Novel Therapy, Tanpa Bukti, Tanpa Saksi

Novel Therapy, tanpa bukti, tanpa saksi

Di Jerman, novel ini disebut-sebut lebih dahsyat dibanding karya-karya Dan Brown! Tetapi memang memikat. Tak pernah satu lembar pun dari alur novel ini bisa kita tebak. Tetapi saripatinya kurang lebih  berikut ini:

Seorang pembunuh melacak kejahatannya sendiri! Lewat mimpi-mimpi. Melalui halusinasi. Dan bahkan melalui tokoh rekaan yang beredar dari imajinasinya. Pelan tapi pasti: Sang Pembunuh menyadari bahwa dirinyalah yang melakukan tindakan pembunuhan terhadap puteri tunggalnya.

Novel ini adalah buku psikonalisis yang sebenar-benarnya. Bukan hanya bertabur istilah psikiatri, psikoanalisis, atau terapi kejiwaan lainnya. Melainkan nyaris seluruh tokoh utama berperan sebagai psikolog atau psikiater (termasuk Victor Larenz, tokoh utama di novel ini, seorang ayah yang tega menyiksa dan membunuh anaknya). Sementara beberapa figur lain, juga berlatar belakang praktisi medis, seperti Dr. Roth, yang menjadi “konsultan kejiwaan” dari Victor Larenz.

Tetapi motivasi pembunuhan itu sama sekali bukan kriminalitas biasa. Sang Ayah yang tega itu, melenyapkan Josy (puterinya yang berusia belasan tahun), karena faktor possesif, alias kecintaan  berlebihan. Ia tak bisa menerima kenyataan, bahwa Sang Puteri beranjak dewasa (misalnya melalui fase mentruasi). Lalu, sebagai seorang yang terlibat dalam dunia medis, ia memberikan anaknya itu obat-obatan khusus,  yang berfungsi sebagai racun. Dalam dunia medis, formula “meracuni” seperti itu disebut FII (Fabricated Induce Illness). Artinya:sengaja membuat orang yang diberikan obat menjadi sakit terus-menerus, agar tercipta kondisi ketergantungan.

Praktek ini sukses. Sang puteri, sakit terus menerus, dengan gejala aneh. Berbagai dokter spesialis telah didatangkan, lebih dari dua puluh dua orang, tapi tak satupun berhasil melakukan diagnosa yang akurat. Tetapi, secara sengaja, si pasien kecil yang menderita ini, tidak didatangkan kepada Dokter Ahli Alergi. Kecuali dalam satu hal: yaitu imajinasi sang Ayah, bahwa si anak telah di bawa ke seorang dokter ahli alergi, yaitu Dokter Grooke. Tentu saja ini adalah bohong, dan hanya menjadi alibi, untuk menceritakan bahwa Sang Puteri hilang ketika berada di tempat praktek dokter ahli alergi.

Berlapis

Sulit mendefinisikan genre novel ini, karena semua hal tercakup. Mulai dari horor, teror, misteri, romansa, kriminal, hingga aksi detektif yang tekun, tertuang di sini. Hingga itu, sebuah ulasan menyebut buku ini sebagai dingin dan beku.

Penyelaman hanya bisa kita lakukan lapis demi lapis, sembari menelusur aksi para tokoh yang “dijahit” dalam cerita. Jika tidak begitu, pembaca akan tersesat dan keliru mendefiniskan tokoh dan perannya. Salah satu contoh, seorang tokoh bernama Anna Glass, digambarkan sebagai perempuan cantik, penderita Skizoprenia (waham, atau sakit jiwa), hadir sebagai pemberi petunjuk tentang tragedi hilangnya Jossy (seorang anak kecil yang sakit dan diberitakan telah wafat). Anna Glass membuka informasi detil demi detil. Mulai dari lokasi, barang-barang milik Jossy, hingga penderitaan dan imajinasi-imajinasi Jossy. Keterangan Anna Glass inilah yang dijadikan peta investigasi oleh Victor Larenz (sang Ayah pembunuh), untuk mengetahui “keberadaan” dan “sebab-sebab kematian puterinya”.

Namun tak pernah kita bayangkan… Ternyata Anna Glass adalah personifikasi atau bayang-bayang imajiner dari Victor Larenz. Sebab dalam dunia nyata, Anna Glass tak pernah ada. Anna Glass, dalam teori Psikonalisis, adalah “alter ego” dari Victor (sebuah posisi kepribadian yang menyalin aspek-aspek kejiwaan orang tertentu, dalam hal ini, Anna Glass adalah penyalin kepribadian Victor yang terganggu).

Thriller atau Suspend

Setiap kali hadir kejutan. Sebut saja sebagai thriller, misalnya karakter Anna Glass yang nyaris psikopat, karena begitu misterius dan mengancam. Atau di lembar-lembar tertentu kita bersirobok dengan temuan fakta-fakta yang mengejutkan (inilah suspend-nya). Seperti ketika detektif yang ikut melacak kasus ini menemukan fakta-fakta yang berbeda dengan berbagai keterangan yang dianggap resmi.

Namun bagian paling kontroversial adalah justru di ujung novel ini. Ternyata, Josy sama sekali tidak tewas. Benar memang ia pernah sakit dan menghilang. Tetapi, sama sekali tak terbunuh. Anak puteri itu justru diselamatkan ibunya. Tetapi, sang Ibu inipun bukan sebagai pahlawan, tetapi pemeras. Isabel, nama perempuan yang menikahi Victor (dan memiliki anak, yaitu Jossy), adalah tokoh kunci dari seluruh rangkaian misteri ini. Isabel sengaja memanfaatkan suaminya yang depresi, serta merekayasa tentang hilang dan tewasnya Jossy. Untuk itu, ia memperoleh keuntungan luar biasa. Ia pergi ke Argentina, bersenang-senang, dan mengambil semua harta kekayaan suami dan anaknya.

Akhirulkalam, Victor benar-benar seorang penyandang Skizoprenik yang mampu menyembuhkan dirinya sendiri, atau Self Therapy. Ia, dibimbing oleh konsultannya, yaitu Dr. Roth, berhasil merangkai berbagai alur cerita untuk menemukan kebenaran. Bahwa benar ialah yang menyiksa anaknya, tetapi ia tidak membunuh…

Informasi Detil Buku:

Judul: Therapy

Penulis: Sebastian Fitzek

Penerbit: Ufuk Press, Jakarta, 2010

Tebal: 439 halaman

//

7 thoughts on “Novel Therapy, Tanpa Bukti, Tanpa Saksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s