Buku Tentang Tommy Soeharto

MARIO PUZO, dalam novel Orang-Orang Sisilia (dan difilmkan dengan judul The Godfather oleh sutradara kawak Francis Ford Coppola, dibintangi Marlon Brando dan Al Capone), membuat ilustrasi menarik tentang ajaran saling percaya dalam keluarga mafioso, di Sisilia, Italia.

Begini. Don Carleone, meminta anak kesayangannya Michael Carleone, memanjat tembok. Begitu sampai atas, The Don menyuruh anaknya loncat. Sembari bertitah: Saya akan menangkap kamu di bawah sini, dan kamu tidak akan jatuh tersungkur. Si anak menurut. Langsung melompat. Apa yang terjadi? Ternyata The Don membiarkan anaknya jatuh terjerembab ke mencium tanah.

“Mengapa?” Tanya si anak protes.

Dengan dingin Don Carleone menjawab (lebih tepat memperingatkan).”Mulai hari ini kamu harus ingat, jangan percaya kepada perintah dan janji siapapun, —kecuali terhadap keluargamu sendiri.”

Dibalik kehidupan para mafioso yang bengis (sanggup meletupkan peluru ke dada lawan sembari menyesap wine), ternyata punya prinsip agung: kepercayaan terhadap klan, keluarga sendiri, dan mereka para Don itu teramat sangat mencintai keluarganya.

Pak Harto bukanlah The Don. Tradisi Jawa bahkan tak mengenal Mafioso (di Italia), Triad (di Hongkong), Yakuza (di Jepang), Cartel Narkotik (di Kolumbia), atau kehidupan ala Gangster sekalipun. Tetapi dalam satu dua hal, agaknya mirip-mirip. Tak banyak pihak yang bisa ia percayai. Dingin —the smiling general—, enigmatik, misterius, dan mampu melumpuhkan lawan-lawan politiknya. Setidaknya, begitulah tuturan dari O.G. Roeder, penulis Biografi Soeharti, The Smiling General. Satu lagi tambahan: ia teramat sangat mencintai anaknya….

Dari sekian kontroversi terhadap Soeharto, baik yang ilmiah, provokasi, atau bahkan fitnah sekalipun, agaknya akan sepakat dalam satu hal: faktor kejatuhan Pak Harto didorong oleh sikap “berlebihan” dari para puteri dan —-terutama— putera-puteranya. Tokoh-tokoh duniapun bilang begitu, termasuk Mahatir Muhammad dan Lee Kuan Yew. Salah seorang mantan diplomati Inggris yang berkantor di Jakarta (1998-2001), dengan liris menyatakan: Indonesia tanpa Soeharto tak akan seperti sekarang ini. Menyedihkan. Keserakahan anak-anaknyalah yang menghancurkannya.

The Golden Boys
Akankah Tommy comback dan mampu membangun kembali kejayaan “Kartel Politik Ekonomi Cendana”? Melalui pintu Ketua Umum Partai Golkar? Pasti tak mudah. Negeri ini meski tersaruk-saruk dalam pusaran konflik, toh, belum jatuh sebagai negeri mafia seperti Columbia —-di mana jaringan pengedar narkotika bisa menentukan hitam putihnya negeri di Benua Amerika itu.

Tak akan mudah bagi mantan Napi di Nusakambangan itu menutupi berbagai kasus hitam yang mengiringi perjalanannya. Jika didata, artikel ini akan menjemukan. Cukup kasus-kasus terbilang gajah. Diantaranya: kesemrawutan tata kelola cengkeh via BPPC, monopoli mobil nasional Timor, ruislag PT Goro dan Bulog, hingga keterlibatanya dalam pembunuhan Jaksa Agung Nasruddien —yang membuatnya harus tinggal di Nusakambangan.

Lebih menarik mengulas isu-isu bawah tanah tentang putera bungsu kesayangan Pak Harto itu. Saya pernah membaca pengakuan mantan pengawal pirbadi Pak Harto (sayang, judul buku dan pengaranya tak terlacak, tak ada di Google).

Tommy pasti paling disayang. Sewaktu Tommy bujangan, kegiatan Pak Harto jika malam minggu justru adalah memantau ke mana dan dengan siapa anak emasnya itu pergi. Seraya memerintahkan anak buahnya itu untuk membuntuti Tommy. Bahkan —kata buku itu— orang-orang Pak Harto menyebar ke Pub, Bar, atau bahkan Klub Malam di mana Tommy berada. Asal tahu saja, terhadap anak-anaknya yang lain, Pak Harto tak begitu-begitu aman. Wajar, jika Tommy disebut sebagai The Golden Boy.

Buku Shandy Harun
Kata-kata apa yang harus kita ungkapkan, seandainya 25% saja dari isu-isu panas tentang Tommy Soeharto mengandung kebenaran. Mulailah dari publikasi koran The Age Australia, dan juga salah satu Tabloid di Belanda, tentang keterlibatan Don Yuan Cendana ini dalam Kartel Medellin, jaringan pengedar narkotika internasional. Begitu juga tentang kisah-kisah plamboyannya, hingga ia dijuluki Playboy (memang masih bisa dikategorikan isu, tetapi banyak pengakuan dan publikasi faktual yang telah terungkap, misalnya kedekatan dengan beberapa perempuan cantik, serta pesta-pesta kalangan jetset).

Sebenarnya ada peluang pengungkapan. Beberapa tahun lalu, mantan orang dekat Tommy, Shandy Harun (kakak Donna Harun, dan anak dari Harun Al Rasyid), menulis buku biografinya sendiri. Tetapi, sayang ia tak bercerita banyak tentang Tommy. Kepada media massa, Shandy mengaku bahwa jauh-jauh hari ia telah melakukan perjanjian dengan Tommy. “Jika saya suatu hari menulis buku,” kisah Shandy, “saya tak boleh menceritakan hal-hal buruk tentang Mas Tommy.” Tapi dari sini kita bisa menelurkan spekulasi nakal: berarti memang keburukan-keburukan Tommy parah… hingga tak boleh dipublish ke publik….

Akhirnya, negeri ini memang belum seperti Amerika atau negara-negara barat lainnya. Di mana orang-orang dekat dari manusia-manusia jahat (biasanya para tokoh) mampu menulis dengan berani. Perihal perilaku buruk para tokoh publik. Buku tentang para tokoh di negeri ini belum jauh bergerak dari Kitab Mazmur —ucapan penuh puji-pujian. Hingga itu, gossip tak pernah selesai. Dan masyarkat pun tak belajar apa-apa dari situ. Begitulah….

One thought on “Buku Tentang Tommy Soeharto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s