Buku Tentang Sejarah Film Indonesia

Para pegiat industri film mestinya melongok dengan takzim, terhadap perjalanan sejarah film nasional tempo doeloe. Hari ini, mereka (artis, sutradara, atau bahkan produser film) berada dalam lapisisan sosial paling atas,  dengan sebutan-sebutan menggema: high class, jetset, atau yang belakangan disebut sosialista. Bagaimana dengan dulu?

Praktisi per-film-an zaman baheula hidup dalam kegetiran. Mereka, bermula dari pemain sandiwara panggung, yang disebut toneel, atau teater stamboel, adalah orang-orang yang tersisih. Mereka hidup dalam komunitas anak wayang (halaman 9). Terisolasi dari publik, tidak sekolah, buta huruf, dan seringkali main tanpa dibayar. Adalah aib bagi sebuah keluarga, bila ada anak mereka yang “terlibat” dalam panggung hiburan. Bandingkan dengan saat ini, di saat seorang Ibu dan Ayah bersimbah air mata, karena anaknya tak lolos audisi jadi artis!). Selain dijuluki anak wayang, para pegiat hiburan saat itu juga mendapat gelar pahit: anak buangan…

Zaman kemudian berkehendak lain. Dari anak wayang yang main teater panggung, mereka berkesempatan main film. Medio 1900-an, Hindia Belanda mendapat berkah dengan masuknya gambar idoep —cikal bakal film moderen.

Namun jangan bayangkan perubahan dari panggung ke layar itu berlangsung seperti memamah apel yang renyah dan nikmat. Justru yang terjadi adalah perjuangan yang teramat heroik. Bayangkan saja, untuk menggelar film, orang butuh mencari tempat (biasanya rumah-rumah mewah milik Kumpeni Belanda). Lalu, karena film masih bisu, maka dibutuhkan para pemain musik yang siap memainkan suara di samping layar. Perubahan melompat ke arah lebih baik, ketika Amerika menemukan teknologi gambar idoep jang bitjara (gambar hidup yang bicara). Harap catat, industri film tahap awal itu masih dikuasai oleh orang-orang Belanda.

Bikin Film

Film pertama yang dibuat di Indonesia (era kolonial Belanda) berjudul Loetoeng Kasaroeng, disusul Elis Atjih. diproduksi Java Film Coy, tahun 1927, melibatkan duet Belanda dan Pribumi, yaitu G. Kroeger dan Bupati Wiranatakusuma.  Oleh buku ini, yang berjudul Sejarah Film,  Bikin Film di Jawa, karangan Misbach Yusa Biran, diterbitkan Komunitas Bambu (Jakarta, 2010), titik ini disebut sebagai milestone (atau titik kebangkitan film nasional).

Pada periode inilah, anak wayang dan anak buangan beralih-rupa. Mereka tak lagi tersisih, melainkan punya status sosial yang tinggi. Tak lain karena komersialisasi film sudah mulai menggeliat —dan artinya, para pemain juga dibayar lumayan.

Babak baru film nasional memang bermula dari sini. Selain sudah menjadi komersil, film yang diproduksi juga menggaet industri pers utnuk beriklan, lahirnya bioskop-bioskop baru, mengundang artis cantik dan bahkan artis impor dari Cina, serta paling penting adalah mulai kebanjiran penonton. Tapi sialnya, ternyata pada fase ini pula gunting sensor mulai bermain.

Lucu-Lucu

Buku ini begitu kaya menyaji aneka perubahan dalam industri film nasional di saat pertumbuhannya. Di banyak halaman, kita kerap terperangah, bahwa ternyata bintang-bintang film tempo doeloe begitu cantik —tak kalah dengan artis-artis zaman sekarang.

Paling menarik, misalnya, memuat gambar Artis Impor, yang bermain untuk film berjudul Resia Borobudur, bernama Olive Young. Konon, artis dari Cina ini dibayar mahal, dan dinegaranya amat kesohor, karena berani melakukan adegan ciuman (halaman 91).

Fakta lain, selera penonton mulai terbentuk. Persis seperti kritik seorang Belanda, bahwa penonton pribumi “tidak punya imajinasi”, mereka hanya mau menonton film perang, silat, romance, dan condong terhadap film dari Amerika dan Cina. Agaknya, imajinasi pendek para penonton film terbawa hingga hari ini.

Berikutnya, aktivitas per-film-an saat itu juga mulai mengenal jurnalisme hiburan. Terjadi ledakan iklan, berita, dan “propaganda” terhadap film-film yang dibuat atau akan diputar. Dengan munculnya pers yang bernama Doenia Film, Filmland, Bioscopcourrant, Film Reviem, dan lain-lain.

Silahkan tersenyum, untuk publikasi sebuah film yang berjudul Elis Atjih, produksi Java Film Coy, Tahun 1927, yang dimuat De Locomotif:

“Liat, bagimana bangsa Indonesia tjoekoep pinter maen film. Tida koerang dari laen matjem artis dari Eropa. Sementara, tentang pemain utama Elis Atjih, disebut sebagai: “Poetri jang tjantik manis dari Bandung” (halaman 74).Satu lagi fakta, bahwa tabiat gossip, hiburan, dan entertainment dalam media massa Indonesia, telah mengakar begitu jauh (jangan salahkan infotainment hari ini!).

Sensor Film

Berkaca dari sejarah, ternyata tabiat sensor selalu sama: dari pojok kekuasaan yang tidak senang. Pemerintah Hindia Belanda mulai cemas, melihat antusiasme penonton priboemi yang condong ke film-film Eropa. Mereka menilai, dampak film sangat berpengaruh. Dulu, kaoem pribumi melihat orang Belanda dan Eropa sangat terhormat. Setelah melihat film, semuanya berubah. Penduduk Hindia Belanda melihat bahwa dalam film, orang Eropa sangat tak beradab, sering selingkuh, bertengkar, berciuman, atau bahkan berkelahi. Menurut Kumpeni Belanda, orang pribumi tak bisa membedakan bahwa adegan dalam film adalah fiksi. Untuk itu, dimulailah tradisi sensor.

Beralih ke Zaman Jepang. Dalam fase ini, film menjadi alat propaganda perang. Film-film yang diproduksi melulu menguar-uar kehebatan tentara Dai Nippon (misalnya film berjudul Singaporo Soko Gaki, atau penaklukan Singapura). Sensor saat itu berlaku untuk membatasi tradisi individualistik yang terdapat pada film-film Eropa, Amerika, dan Cina.

Tetapi jangan salah. Sebagaimana halnya Belanda yang berjasa “mendidik” Priboemi untuk membuat film, Kaum Fasis Jepang-pun menyumbang satu dua hal dalam perfilman nasional. Misalnya, istilah-istilah Eropa/ Belanda dalam teknik film semuanya diganti dengan Bahasa Indonesia. Di zaman Jepang inilah, istilah Sutradara mulai popular, menggantikan istilah Film Registeur.  Dalam film Jepang pula orang belajar tentang disiplin baris berbaris, cara membuat barisan untuk mengirim air secara bergantian dalam memadamkan kebakaran, serta membuat organisasi RT/RW (yang hingga kini dipertahankan).

Informasi Detil Buku:

Judul                : Sejarah Film, Bikin Film Di Jawa

Pengarang       : Misbach Yusa Biran

Penerbit           : Komunitas Bambu, Jakarta, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s