Buku Tentang Pelayaran Cheng Ho di Eropa

Siapa bilang kebangkitan (renaisance) Eropa berbasis (hanya kepada) rasionalitas dan inovasi teknologi dari mereka sendiri? Klaim otensitas atau kemurnian sebuah temuan, dalam bidang ilmu ataupun perangkat canggih, tak bisa sepihak. Karena di sana ada jasad renik dari pelbagai peradaban lain, yang bersumber dari multi jurusan.

Begitupun dengan sejarah peradaban Eropa, yang berpendar oleh temuan-temuan para jenius, dan bangkit dari keterpurukan era kegelapan, adalah niscaya bersumber dari sumbangan banyak pihak. Dan menurut buku ini, yang berjudul 1434, Saat Armada Besar China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisance, pihak penyumbang terbesar adalah tak pelak lagi China.

Melalui pelayaran kolosal melalui 1.000 Armada besar yang dipimpin Admiral Cheng Ho. Konon, seorang Cheng Ho yang beragama Islam itu membawa ribuan lembar naskah Ensiklopedik, berisi belasan ilmu-ilmu praktis, dan Armada yang ia bawa cukup layak disebut sebagai Perpustakaan Berjalan. Karunia besar ini lah yang kemudian ia bagikan dan sebarkan terhadap setiap titik yang disinggahi, termasuk Viena, Italia (sebaga pusat kebangkitan ilmiah di Eropa).

Perisitiwa ini historis, melalui beragam bukti yang dirangkai oleh Gavin Manzies (penulis buku ini). Agaknya semakin bertambah petunjuk akademik, seputar sejarah Abad Pertengahan, yang selama ini ditulis melalui otoritas ilmuan Eropa, dengan pengakuan tunggal: bahwa mereka bangkit sendirian. Dengan demikian, Sejarah Eropa yang menegasikan bangsa lain, sudah sepatutnya dikoreksi terus menerus.

Sejatinya memang begitu. Terdapat mata rantai sejarah yang harus disambung-sambungkan, demi memahami dengan sahih, rahasia kedigdayaan Eropa era silam yang bertengger hingga masa terkini.
Nilai buku ini, yang diterbitkan Pustaka Alvabet, Jakarta, April 2009, adalah meluruhkan potensi “rasisme sejarah”. Betapa tidak, narasi besar tentang renaisance atau era pencerahan Eropa terlalu ramai dengan nuansa Eurosentris, alias mengagung-agungkan Eropa, seraya meminggirkan peran kontributif dari peradaban lain, seperti dari dunia Islam, China, atau bahkan India. Ini adalah hal pertama.

Berikutnya, hal yang kedua, berlawanan dengan kredo bahwa Sejarah adalah selalu bercerita tentang pemenang, buku ini justru menyaji perspektif di luar pakem seumumnya, yang tak lain adalah penceritaan detil tentang interaksi fisik antara dunia Eropa dan Dunia China. Bukan semata pertemuan antara dua pewaris peradaban besar dunia itu, melainkan adalah fakta tentang siapa yang lebih dahulu tercerahkan? Atau tepatnya: China ternyata jauh lebih di depan dalam melahirkan aneka benda berharga dan pelbagai ilmu pengetahuan praksis. Mulai dari ilmu perbintangan, geologi, peta dunia, hingga mesin cetak dan helikopter!

Lengkapnya berkut ini: Eropa menjadi Ratu Dunia. Revolusi yang lantas kita sebut sebagai renaisance dicetuskan oleh kombinasi antara penularan ilmu pengetahuan besar-besaran dari China ke Eropa, dan itu berlangsung dalam rentang waktu yang singkat (halaman 293). Uraian ini berlanjut dengan deskripsi tentang kemampuan Eropa dari sisi Militer (penggunaan mesiu dan mesin perang), dari sisi pelayaran (penggunaan peta dunia yang mendekati kenyataan), dari sisi teknologi, astronom, perdagangan, hingga pertambangan dan sen arsitektur. Semuanya harus diakui dengan jujur: belajar dari China.

Difusi Sejarah
Bila terkesan menghakimi, baiklah. Koreksi bisa berlangsung dari difusi sejarah (atau penyebaran sejarah). Jauh sebelum Eropa bangkit, dunia telah mengenal pertumbuhan pemikiran dan teknik, entah dari Mesir, Yunani, juga dunia Arab. Bukan sodoran berlebihan, andai menyebut bahwa sumber kebangkitan intelektual Eropa, melalui sederetan tokoh-tokohnya (dari Descrates, Galileo, Newton, hingga Leonardo Da Vinci), adalah karena pembebasan Eropa dari mitos dan kungkungan irasionalitas. Eropa belajar filsafat dari Yunani, entah Socrates, Plato, atau Aristoteles.

Tetapi jangan lupa, ada garis kontinum yang menyelamatkan warisan filsafat dan tradisi logika (dan berpikir kritis) milik Yunani, yang dilakukan oleh para pemikir Islam. Inilah yang disebut dengan difusi (atau penyebaran) sejarah dan peradaban.

Jalan Surga
Kembali pada sumbangsih China. Jauh sebelum pelayaran ke Eropa, leluhur China adalah para pengembara yang mampu menaklukan daratan di ujung barat dan ujung selatan negeri itu, melalui balatentara tangguh dan bengis dari Genghis Khan, dan menaklukan lebih dari separuh ke-khalifahan Islam.

Artinya, spirit merambah dan bergerak ke luar adalah tradisi China yang tak terbantah. Menurut sejarawan John Man, penulis buku Leadership Secret of Genghis Khan, kecerdasan para penakluk Mongolia ini terletak pada kehebatan mereka dalam memanfaatkan logistik dari alam, entah rerumputan, air, kuda, atau apa saja yang mereka temui di pedalaman, sebuah kemampuan yang tak dimiliki para penakluk manapun sepanjang sejarah, dulu hingga kini. Sangat mungkin, kecerdasan inipula yang menurun ke generasi berikutnya, di dalam lingkar geografis yang sama, yaitu China.

Sebelumnya mereka bergerak di daratan, lalu berlayar ke pelosok terjauh, dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho. Sekedar mobilitas horisontal yang menaklukan negeri-negeri yang mereka lewati? Tidak juga. Buku ini bercerita cukup banyak.

Misalnya di satu BAB tentang pergaulan China dengan dunia lain, sebelum mereka menuju Eropa, yaitu singgah di Jawa, Malaka, India dan menetap agak lama di Kairo, Mesir. Di Jawa, mereka melakukan perbaikan atas seluruh sarana logistik dan perkapalan (halaman 12). Sementara di Mesir, mereka belajar lebih banyak hal lagi.

Sejarawan China, yang ikut dalam rombongan Cheng Ho, yaitu Ma Huan, menggambarkan bahwa raksasa Armada Cheng Ho adalah berisi manusia-manusia dari berbagai latar belakang. Misalnya perwira berkebangsaan Ethiopia, Iran, India dan Pakistan; pelayan dari Malta; perawat mesin dari Goa; Insinyur Tamil; orang-orang Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konfusian, hingga Yahudi. Sebuah kosmopolitan yang bergerak di samudera lepas, dan tanpa tanding untuk saat itu. Nah, kekuatan inilah yang kemudian menghampiri Eropa —jauh sebelum negeri-negeri Barat sana menaklukan Timur, dengan kebengisan kaum Conquistadores (para penakluk dari Portugis dan Spanyol, mulai dari Megellan, Colombus, Cortes, atau Dias).

Lalu di Eropa, Laksamana Cheng Ho, dengan segala motivasi dan niat politik yang diemban dari amanat Kaisar China (saat itu, dinasti Mng generasi ke tiga), mengajari dunia Eropa agar mengikuti jalan surga, dari kerajaan tengah. Bukan dengan seperangkat ajaran mistik atau filsafat kosong. Melainkan gudang ilmu yang tercatata dalam ribuan lembar buku. Dari situ, berdasarkan riset buku ini, Eropa belajar (begitu sangat) banyak hal.

Sumbangan China
Menurut buku ini, delegasi Cheng Ho tiba di Florensia dan Venesia (Italia), disambut oleh Paus Eugenius IV. Inilah milestone (titik pijak yang penting) bagi pewarisan dunia ilmu oleh Eropa, melalui renaisance yang mencengangkan dunia. Ribuan kapal Cheng Ho yang membawa berbagai barang dan “artefak” peradaban, mempersembahkan aneka manfaat bagi Eropa. Mulai dari benda-benda seni, peta dunia, arsitektur, astronomi, persenjataan militer, hingga banyak lagi. Pengetahuan ini lantas menyebar ke seluruh penjuru Eropa, dan menjadi inspirasi bagi para jenius Eropa di masa pencerahan itu, termasuk kepada Leonardo Da Vinci, Copernicus, dan tentu saja, Galileo. Percayakah anda? Silahkan baca buku bagus ini.

One thought on “Buku Tentang Pelayaran Cheng Ho di Eropa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s