Buku Tentang Tradisi Harakiri di Jepang

Buku Tentang Harakiri

HARAKIRI adalah menyodet perut sendiri dengan pisau pendek setajam silet. Bukan hanya menusuk, tetapi menyobek perut dari arah kanan ke kiri, dan dari atas ke bawah. Tak boleh merintih kesakitan, apalagi teriak mengaduh —meski usus terburai. Dan bila tak sanggup menahan siksa atas kepedihan itu, seorang Kaishaku (algojo) siap memenggal kepala hingga nyawa meregang dari raga.

 

Harakiri, dari kata  Hara (perut) dan Kiru (memotong) sama sekali bukan aksi konyol para pecundang. Pertaruhan teramat mahal untuk kehormatan, harga diri, pengabdian, dan menumpas rasa malu, adalah jawaban atas lelaku Harakiri. Harakiri juga bisa berbentuk Junshi, alias kesetiaan sampai mati. Contohnya, ketika majikan seorang Samurai mati, maka para pengikut setianya melakukan bunuh diri, sebagai bukti kesetiaan ”sehidup dan semati”. Junshi ini, bisa dilakukan perorangan ataupun bersama-sama. Ritual ini pun, dengan demikian, hanya berlaku untuk golongan tertentu: para Samurai, Shogun, atau Ronin. Pada mereka yang melaksanakan ajaran atau prinsip Bushido (The Way of Warrior, atau Jalan Samurai).

Sementara, lelaku bunuh diri untuk kalangan awam adalah Sepukku. Dunia juga mengenal bentuk bunuh diri yang lain di Jepang, misalnya Kamikaze, yaitu pasukan udara yang bertempur berani mati, dan sanggup meluluhlantakkan Pearl Harbour, Amerika Serikat —yang akhirnya menyebabkan jatuhnya Bom Atom di Hirosima dan Nagasaki.

Di luar Jepang, tentu saja Harakiri adalah tradisi membingungkan.  Lebih sering terjadi salah mengerti, dan menganggap Harakiri adalah bunuh diri biasa (sebagaimana dilakukan di banyak tempat, dengan motif putus asa atau menyerah pada ganasnya kehidupan). Sejatinya, sebagai sebuah tradisi yang berlangsung sejak lama, nilai-nilai Harakiri justru bertabur dengan mantra keagungan dan kesetiaan total. Menurut buku ini, yang berjudul Sang Samurai, Kisah 47 Ronin dan Kehebatan Samurai Jepang, praktek Harakiri adalah bukti ajaran Bushido, yang menekankan pada unsur kesetiaan dan ketaatan, atau loyality and filial piety (halaman 25).

 

Awal Mula

Saat ini bukan berarti Harakiri sudah tanggal. Melainkan masih menjadi praktek non Samurai yang membuat publik Jepang resah. Betapa tidak, aksi bunuh diri ini juga kerap melanda warga biasa. Mulai dari seniman, pelajar, hingga pejabat yang merasa malu karena terlibat skandal. Beberapa publikasi menyebut, pemerintah Jepang mengeluarkan anggaran sangat besar guna menghentikan ”tradisi” bunuh diri di Jepang. Namun, statistik bunuh diri tetap saja tinggi. Menurut beberapa publikasi, seperti dilakukan oleh Far Easteren Economi Review (1983), Japan Times, dan Ministry of Health and Welfare (2006), menyebutkan tak kurang dari 3.000 kasus bunuh diri di Jepang. Tentu saja ini ke luar dari alur tradisi yang sebenarnya.

Penyimpangan dari alur sejarah adalah karena kasus-kasus bunuh diri di Jepang moderen, jauh dari spirit keberanian, kehormatan, dan etika Samurai yang lain. Satu hal yang sangat kentara, bahwa dalam sejarah Harakiri yang sesungguhnya, praktek Harakiri dilakukan dengan ritual yang agung —jauh dari kesan pecundang dan putus asa.

Dalam buku ini, tercantum di halaman 51, tergambar tahap dan proses berlangsungnya Harakiri. Seorang ksatria Samurai yang akan ”bunuh diri”, melakukan beberapa metode khusus. Diantaranya: mandi, mengenakan pakaian terbaik dan biasanya warna putih, memakan makanan yang paling disukai, dan meletakkan alat-alat pembunuh di atas sebuah nampan. Setelah itu, lalu menulis puisi kematian (death poem) yang seindah mungkin. Terakhir, ia harus menyiapkan pisau yang akan digunakan memotong perutnya sendiri, yaitu sebuah pisau pendek yang tajam (bernama tanta). Ritual ini, bagaimanapun bukti bahwa Harakiri bukan aktivitas sembarangan. Hanya orang-orang berani, setia, jujur, dan tahu malu sajalah yang sanggup melakukan. Bukan oleh para pecundang dan pengecut.

 

Etika Jepang

Nilai-nilai keberanian dan kesetiaan dalam berbakti inilah yang kemudian menjadi ciri unggul manusia Jepang. Dunia telah menyaksikan sendiri, bagaimana Jepang menjadi bangsa unggulan dalam aspek militer (dalam perang dunia dulu), juga kehebatan dalam sisi ekonomi dan ilmu pengetahuan. Etos Jepang yang bersandar pada Religi Tokugawa dan Etos Bushido, menjadi sumber dan inspirasi pada cara hidup kebanyakan orang Jepang. Mereka memiliki harga diri yang tinggi.

Bukan berita aneh, jika di Jepang melakukan kesalahan kecil dan dosa sosial dianggap meruntuhkan harga diri. Jiak seorang pejabat terindikasi korup, mereka memilih mundur —dan bahkan ada yang melakukan bunuh diri. Mereka, Bangsa Jepang, jauh dari watak pengecut dan pecundang. Spirit ini makin membuktikan kedahsyatannya manakala Bangsa Jepang membuka diri dari isolasi panjangnya. Tatkala berlangsung Restorasi Meiji, ketika Kaisar membuat kesepakatan dengan Komodor Perry, untuk membuka Jepang dari keterkungkungan terhadap dunia luar.

Catatan akhir, buku ini sebenarnya bisa lebih menarik andaikata dibuat dengan cara pengisahan, dan bukan mengikuti struktur buku sejarah. Bila itu yang dilakukan, maka cerita-cerita dramatik para Ronin (Samurai kelas bawah) yang legendaris —dan melakukan bunuh diri massal, akan lebih hidup. Tetapi bagaimanapun, sebagai referensi tambahan, buku ini memperkaya khasanah pemikiran kita terhadap budaya Jepang.

 

Informasi Detil Buku

Judul                         : Sang Samurai, Legenda 47 Ronin

Penulis                      : Agata P. Ranjabar

Penerbit                   : Pinus Book PUblisher, Oktober 2009

Tebal                          : 251 halaman

Iklan

Buku Tentang Perang Industri Tembakau

Industri tembakau yang berbasis pada peggunaan nikotin hisap (dan dibakar), kini benar-benar terpojok. Bisnis mereka seolah sama belaka dengan evil merchant (perdagangan Iblis). Tak kalah jahat dari perdagangan obat bius atau praktek jual beli senjata illegal. Benarkah industri rokok, bisnis tembakau, dan sekaligus para perkokok sejahat itu?

Buku ini jelas melawan arus. Di tengah kampanye global memerangi rokok, buku ini justru melawan dengan keras, bahwa program kampanye anti rokok adalah gombal, alias rekayasa perusahaan farmasi berskala besar.

Menggelontorkan berbagai dokumen, hasil riset, dan temuan-temuan akademik yang membuktikan bahwa nikotin (dalam tembakau) tak benar-benar jahat, melainkan justru menyimpan berbagai potensi. Singkat kata, sebagaimana perang seumumnya, cap jahat terhadap rokok, perokok, dan industri rokok, adalah manipulasi kejam, baik secara medis, ilmiah, maupun politik.

Paling menonjol, tak lain adalah kriminalisasi terhadap para perokok. Sekarang ini, perilaku merokok dianggap sebagai wabah global dan pembunuh nomor satu. Padahal, tradisi merokok sudah berlangsung berabad-abad lalu, dan hanya terkategori keburukan biasa. Lucunya, masyarakat terlalu gampang menerima. Seolah, rokok jauh lebih jahat dari konflik sosial, depresi ekonomi, kriminalitas berdarah, perang, atau hal lain yang lebih banyak membunuh manusia. Buku ini bahkan menyebutkan bukan rokok penyebab utama penyakit jantung, melainkan kemiskinan dan pengangguran.

Dulu, meski memang dalam beberapa hal buruk, para perokok tidak pernah mendapat cap sosial seperti sekarang ini. Kini, di banyak tempat yang bisa ditemui, begitu banyak iklan, pariwara, warta layanan sosial, ataupun pidato para dokter dan pejabat kesehatan publik, tak segan menganggap bahwa “asap dari perokok” adalah pembunuh nomor satu. Kriminalisasi terhadap rokok dan tembakau (serta industri dan bisnis tembakau) berlangsung begitu bebas. Karena mendapat dukungan total dari WHO, industri farmasi global, organisasi-organisasi medis, dan juga rezim pemerintahan di mana-mana.

Buku ini, yang merupakan kajian riset mendalam terhadap sumber-sumber kampanye global untuk memerangi kepul tembakau, membeberkan fakta mencengangkan. Ditulis selama kurun 10 tahun oleh Wanda Hamilton, seorang peneliti independent dan pengajar di tiga universitas terkemuka di Amerika Serikat. Buku berjudul lengkap Nicotin War, Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat ini membuktikan konsep berikut ini.

Pertama, kampanye bahwa nikotin (dalam tembakau) sebagai Iblis bagi kesehatan, adalah publikasi sesat yang sengaja dirancang berbagai industri farmasi berskala raksasa. Kedua, bukan hanya kampanye, tetapi industri farmasi berkolaborasi dengan WHO dan aparat Negara di mana-mana, sengaja membunuh industri tembakau secara pelan tapi pasti —agar industri farmasi dapat secara bebas memanfaatkan nikotin bagi obat-obatan.  Ketiga, ujung dari perang besar terhadap tembakau itu, tak lain adalah menjual obat-obatan anti rokok, dalam bentuk permen, koyo, cairan, tablet, dan lain sebagainya.

Bagaimana perang antara perusahaan farmasi dengan perusahaan rokok ini berlangsung? Ceritanya cukup panjang. Genderang perang dimulai sejak decade 80-an, tetapi kian gencar saat berlangsung konferensi dunia tentang tembakau dan kesehatan publik, pada Tahun 1990, dan sepakat bahwa komunitas kesehatan global harus terus mempromosikan dengan kegairahan penuh dalam memasarkan obat-obatan anti rokok (halaman 3)

Strategi “anti tembakau” juga menularkan atau tepatnya mengubah pola pikir masyarakat dunia, bahwa merokok yang sebenarnya hanyalah berbentuk “kebiasaan” (habituating) menjadi “ketagihan” (addicting) yang buruk. Artinya, secara terapis hal itu harus ditangani (halaman 4).

Padahal, banyak penelitian membuktikan bahwa sesungguhnya nikotin memiliki potensi untuk dimanfaatkan secara medis, terutama dalam merawat penyakit-penyakit tertentu. Para pakar mengetahui bahwa nikotin meningkatkan konsentrasi dan kontrol syaraf motorik, meningkatkan ambang batas rasa nyeri, dan dapat dipakai untuk penderita Alzheimer dan Parkinson (halaman 5).

Masalahnya, nikotin tak dapat dipatenkan (untuk dimonopoli), karena terkandung secara alami dalam tembakau, tomat dan beberapa sayuran lain. Yang dapat dipatenkan hanyalah senyawa pengantar nikotin (dan ini dipakai untuk industrialisasi obat-obatan anti merokok, dalam bentuk permen, inhaler, pil, obat tetes, koyok, dan lain sebagainya).

Siasat anti tembakau juga bergerak dalam arena politik-ekonomi. Misalnya: (1) menaikkan pajak tembakau setinggi langit; (2) melekatkan cap jahat terhadap industri tembakau, misalnya sebagai evil merchant (perdagangan iblis) sebagaimana bisnis narkotika atau bisnis senjata illegal; dan (3) mempromosikan terapi berhenti merokok sekaligus menjual sarana pengenti merokok.

Fakta terbalik, bahwa penyebab penyakit jantung paling utama bersumber dari tembakau sama sekali tak sepadan dengan bukti lapangan. Kemiskinan, konflik, depresi, pengangguran, dan perang, adalah jauh lebih banyak menjadi penyebab orang sakit jantung. Fakta juga, di Indonesia industri tembakau memberi pajak jauh lebih besar daripada perusahaan tambang, dan menghidupi 6 juta petani tembakau. Jika kampanye anti tembakau membunuh penggunaan tembakau, maka akan lahir 10% pengangguran baru. Nah, masihkan kita dengan keterlaluan meng-Iblis-kan para perokok?

Informasi Detil Buku:

Judul                  : Nicotin War, Perang Nikotin dan Para Pedagang Rokok

Penulis               : Wanda Hamilton

Penerbit            : Insist Pers, 2010

Tebal                   : 128 halaman

Buku Tentang Kepemimpinan Genghis Khan

“Sejarah”, seperti dikatakan Thomas Carlyle, “pada akhirnya adalah… sejarah orang-orang besar”. Dan itu tak selalu riwayat orang-orang besar dengan berbagai peristiwa agung —seperti kisah-kisah para nabi dan orang suci. Tetapi juga bersimbah darah. Bercampur kengerian yang tak hapus dari memori manusia hingga kini.

Seperti diingatkan oleh Barbara Kellerman, yang dikutip buku ini di halaman 11, bahwa sejarah tentang “kepemimpinan yang buruk” adalah pokok kajian yang sama menariknya dengan sejarah tentang “kepemimpinan yang baik”. Dan seorang muda bernama Temujin, dari kaum nomad pengembara Mongolia, dan kelak bergelar Genghis Khan, adalah berada dalam dua posisi itu.

Ia bisa buruk, jika dilihat dari praktek pembantian tak terperi, yang dilakukan di berbagai tempat yang ia taklukkan (menurut catatan buku ini, di halaman 11, diperkirakan 3 juta manusia tewas terbantai, dan itu terjadi delapan abad silam). Sementara bagi dunia Islam, tak pelak nama yang satu ini adalah trauma, horror, sekaligus ratapan panjang.

Tetapi ia juga bisa baik, apabila menatap kemampuannya dalam memimpin pasukan “tentara barbar”, sehingga bisa begitu solid dan setia terhadapnya. Bagi bangsa Mongol saat ini, Genghis Khan adalah “pahlawan yang sempurna”. Kisahnya yang heroic dibukukan dalam buku The Secret History of Mongol. Sementara bagi bangsa China moderen, bagaimanapun Genghis Khan adalah orang yang pertama memberikan citra geografis atas peta bumi China moderen.

Kepemimpinan

Zaman moderen mau tak mau merindukan kepemimpinan efektif yang dijalankan secara demokratis. Seraya menyingkirkan pemaksaan dan hegemoni, sebagaimana titah dari Mao Zedong, bahwa kekuasaan berada di laras senjata. Akan tetapi, bukankah pola demokratis itu bukan satu-satunya cara? Lebih-lebih bila suasana dan konteks tidak memungkinkan pilihan demokratis itu. Benak kita sekarang memang tak bisa menerima kepemimpinan model keras non kompromi, padahal mestinya, ada saat ketika kita harus menerima keputusan seorang pemimpin yang keras —sesuai dengan konteks yang dibutuhkan.

Buku ini, berjudul The Leadership Secret of Genghis Khan, ditulis sejarawan John Man, membeber semua konteks yang menjelaskan berbagai karakter kepemimpinan Genghis Khan. Olehnya menjadi jelas, bahwa meski bengis, tetapi itu adalah cara yang tepat —setidaknya untuk saat itu.

Bisa dibayangkan, rombongan tentara yang menjelajah alam begitu berat, gurun Ghobi yang ganas, perjalanan pasukan berkuda yang begitu jauh (ribuan kilometer), sistem logistik terbatas, serta perlawanan hebat dari koloni yang diserang, sangat tidak mungkin dipimpin dengan metode lunak. Di tangan seorang Genghis Khan, kekajaman dan kebengisan adalah strategi. Menjadi wajar jika kemudian ia tak pernah menyesali apapun kehancuran dan kerusakan yang ia perbuat. Menjadi bengis adalah pilihan, barangkali begitu.

Trauma Islam

Seorang cendekiawan muslim, Nurcholis Madjid, dalam buku Islam, Doktrin, dan Peradaban, pernah menyebut bahwa apabila perpustakaan besar di Baghdad tidak dibumihanguskan oleh balatentara Genghis Khan, maka dunia hari ini bukan lagi berpikir tentang kehidupan di Bulan, melainkan sudah tinggal di sana. Karena perpustakaan di Baghdad itu begitu lengkap, menyimpan sumber-sumber ilmu yang sangat kaya untuk zaman itu (beberapa abad sebelum kebangkitan Eropa).

Di buku ini, Genghis Khan hadir sebagai perwujudan kehendak Tuhan. Tuhan ingin menghukum dunia Islam —karena para khalifah yang korup dan bertengkar sesama mereka sendiri. Bagaimana mungkin Genghis Khan bisa merontokkan imperium Islam yang sangat besar dan berkuasa, jika Tuhan tak menyetujui? Begitulah asumsi yang dibangun.

Nah, bila tak setuju, maka beralihlah pada “visi” yang ditawarkan buku ini. Bahwa setiap pemimpin tak lahir dari paket kilat yang dikirim dari langit. Melainkan ada beragam latar peristiwa yang mendukung kelahirannya. Termasuk, tentu saja, visi dan karakter yang melekat dari seoarang pemimpin.

Menurut John Man, penulis buku ini, Genghis Khan juga memiliki “visi yang hidup”. Selain kejam, ia juga ternyata sangat solider terhadap perkawanan, menghormati keluarga, dan memiliki kecakapan sosial (halaman 37). Hikmah berharga dari buku ini tak lain adalah menjadi referensi yang enak dibaca tentang Genghis Khan, seraya mengurangi trauma terhadap citranya yang kejam. Entahlah…

 

Informasi Detil Buku:

Judul: The Leadership Secret of Genghis Khan

Penulis: Jhon Man

Penerbit: Kelompok Pustaka Alvabet, Mei 2010

Tebal: 251 halaman

Buku Tentang Kejutan dan Peristiwa Langka

Setiap hari adalah kejutan —dan sering lahir peristiwa yang sulit dinalar dengan logika umum. Heboh terbaru, tak lain aksi dramatis penyelamatan 36 orang penambang Chili, yang terpendam di kedalaman 700an meter di  dalam perut bumi. Peristiwa ini bergema hebat. Seluruh dunia tertohok! Bagaimana mungkin manusia hidup hanya dari jatah sesendok susu dan sesuap roti, selama belasan hari?

Bila itu terlalu jauh, mungkin banyak kejutan pula di sekeliling. Ketika para politisi ramai memperbincangkan beberapa nama populer sebagai calon Kapolri, sekonyong menyembul nama baru, Timur Pradopo —dan kemudian jadi! Lalu para penggembira di parlemen pun meradang, meski secepat tiupan angin langsung menghilang. Lantas belum hilang juga dari ingatan, perihal bencana banjir yang meluluh-lantakkan Wasior, di bumi Papua tercinta. Apakah dua peristiwa itu sebelumnya pernah diduga? Tak sepotong artikel pun yang bisa membuktikan adanya ramalan tentang dua peristiwa mengejutkan itu, yang ditulis sebelum peristiwanya terjadi.

Sungguh, menghadapi rangkaian peristiwa tak terduga itu akan memaksa kita mengubah pola  nalar yang selama ini bersemayam. Dan buku ini, The Black Swan, Rahasia Terjadinya Peristiwa Langka yang Tak Terduga, mengajari dengan detil. Sekaligus penuh dengan olok-olok terhadap siapa saja yang terbiasa berpikir arogan dan mendewakan pengetahuan sistematis.

Menurut Nassim Nicholas Taleb, penulis buku ini, kita terlalu lama diajari oleh para ilmuan dan para pakar tentang kecanggihan sains, prediksi, ramalan, dan rumus-rumus objektivitas (halaman prolog, xvii). Kita juga terlalau akrab dengan tabiat banjir informasi dan mengandalkan konfirmasi. Seolah, tidak ada lagi yang namanya kebetulan. Kita terjebak dalam tirani rutinitas!

Jelasnya begini: hidup terlampau optimis, kepercayaan terhadap disiplin, mengagungkan kerja keras adalah wilayah manusia yang beredar di zona nyaman, alias mediocristan. Bagus saja sebenarnya. Tetapi ingat, tak jarang sesuatu tiba-tiba terjadi dan menghajar rumus baku itu. Kejutan selalu datang tanpa diduga. Butuh contoh?

 

Fenomena meledaknya rekaman lypsinc Keong Racun dari dua remaja dari Bandung, yaitu Jojo dan Shinta, adalah contoh telak.

Kedua gadis itu adalah bagian dari hukum yang  berpola acak (scalable), jauh dari rumus baku yang bertema rutinitas. Mereka tidak bekerja keras, tidak pernah berlatih sebelumnya, bahkan tak berniat untuk meledakkan album rekaman amatir itu. Tetapi duarrrr… Bahkan para selebritis senior yang bersusah payah bertahan untuk terus populer sekalipun, dengan kerja keras tiap hari, tak ada apa-apanya dibanding popularitas Duo Keong Racun itu. Inilah gejala yang disebut The Black Swan!

Hukum Kejutan

The Black Swan, atau angsa hitam adalah antitesa, atau sebuah contoh (fakta, temuan, gejala) yang sama sekali berlawanan dengan asumsi-asumsi umum. Dulu, ketika dunia belum mengenal Benua Australia, semua orang menganggap bahwa semua Angsa Berwarna Putih. Tetapi ternyata ada Angsa Hitam. Temuan itu, tentu saja, membatalkan semua asumsi umum.

Dalam ranah akademik atau ilmiah, formula ini bersumber dari hukum falsifikasi (pembatalan) yang diperkenalkan filsuf Karl Popper (1902-1994). Teori falsifikasi secara harfiah adalah melihat dari sudut pandang bahwa suatu premis (atau katakanlah teori) harus bisa salah, dan berupaya mencari bukti-bukti untuk mendukung terjadinya kesalahan. Sederhananya, dalam kehidupan normal, dalam atmosfir keilmuan, atau bahkan dalam keyakinan-keyakinan manusia, harus selalu siap dan terbuka terhadap kejutan baru, yang meruntuhkan kepercayaan kita yang sudah lama mengendap dalam benak.

Runtuhnya Kesombongan

Tegas-tegas buku ini “mengibarkan perang” terhadap para pakar, pebisnis, politisi, dan orang-orang yang berkibar di puncak sukses, yang terlalu percaya bahwa sukses dalam kehidupan mereka adalah bersumber dari “perhitungan cermat dan sistematis”. Karena semua itu tidaklah akan sanggup menghadapi peristiwa-peristiwa yang dianggap konyol (halaman xvii).

Misalnya saja, tatkala kehebatan intelenjen AS (yang bekerja di bawah kaidah kecermatan, kecanggihan sains dan teknologi, serta dipenuhi para pakar dan peramal ilmiah) gagal memperkirakan adanya serangan teroris pada 11 September, yang meruntuhkan WTC.

Dalam kasus-kasus yang lebih mikro, tak sedikit pula peristiwa yang berkategori konyol tetapi nyata, dan berlawanan dengan kaidah umum. Singkat kata, gagasan pokok buku ini adalah tentang kebutaan kita terhadap keacakan, deviasi atau penyimpangan, dan tirani rutinitas yang membelenggu kita. Kita harus meruntuhkan kesombongan berpikir linear, bahwa sesuatu bisa diprediksi, bahwa sesuatu bisa dikendalikan, dan bahwa sesuatu adalah efek kumulatif dari perencanaan. Tidak selalu begitu!

Sleep Walking

Buku ini pasti full recommended, bagi siapa saja yang berpikir out of the box atau think opposite. Selain ditulis dengan sangat jenaka, penuh contoh unik, berwarna dengan pilihan kata yang khas, juga yang paling penting adalah ditulis oleh orang yang tepat. Penulisnya adalah seorang filsuf, sekaligus juga pebisnis, dan mengalami berbagai peristiwa luar biasa mengejutkan dalam hidupnya.

Salah satu contoh unik yang membuka mata kita adalah bahwa para penemu teknologi dan berbagai bidang lain (misalnya farmasi, kedokteran, atau media massa), adalah orang-orang yang berkategori sleep walking. Maksudnya, para penemu itu sendiri tak sadar bahwa apa yang sedang mereka usahakan (saat penemuan itu akan lahir), sama sekali tak menduga bahwa ikhtiar mereka menjadi luar biasa. Eureka! Seperti Archimides yang terbangun dari bak mandi, karena memperhatikan air yang tumpah —dan ini tak ia rencanakan sama sekali, seperti Newton yang melihat apel jatuh. Sungguh, hidup selalu penuh kejutan. Bersiaplah…

 

Buku Tentang Pelayaran Cheng Ho di Eropa

Siapa bilang kebangkitan (renaisance) Eropa berbasis (hanya kepada) rasionalitas dan inovasi teknologi dari mereka sendiri? Klaim otensitas atau kemurnian sebuah temuan, dalam bidang ilmu ataupun perangkat canggih, tak bisa sepihak. Karena di sana ada jasad renik dari pelbagai peradaban lain, yang bersumber dari multi jurusan.

Begitupun dengan sejarah peradaban Eropa, yang berpendar oleh temuan-temuan para jenius, dan bangkit dari keterpurukan era kegelapan, adalah niscaya bersumber dari sumbangan banyak pihak. Dan menurut buku ini, yang berjudul 1434, Saat Armada Besar China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisance, pihak penyumbang terbesar adalah tak pelak lagi China.

Melalui pelayaran kolosal melalui 1.000 Armada besar yang dipimpin Admiral Cheng Ho. Konon, seorang Cheng Ho yang beragama Islam itu membawa ribuan lembar naskah Ensiklopedik, berisi belasan ilmu-ilmu praktis, dan Armada yang ia bawa cukup layak disebut sebagai Perpustakaan Berjalan. Karunia besar ini lah yang kemudian ia bagikan dan sebarkan terhadap setiap titik yang disinggahi, termasuk Viena, Italia (sebaga pusat kebangkitan ilmiah di Eropa).

Perisitiwa ini historis, melalui beragam bukti yang dirangkai oleh Gavin Manzies (penulis buku ini). Agaknya semakin bertambah petunjuk akademik, seputar sejarah Abad Pertengahan, yang selama ini ditulis melalui otoritas ilmuan Eropa, dengan pengakuan tunggal: bahwa mereka bangkit sendirian. Dengan demikian, Sejarah Eropa yang menegasikan bangsa lain, sudah sepatutnya dikoreksi terus menerus.

Sejatinya memang begitu. Terdapat mata rantai sejarah yang harus disambung-sambungkan, demi memahami dengan sahih, rahasia kedigdayaan Eropa era silam yang bertengger hingga masa terkini.
Nilai buku ini, yang diterbitkan Pustaka Alvabet, Jakarta, April 2009, adalah meluruhkan potensi “rasisme sejarah”. Betapa tidak, narasi besar tentang renaisance atau era pencerahan Eropa terlalu ramai dengan nuansa Eurosentris, alias mengagung-agungkan Eropa, seraya meminggirkan peran kontributif dari peradaban lain, seperti dari dunia Islam, China, atau bahkan India. Ini adalah hal pertama.

Berikutnya, hal yang kedua, berlawanan dengan kredo bahwa Sejarah adalah selalu bercerita tentang pemenang, buku ini justru menyaji perspektif di luar pakem seumumnya, yang tak lain adalah penceritaan detil tentang interaksi fisik antara dunia Eropa dan Dunia China. Bukan semata pertemuan antara dua pewaris peradaban besar dunia itu, melainkan adalah fakta tentang siapa yang lebih dahulu tercerahkan? Atau tepatnya: China ternyata jauh lebih di depan dalam melahirkan aneka benda berharga dan pelbagai ilmu pengetahuan praksis. Mulai dari ilmu perbintangan, geologi, peta dunia, hingga mesin cetak dan helikopter!

Lengkapnya berkut ini: Eropa menjadi Ratu Dunia. Revolusi yang lantas kita sebut sebagai renaisance dicetuskan oleh kombinasi antara penularan ilmu pengetahuan besar-besaran dari China ke Eropa, dan itu berlangsung dalam rentang waktu yang singkat (halaman 293). Uraian ini berlanjut dengan deskripsi tentang kemampuan Eropa dari sisi Militer (penggunaan mesiu dan mesin perang), dari sisi pelayaran (penggunaan peta dunia yang mendekati kenyataan), dari sisi teknologi, astronom, perdagangan, hingga pertambangan dan sen arsitektur. Semuanya harus diakui dengan jujur: belajar dari China.

Difusi Sejarah
Bila terkesan menghakimi, baiklah. Koreksi bisa berlangsung dari difusi sejarah (atau penyebaran sejarah). Jauh sebelum Eropa bangkit, dunia telah mengenal pertumbuhan pemikiran dan teknik, entah dari Mesir, Yunani, juga dunia Arab. Bukan sodoran berlebihan, andai menyebut bahwa sumber kebangkitan intelektual Eropa, melalui sederetan tokoh-tokohnya (dari Descrates, Galileo, Newton, hingga Leonardo Da Vinci), adalah karena pembebasan Eropa dari mitos dan kungkungan irasionalitas. Eropa belajar filsafat dari Yunani, entah Socrates, Plato, atau Aristoteles.

Tetapi jangan lupa, ada garis kontinum yang menyelamatkan warisan filsafat dan tradisi logika (dan berpikir kritis) milik Yunani, yang dilakukan oleh para pemikir Islam. Inilah yang disebut dengan difusi (atau penyebaran) sejarah dan peradaban.

Jalan Surga
Kembali pada sumbangsih China. Jauh sebelum pelayaran ke Eropa, leluhur China adalah para pengembara yang mampu menaklukan daratan di ujung barat dan ujung selatan negeri itu, melalui balatentara tangguh dan bengis dari Genghis Khan, dan menaklukan lebih dari separuh ke-khalifahan Islam.

Artinya, spirit merambah dan bergerak ke luar adalah tradisi China yang tak terbantah. Menurut sejarawan John Man, penulis buku Leadership Secret of Genghis Khan, kecerdasan para penakluk Mongolia ini terletak pada kehebatan mereka dalam memanfaatkan logistik dari alam, entah rerumputan, air, kuda, atau apa saja yang mereka temui di pedalaman, sebuah kemampuan yang tak dimiliki para penakluk manapun sepanjang sejarah, dulu hingga kini. Sangat mungkin, kecerdasan inipula yang menurun ke generasi berikutnya, di dalam lingkar geografis yang sama, yaitu China.

Sebelumnya mereka bergerak di daratan, lalu berlayar ke pelosok terjauh, dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho. Sekedar mobilitas horisontal yang menaklukan negeri-negeri yang mereka lewati? Tidak juga. Buku ini bercerita cukup banyak.

Misalnya di satu BAB tentang pergaulan China dengan dunia lain, sebelum mereka menuju Eropa, yaitu singgah di Jawa, Malaka, India dan menetap agak lama di Kairo, Mesir. Di Jawa, mereka melakukan perbaikan atas seluruh sarana logistik dan perkapalan (halaman 12). Sementara di Mesir, mereka belajar lebih banyak hal lagi.

Sejarawan China, yang ikut dalam rombongan Cheng Ho, yaitu Ma Huan, menggambarkan bahwa raksasa Armada Cheng Ho adalah berisi manusia-manusia dari berbagai latar belakang. Misalnya perwira berkebangsaan Ethiopia, Iran, India dan Pakistan; pelayan dari Malta; perawat mesin dari Goa; Insinyur Tamil; orang-orang Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konfusian, hingga Yahudi. Sebuah kosmopolitan yang bergerak di samudera lepas, dan tanpa tanding untuk saat itu. Nah, kekuatan inilah yang kemudian menghampiri Eropa —jauh sebelum negeri-negeri Barat sana menaklukan Timur, dengan kebengisan kaum Conquistadores (para penakluk dari Portugis dan Spanyol, mulai dari Megellan, Colombus, Cortes, atau Dias).

Lalu di Eropa, Laksamana Cheng Ho, dengan segala motivasi dan niat politik yang diemban dari amanat Kaisar China (saat itu, dinasti Mng generasi ke tiga), mengajari dunia Eropa agar mengikuti jalan surga, dari kerajaan tengah. Bukan dengan seperangkat ajaran mistik atau filsafat kosong. Melainkan gudang ilmu yang tercatata dalam ribuan lembar buku. Dari situ, berdasarkan riset buku ini, Eropa belajar (begitu sangat) banyak hal.

Sumbangan China
Menurut buku ini, delegasi Cheng Ho tiba di Florensia dan Venesia (Italia), disambut oleh Paus Eugenius IV. Inilah milestone (titik pijak yang penting) bagi pewarisan dunia ilmu oleh Eropa, melalui renaisance yang mencengangkan dunia. Ribuan kapal Cheng Ho yang membawa berbagai barang dan “artefak” peradaban, mempersembahkan aneka manfaat bagi Eropa. Mulai dari benda-benda seni, peta dunia, arsitektur, astronomi, persenjataan militer, hingga banyak lagi. Pengetahuan ini lantas menyebar ke seluruh penjuru Eropa, dan menjadi inspirasi bagi para jenius Eropa di masa pencerahan itu, termasuk kepada Leonardo Da Vinci, Copernicus, dan tentu saja, Galileo. Percayakah anda? Silahkan baca buku bagus ini.

Buku Tentang Sejarah Film Indonesia

Para pegiat industri film mestinya melongok dengan takzim, terhadap perjalanan sejarah film nasional tempo doeloe. Hari ini, mereka (artis, sutradara, atau bahkan produser film) berada dalam lapisisan sosial paling atas,  dengan sebutan-sebutan menggema: high class, jetset, atau yang belakangan disebut sosialista. Bagaimana dengan dulu?

Praktisi per-film-an zaman baheula hidup dalam kegetiran. Mereka, bermula dari pemain sandiwara panggung, yang disebut toneel, atau teater stamboel, adalah orang-orang yang tersisih. Mereka hidup dalam komunitas anak wayang (halaman 9). Terisolasi dari publik, tidak sekolah, buta huruf, dan seringkali main tanpa dibayar. Adalah aib bagi sebuah keluarga, bila ada anak mereka yang “terlibat” dalam panggung hiburan. Bandingkan dengan saat ini, di saat seorang Ibu dan Ayah bersimbah air mata, karena anaknya tak lolos audisi jadi artis!). Selain dijuluki anak wayang, para pegiat hiburan saat itu juga mendapat gelar pahit: anak buangan…

Zaman kemudian berkehendak lain. Dari anak wayang yang main teater panggung, mereka berkesempatan main film. Medio 1900-an, Hindia Belanda mendapat berkah dengan masuknya gambar idoep —cikal bakal film moderen.

Namun jangan bayangkan perubahan dari panggung ke layar itu berlangsung seperti memamah apel yang renyah dan nikmat. Justru yang terjadi adalah perjuangan yang teramat heroik. Bayangkan saja, untuk menggelar film, orang butuh mencari tempat (biasanya rumah-rumah mewah milik Kumpeni Belanda). Lalu, karena film masih bisu, maka dibutuhkan para pemain musik yang siap memainkan suara di samping layar. Perubahan melompat ke arah lebih baik, ketika Amerika menemukan teknologi gambar idoep jang bitjara (gambar hidup yang bicara). Harap catat, industri film tahap awal itu masih dikuasai oleh orang-orang Belanda.

Bikin Film

Film pertama yang dibuat di Indonesia (era kolonial Belanda) berjudul Loetoeng Kasaroeng, disusul Elis Atjih. diproduksi Java Film Coy, tahun 1927, melibatkan duet Belanda dan Pribumi, yaitu G. Kroeger dan Bupati Wiranatakusuma.  Oleh buku ini, yang berjudul Sejarah Film,  Bikin Film di Jawa, karangan Misbach Yusa Biran, diterbitkan Komunitas Bambu (Jakarta, 2010), titik ini disebut sebagai milestone (atau titik kebangkitan film nasional).

Pada periode inilah, anak wayang dan anak buangan beralih-rupa. Mereka tak lagi tersisih, melainkan punya status sosial yang tinggi. Tak lain karena komersialisasi film sudah mulai menggeliat —dan artinya, para pemain juga dibayar lumayan.

Babak baru film nasional memang bermula dari sini. Selain sudah menjadi komersil, film yang diproduksi juga menggaet industri pers utnuk beriklan, lahirnya bioskop-bioskop baru, mengundang artis cantik dan bahkan artis impor dari Cina, serta paling penting adalah mulai kebanjiran penonton. Tapi sialnya, ternyata pada fase ini pula gunting sensor mulai bermain.

Lucu-Lucu

Buku ini begitu kaya menyaji aneka perubahan dalam industri film nasional di saat pertumbuhannya. Di banyak halaman, kita kerap terperangah, bahwa ternyata bintang-bintang film tempo doeloe begitu cantik —tak kalah dengan artis-artis zaman sekarang.

Paling menarik, misalnya, memuat gambar Artis Impor, yang bermain untuk film berjudul Resia Borobudur, bernama Olive Young. Konon, artis dari Cina ini dibayar mahal, dan dinegaranya amat kesohor, karena berani melakukan adegan ciuman (halaman 91).

Fakta lain, selera penonton mulai terbentuk. Persis seperti kritik seorang Belanda, bahwa penonton pribumi “tidak punya imajinasi”, mereka hanya mau menonton film perang, silat, romance, dan condong terhadap film dari Amerika dan Cina. Agaknya, imajinasi pendek para penonton film terbawa hingga hari ini.

Berikutnya, aktivitas per-film-an saat itu juga mulai mengenal jurnalisme hiburan. Terjadi ledakan iklan, berita, dan “propaganda” terhadap film-film yang dibuat atau akan diputar. Dengan munculnya pers yang bernama Doenia Film, Filmland, Bioscopcourrant, Film Reviem, dan lain-lain.

Silahkan tersenyum, untuk publikasi sebuah film yang berjudul Elis Atjih, produksi Java Film Coy, Tahun 1927, yang dimuat De Locomotif:

“Liat, bagimana bangsa Indonesia tjoekoep pinter maen film. Tida koerang dari laen matjem artis dari Eropa. Sementara, tentang pemain utama Elis Atjih, disebut sebagai: “Poetri jang tjantik manis dari Bandung” (halaman 74).Satu lagi fakta, bahwa tabiat gossip, hiburan, dan entertainment dalam media massa Indonesia, telah mengakar begitu jauh (jangan salahkan infotainment hari ini!).

Sensor Film

Berkaca dari sejarah, ternyata tabiat sensor selalu sama: dari pojok kekuasaan yang tidak senang. Pemerintah Hindia Belanda mulai cemas, melihat antusiasme penonton priboemi yang condong ke film-film Eropa. Mereka menilai, dampak film sangat berpengaruh. Dulu, kaoem pribumi melihat orang Belanda dan Eropa sangat terhormat. Setelah melihat film, semuanya berubah. Penduduk Hindia Belanda melihat bahwa dalam film, orang Eropa sangat tak beradab, sering selingkuh, bertengkar, berciuman, atau bahkan berkelahi. Menurut Kumpeni Belanda, orang pribumi tak bisa membedakan bahwa adegan dalam film adalah fiksi. Untuk itu, dimulailah tradisi sensor.

Beralih ke Zaman Jepang. Dalam fase ini, film menjadi alat propaganda perang. Film-film yang diproduksi melulu menguar-uar kehebatan tentara Dai Nippon (misalnya film berjudul Singaporo Soko Gaki, atau penaklukan Singapura). Sensor saat itu berlaku untuk membatasi tradisi individualistik yang terdapat pada film-film Eropa, Amerika, dan Cina.

Tetapi jangan salah. Sebagaimana halnya Belanda yang berjasa “mendidik” Priboemi untuk membuat film, Kaum Fasis Jepang-pun menyumbang satu dua hal dalam perfilman nasional. Misalnya, istilah-istilah Eropa/ Belanda dalam teknik film semuanya diganti dengan Bahasa Indonesia. Di zaman Jepang inilah, istilah Sutradara mulai popular, menggantikan istilah Film Registeur.  Dalam film Jepang pula orang belajar tentang disiplin baris berbaris, cara membuat barisan untuk mengirim air secara bergantian dalam memadamkan kebakaran, serta membuat organisasi RT/RW (yang hingga kini dipertahankan).

Informasi Detil Buku:

Judul                : Sejarah Film, Bikin Film Di Jawa

Pengarang       : Misbach Yusa Biran

Penerbit           : Komunitas Bambu, Jakarta, 2009