Buku Tentang Perang Industri Tembakau

Industri tembakau yang berbasis pada peggunaan nikotin hisap (dan dibakar), kini benar-benar terpojok. Bisnis mereka seolah sama belaka dengan evil merchant (perdagangan Iblis). Tak kalah jahat dari perdagangan obat bius atau praktek jual beli senjata illegal. Benarkah industri rokok, bisnis tembakau, dan sekaligus para perkokok sejahat itu?

Buku ini jelas melawan arus. Di tengah kampanye global memerangi rokok, buku ini justru melawan dengan keras, bahwa program kampanye anti rokok adalah gombal, alias rekayasa perusahaan farmasi berskala besar.

Menggelontorkan berbagai dokumen, hasil riset, dan temuan-temuan akademik yang membuktikan bahwa nikotin (dalam tembakau) tak benar-benar jahat, melainkan justru menyimpan berbagai potensi. Singkat kata, sebagaimana perang seumumnya, cap jahat terhadap rokok, perokok, dan industri rokok, adalah manipulasi kejam, baik secara medis, ilmiah, maupun politik.

Paling menonjol, tak lain adalah kriminalisasi terhadap para perokok. Sekarang ini, perilaku merokok dianggap sebagai wabah global dan pembunuh nomor satu. Padahal, tradisi merokok sudah berlangsung berabad-abad lalu, dan hanya terkategori keburukan biasa. Lucunya, masyarakat terlalu gampang menerima. Seolah, rokok jauh lebih jahat dari konflik sosial, depresi ekonomi, kriminalitas berdarah, perang, atau hal lain yang lebih banyak membunuh manusia. Buku ini bahkan menyebutkan bukan rokok penyebab utama penyakit jantung, melainkan kemiskinan dan pengangguran.

Dulu, meski memang dalam beberapa hal buruk, para perokok tidak pernah mendapat cap sosial seperti sekarang ini. Kini, di banyak tempat yang bisa ditemui, begitu banyak iklan, pariwara, warta layanan sosial, ataupun pidato para dokter dan pejabat kesehatan publik, tak segan menganggap bahwa “asap dari perokok” adalah pembunuh nomor satu. Kriminalisasi terhadap rokok dan tembakau (serta industri dan bisnis tembakau) berlangsung begitu bebas. Karena mendapat dukungan total dari WHO, industri farmasi global, organisasi-organisasi medis, dan juga rezim pemerintahan di mana-mana.

Buku ini, yang merupakan kajian riset mendalam terhadap sumber-sumber kampanye global untuk memerangi kepul tembakau, membeberkan fakta mencengangkan. Ditulis selama kurun 10 tahun oleh Wanda Hamilton, seorang peneliti independent dan pengajar di tiga universitas terkemuka di Amerika Serikat. Buku berjudul lengkap Nicotin War, Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat ini membuktikan konsep berikut ini.

Pertama, kampanye bahwa nikotin (dalam tembakau) sebagai Iblis bagi kesehatan, adalah publikasi sesat yang sengaja dirancang berbagai industri farmasi berskala raksasa. Kedua, bukan hanya kampanye, tetapi industri farmasi berkolaborasi dengan WHO dan aparat Negara di mana-mana, sengaja membunuh industri tembakau secara pelan tapi pasti —agar industri farmasi dapat secara bebas memanfaatkan nikotin bagi obat-obatan.  Ketiga, ujung dari perang besar terhadap tembakau itu, tak lain adalah menjual obat-obatan anti rokok, dalam bentuk permen, koyo, cairan, tablet, dan lain sebagainya.

Bagaimana perang antara perusahaan farmasi dengan perusahaan rokok ini berlangsung? Ceritanya cukup panjang. Genderang perang dimulai sejak decade 80-an, tetapi kian gencar saat berlangsung konferensi dunia tentang tembakau dan kesehatan publik, pada Tahun 1990, dan sepakat bahwa komunitas kesehatan global harus terus mempromosikan dengan kegairahan penuh dalam memasarkan obat-obatan anti rokok (halaman 3)

Strategi “anti tembakau” juga menularkan atau tepatnya mengubah pola pikir masyarakat dunia, bahwa merokok yang sebenarnya hanyalah berbentuk “kebiasaan” (habituating) menjadi “ketagihan” (addicting) yang buruk. Artinya, secara terapis hal itu harus ditangani (halaman 4).

Padahal, banyak penelitian membuktikan bahwa sesungguhnya nikotin memiliki potensi untuk dimanfaatkan secara medis, terutama dalam merawat penyakit-penyakit tertentu. Para pakar mengetahui bahwa nikotin meningkatkan konsentrasi dan kontrol syaraf motorik, meningkatkan ambang batas rasa nyeri, dan dapat dipakai untuk penderita Alzheimer dan Parkinson (halaman 5).

Masalahnya, nikotin tak dapat dipatenkan (untuk dimonopoli), karena terkandung secara alami dalam tembakau, tomat dan beberapa sayuran lain. Yang dapat dipatenkan hanyalah senyawa pengantar nikotin (dan ini dipakai untuk industrialisasi obat-obatan anti merokok, dalam bentuk permen, inhaler, pil, obat tetes, koyok, dan lain sebagainya).

Siasat anti tembakau juga bergerak dalam arena politik-ekonomi. Misalnya: (1) menaikkan pajak tembakau setinggi langit; (2) melekatkan cap jahat terhadap industri tembakau, misalnya sebagai evil merchant (perdagangan iblis) sebagaimana bisnis narkotika atau bisnis senjata illegal; dan (3) mempromosikan terapi berhenti merokok sekaligus menjual sarana pengenti merokok.

Fakta terbalik, bahwa penyebab penyakit jantung paling utama bersumber dari tembakau sama sekali tak sepadan dengan bukti lapangan. Kemiskinan, konflik, depresi, pengangguran, dan perang, adalah jauh lebih banyak menjadi penyebab orang sakit jantung. Fakta juga, di Indonesia industri tembakau memberi pajak jauh lebih besar daripada perusahaan tambang, dan menghidupi 6 juta petani tembakau. Jika kampanye anti tembakau membunuh penggunaan tembakau, maka akan lahir 10% pengangguran baru. Nah, masihkan kita dengan keterlaluan meng-Iblis-kan para perokok?

Informasi Detil Buku:

Judul                  : Nicotin War, Perang Nikotin dan Para Pedagang Rokok

Penulis               : Wanda Hamilton

Penerbit            : Insist Pers, 2010

Tebal                   : 128 halaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s