Buku Tentang Kajian Filosofis Soempah Pemoeda

Buku Kajian Filosofis Soempah Pemoeda

Soempah Pemoeda tak lahir tiba-tiba. Melainkan via perdebatan panjang. Tetapi satu hal jelas, mereka berselisih gagasan dengan sopan, lemah lembut, dan kuat dengan nuansa intelektual. Tidak seperti “konflik kaum muda” hari ini.

Buku ini dengan telak menohok kesadaran kita tentang (perlunya) pemaknaan ulang terhadap setiap etape sejarah nasional. Pembacaan kita terhadap setiap momen historis, selama ini, terlalu makro dan generalis. Sehingga mengabaikan sekian banyak detil dan serpihan peristiwa. Cara kita menatap sejarah, tak lebih baik dari gaya menatap album kenangan (hanya melihat gambar yang terpampang, tanpa menyelami sesuatu dibalik hadirnya gambar). Termasuk, misalnya, tatapan terhadap kelahiran Soempah Pemoda, di Tahun 1928.

Padahal secara hakiki peristiwa maha penting itu begitu mengesankan. Dalam banyak hal, meski ditulis secara makro, buku ini berhasil mengangkat berbagai detil, yang mendorong lahirnya Manifesto Politik kaum muda saat itu. Secara umum, kita sepakat bahwa Soempah Pemoeda adalah konsensus politik paling awal yang menyatukan keragaman identitas nasional menuju ikatan bersama (satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa). Kelak di kemudian hari, konsensus Seompah Pemoeda memberikan pijakan awal bagi lahirnya identitas dan politik kebangsaan kita.

Buku ini, berjudul Sejarah Konsensus Politik Indonesia, Kajian Filosofis, ditulis oleh Khatibul Umam Wiranu (Anggota DPR RI, Komisi II), terbitan Saung Buku, Depok, Juni 2010, menyelam ke dasar persoalan: sebab-sebab dan proses terjadinya Soempah Pemoeda. Awalnya, buku ini berasal dari tesis penulisnya di Departemen Filsafat, Universitas Indonesia, yang berjudul Konsensus dalam Lintasan Sejarah Indonesia. Kemudian diracik sebagai buku tipis, dengan tetap bersandar pada telaah teori Communicatif Action, dari Jurgen Habermas. Bagaimana lengkapnya analisis buku ini terhadap tafsir Filosofis Soempah Pemodea?

Perdebatan Sopan
Bukanlah sebuah spekulasi, bahwa para wakil pemuda saat itu dating dari berbagai ragam (suku, agama, daerah, latar pendidikan, dan status ekonomi). Pluralitas itu bukan soal mudah untuk melahirkan sebuah “kesepakatan besar dan strategis”. Melainkan melalui perdebatan panjang, dialektika, konfrontasi, dan akhirnya kompromi politik.

Berikut keterangan menarik: banyak di antara peserta kongres yang berlatar pendidikan Belanda, bahkan hanya bisa Bahasa Belanda dan Bahasa Daerahnya… Misalnya terlihat saat seorang peserta bernama Poernomowoelan, yang membacakan makalahnya dalam Bahasa Belanda, dan diterjemaahkan oleh Mohammad Yamin (halaman 12 dan 13). Fakta lain, para delegasi juga datang dari pelbagai daerah, dengan mengusung organisasi kedaerahan masing-masing (Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Islamiten Bond, dan lain-lain).

Menurut buku ini, pada awalnya, mereka menolak “identitas kebangsaan yang digagas”, karena khawatir akan mengikis corak kedaerahan dari masing-masing delegasi. Alasan lain terhadap penolakan adalah karena semangat kecintaan terhadap etnis, misalnya khawatir kehilangan warna etnis mereka, seperti hilangnya tulisan Jawa dan Melayu (halaman 16). Tetapi satu hal menjadi acuan dan hikmah tak terperi untuk kaum muda saat ini, bahwa perdebatan berlangsung secara sopan, lemah lembut, dan kuat nuansa intelektual.

Rupanya perselisihan tajam itu mengendur karena menyepakati lima hal sebagai titik pijak, yang dibacakan oleh M. Yamin, yaitu masing-masing: (1) penyatuan Indonesia atas dasa sejarah, (2) bahasa, (3) adat istiadat; (4) pendidikan, dan (5) kemauan atau cita-cita bersama. Poin terakhir, yaitu kemauan dan cita-cita bersama inilah yang mengakhiri perdebatan seru dalam Kongres II Pemuda, di 1928 itu. Dalam catatan buku ini, M. Yamin begitu fasih berpidato dan tampil memukai. Ia lebih banyak membuat efek dramatisasi atas citra kesatuan Indonesia, sehingga bisa diterima oleh hadirin (halaman 17).

Anti Dominasi
Potret lain yang berhasil ditelisik oleh buku ini adalah suasana egaliter (kesederajatan) yang menjadi atmosfir Kongres Pemuda ke II itu. Mayoritas delegasi adalah didikan Belanda, meski mereka tersebar dalam elemen-elemen yang datang (kelompok kedaerahan, keagamaan, dan bahkan mereka yang menjadi pegawai Pemerintah). Akan tetapi, semua kontingen diberikan hak dan kesempatan yang sama, dalam mengajukan gagasan dan aspirasinya masing-masing.

Di sinilah tafsir baru terhadap Soempah Pemoeda berlangsung. Buku ini menyandarkan penafsiran pada teori-teori kritis dari Jurgen Habermas, yaitu Rasio Komunikatif (atau komunikasi deliberatif, pembebasan). Dalam tiang argumentasi Habermas, komunikasi pembebasan atau rasio komunikasi adalah faktor-faktor yang niscaya untuk menghilangkan “dominasi komunikasi”. Dominasi komunikasi, tak lain adalah penguasaan ruang publik dan opini publik yang terpusat pada kelompok tertentu (Habermas menyebutnya sebagai ruang publik borjuis).

Dalam kasus Soempah Pemoeda, para delegasi berhasil menyingkirkan kabut dominasi komunikasi tersebut. Para pemuda dalam agenda kongresnya, berhasil menghadirkan situasi percakapan yang ideal, di mana partisipan bebas untuk berbicara, bebas untuk mendengarkan, bebas dari rasa takut, bebas dari terror, dan bebas dari kontrol yang memaksa (halaman 81). Situasi ideal ini bisa lahir, karena adanya prasyarat dasar yang terpenuhi, yaitu (1) kesempatan yang sama untuk berpartisipasi; (2) setiap individu diijinkan memperkenalkan ide-ide mereka; dan (3) setiap individu berkomitmen untuk menghormati etika bersama.

Dengan demikian, jelaslah bahwa tak ada kekeliruan apapun bila kita tetap megusung momen Soempah Pemoeda sebagai bagian penting dari tapak sejarah nasionalisme kita. Karena manipesto para pemuda itu, yang melahirkan konsensus nasional, dan menjadi awal bagi identitas social politik kebangsaan, lahir karena sukarela, dan berjiwa voluntarisme (keikhlasan berpolitik). Bukan lahir karena paksaan, dominasi, dan tekanan dari pihak tertentu. Semoga para pemuda hari ini bisa belajar banyak dari kasus ini.

Informasi Detil Buku:
Judul : Sejarah Konsensus Politik Indonesia, Kajian
Filosofis
Penulis : Khatibul Umam Wiranu
Penerbit : Saung Buku, Depok, Juni 2010
Tebal : 153 halaman

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s