga generasi perempuan keluarga Trueba, dalam bingkai negara Amerika Latin yang penuh pergolakan. Esteban—pemimpin keluarga besar Trueba. Lelaki angkuh yang nafsunya untuk memiliki tanah telah melegenda, dan tindakan-tindakannya di masa lalu membawa akibat bagi anak-anak dan cucunya kelak.

Clara si Cenayang—misterius dan sukar diraih. Dialah yang menjadi ruh dari rumah besar Trueba dan meramalkan tragedi yang akan menimpa keluarganya. Dan terakhir, Blanca—anak perempuan mereka yang lembut namun pemberontak. Cintanya pada putra mandor perkebunan ayahnya memicu kebencian Esteban Trueba hingga berpuluh tahun kemudian, meski dari hubungan itu lahir cucu yang sangat disayangi Esteban. Di ujung novel, masih ada tokoh lain, yaitu Alba—buah cinta terlarang Blanca. Perempuan penuh tekad yang memutus hubungan keluarga besarnya dengan masa lalu dan menjadi rantai penghubung ke masa depan. Tiga tokoh perempuan ini, selalu menggunakan nama yang memiliki arti yang sama, yaitu “bersinar”.

Penindas
Sentral cerita berada pada lelaki bernama Esteban Trueba. Setelah gagal menambang emas, ambisinya untuk kaya raya beralih ke sebuah desa terpencil, Tres Mariah, yang hanya dihuni oleh warga lokal yang bodoh dan penakut. Dengan kekejian tak terperi, Esteban Trueba menjadi kaya raya. Rakyat dipaksa bekerja, tanpa upah layak. dan anak gadis mereka menjadi sasaran pemuas nafsunya. Tak ayal, kemudian lahir begitu banyak anak haram (lalu anak haram itupun melahirkan cucu, yang dikemudian hari melakukan balas dendam kepada keluarga Esteban Trueba). Intinya, praktek penindasan Esteban adalah kapitalisme purba.

Keluarga kaya raya milik Esteban, diisi oleh para peremuan aneh, terutama adalah Clara (seorang yang bisa bergaul dengan mahluk halus, sekaligus selalu tepat dalam meramal), dan juga Blanca (gadis cantik, tetapi jatuh cinta terhadap pria proletar, anak dari Mandor di perkebunan milik ayahnya). Dalam kehidupan keluarga inilah cerita menjelujur ke aneka tema: politik, balas dendam, mistik, dan para petani yang melarat. Clara, meski terlahir cantik dan kaya, ternyata seorang yang sangat filantropik, ia selalu membantu orang-orang miskin di sekitarnya. Tetapi, karakternya aneh, sering berperilaku mistis dan sulit ditebak. Sementara Blanca, anaknya, hanya sibuk bercinta dengan kekasih gelapnya, dan tidak memiliki kecerdasan seperti ayah dan ibunya.

Balas Dendam
Di kemudian hari, setelah Clara meninggal dan Esteban Trueba menjadi tua, lahirlah berbagai upaya balas dendam terhadap keluarga ini. Mereka mengalami periode pahit dan getir, baik setelah kubu sosialis komunis menang (melawan para kapitalis), maupun ketika kubu kapitalis berkuasa kembali. Cucu mereka, menjadi korban amarah dan kesumat yang membabi buta, dari anak-anak haram yang lahir dari para gadis yang diperkosa oleh Esteban Trueba.

Novel ini, secara keseluruhan sama sekali tak menyebut identitas, baik Negara Chile, maupun nama tempat dan para tokoh asli yang hidup di periode pergolakan di negara itu. Tetapi untuk para pembaca yang tahu sejarah, tak akan ragu, bahwa novel ini menggambarkan pergolakan menjelang dan paska revolusi berdarah di Chile, termasuk tentang tewasnya Salvador Allende.

Informasi Detil Buku;
Judul: The House of The Spirit (Rumah Arwah)
Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2010
Penulis: Issabel Allende

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s