Buku Tentang Pendiri Motor Honda

SETIAP menyimak pemberitaan mudik, hati saya selalu giris. Terutama untuk angka kecelakaan transportasi yang grafiknya tak pernah turun. Sepertinya fenomena ini melawan hajat sejarah. Bahwa dulu, ketika moda transportasi diciptakan, entah motor, mobil, atau kereta api, tujuannya adalah untuk kenyamanan manusia. Tetapi dalam kasus mudik, semua seolah terbongkar.

Lebih gila lagi adalah kecelakaan (yang disebabkan) oleh kendaraan bermotor roda dua. Artikel pendek ini mengulas tentang cita seorang penemu mesin motor-mobil bermerek honda. Barangkali menambahi perspektif anda tentang “penyakit” mudik.

Soichiro Honda
Soichiro Honda akan menangis bila saja saat ini ia masih hidup, seraya melihat Jakarta, Semarang, Surabaya, atau kota-kota besar lainnya di Indonesia. Karya inovatifnya di bidang otomotif (mobil dan motor) —-yang dikemudian hari berlabel Honda, hari ini (telah) memakan begitu banyak korban. Tak terkecuali para pemudik di Indonesia.

Perintis awal pabrikan otomotif Honda itu mungkin akan bergumam, bahwa hasil perjuangannya sama senasib dengan Alfred Nobel, seorang penemu dinamit. Kita tahu persis, atas rasa sesal mendalam, Alfred Nobel menyumbangkan seluruh hartanya untuk ikhtiar perdamaian dunia, melalui piagam bergengsi bernama Hadiah Nobel. Barangkali, inilah yang disebut dengan kompensasi.

Mengapa Soichiro Honda pantas menangis? Di Indonesia, ledakan populasi kendaraan bermotor gila-gilaan. Menggelembungkan asap polutan di atmosfir dan itu berarti memperlebar lubang ozon. Menguras sumber daya energi. Biang kemacetan, dan lebih miris lagi menelan ribuan korban di jalanan.

Data terbaru menyebutkan, 373 nyawa meradang di jalur mudik, dengan jumlah kecelakaan mencapai 1.027 kasus. Modus umum yang muncul adalah kecelakaan karena kendaraan bermotor (roda dua atau roda empat, enam, dst). Dari berbagai riset, seringkali menyebutkan biang keladi kecelakaan adalah kendaraan (ber)motor roda dua. Agak mudah diterima, bahwa standar keamanan dan perilaku pengemudi roda dua adalah menyedihkan —-terutama anak-anak muda yang ugal-ugalan.

Alasan lain, konon Soichiro Honda ketika merancang sepeda motor tak lain guna tujuan sangat mulia. Ia melihat bahwa bis umum, kapal laut, pesawat terbang, dan kereta api punya kelemahan mendasar: tidak mampu melayani jalur-jalur khusus berjarak pendek. Tidak lincah berkelak-kelok di jalan perkampungan. Sifatnya melayani jalur umum. Beda dengan motor yang memiliki kelincahan untuk melayani rute pendek, berkelok, dan masuk ke kampung-kampung.

Tapi, sekali lagi, di Indonesia temuannya itu telah berubah menjadi petaka. Kendaraan bermotor roda dua, di Jakarta, malah jadi wahana kebut-kebutan, tunggangan liar anak-anak a-b-g, dan sarana kriminalitas. Belum lagi bila menyebut tumpukan motor yang menyesakkan jalanan Ibu Kota.

Gagal Sekolah
Tapi beruntung sejarah (ataupun biografi) tak melulu menyimpan tragedi. Di sana juga ada yang disebut dengan prestasi dan inspirasi. Sama belaka dengan sosok yang kita perbinangkan ini.

Kisah sukses Soichiro Honda mirip-mirip dengan legenda lain di kolong langit ini, terutama mereka-mereka dengan karya luar biasa besar dan berpengaruh (diantaranya menjadi kaya raya). Dalam biografinya, Soichiro Honda adalah orang yang gagal sekolah. Nilai pelajarannya selalu jelek, dan ia drop out, lantaran lebih asyik mengulik mesin daripada termangu bersandar di bangku kelas. Cerita seperti ini, juga terjadi pada Bill Gates, yang keluar dari perguruan tinggi bergengsi bernama Harvard University. Sekolah (ataupun kampus) memang bukan jaminan.

Succes Story mereka bertumpu pada minat dan kecintaan luar biasa pada obyek yang mereka tekuni. Kerja keras, konsisten membangun mimpi. Itulah kata kunci para pembesar di berbagai bidang. Kita tak akan kehabisan contoh untuk tipologi manusia terpilih seperti ini. Dalam banyak hal, celotehan Ivan Illich bahwa Sekolah itu candu menemukan titik kebenaran. Tak sedikit orang sekolah karena kecanduan dengan gelar, titel atau priveledge yang didapatkan. Tidak untuk berkarya dengan sungguh-sungguh.

Selain tragedi, prestasi, dan inspirasi, sejarah dan kisah orang-orang besar juga potensial melahirkan kontradiksi. Inipun, lagi-lagi, terjadi pada temuan Soichiro Honda. Dalam kasus tokoh penemu yang kita bahas ini, kontradiksi justru berawal dari idealismenya sendiri, menciptakan kendaraan serba cepat dan serba nyaman itu, kini seolah menguap bersama kepadatan lalu lintas, kemacetan, polusi, penghamburan energi, dan penonjolan gaya hidup tanpa henti. Anda sepakat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s