Buku Tentang Ledakkan Krakatau


“PERADABAN manusia,” tulis Will Durant, “ada atau tidak ada tergantung dari restu geologis.” Tentu saja. Manusia bisa lenyap meski telah membangun benteng kota seteguh Kota Add versi Kaum Tsamud, di zaman Nabi Sholeh (ketika permukaan bumi terbalik —setidaknya begitu versi Kitab Suci).

Dan fenomena geologis yang kacau adalah rentetan bencana tanpa banding.

Kejahatan yang bersumber atau karena kelalaian manusia, belum sanggup mengubur peradaban. Diukur dari skala pengaruh, kecepatan, jumlah korban binasa, dan terutama dampak jangka panjang yang menyertai.

Korban kudeta berdarah sekalipun, terutama di era negara bangsa moderen kini, agak kurang dahsyat dibanding, misalnya, guncangan gempa dan amukan badai. Peristiwa Tsunami 2004, di Bumi Nanggroe Aceh Darussalam misalnya, yang menewaskan ratusan ribu orang, adalah ratusan kali lipat lebih besar dibanding jumlah yang tewas dalam Pesawat Adam Air yang hilang.

Butuh puluhan kecelakaan tol, atau kebakaran se-kecamatan di kawasan padat, untuk melampaui jumlah tewas yang terjadi di Padang hari ini. Angka lima ratus orang meninggal tidaklah sedikit. Meski, lelucon sinis mengatakan: koraban tewas 10 orang adalah berita, 100 orang adalah tragedi, dan 1000 orang adalah statistik!

Anda bisa mendebat. Bagaimana dengan ancaman nuklir, yang kini bisa ribuan kali lebih membinasakan dibanding peritiwa Hirosima dan Nagasaki? Tenang, itu bukan ancaman sebenarnya, kata Arnold Toynbee, dalam kata pengantar untuk buku Jerit Perdamaian, tentang penderitaan korban perang di Jepang. Mengapa? Karena kalau terjadi perang nuklir, tak akan ada pemenang yang sesungguhnya. Semua akan binasa. Tak akan ada rezim konyol yang mengawali perang untuk kemusnahan negerinya sendiri.

Ingatan mungkin akan melayat ke tindakan brutal Hitler, pembantaian Yahudi —horor Holocaust. Atau data-data kontroversial akibat kebrutalan perang saudara di Indonesia paska G30S, atau “the killing field-nya” Polpot, revolusi budaya Mao Tsetung, dan serangkaian aksi penjagal dan konflik rasial di muka bumi ini. Baiklah, barangkali ribuan manusia binasa. Tetapi itu terjadi dalam proses yang memakan waktu. Beda dengan amukan alam, sekali ledakan, blarrr!

Krakatau
Dunia meledak, di Agustus 1883. Letupan lahar menyemburat ke ujung langit, sampai-sampai nelayan di pasifik mengira di seberang sana ada api neraka. Lelehan magma meluber. Uap panas, hujan debu, belerang, dioksida, fosfor, dan belerang, membumbung hingga empat bulan, membentuk suatu catastrophe (seperti tutupan atap di atmosfer). Letusan Krakatau bahkan secara fisik terasa hingga ke Australia, Manila, dan pulau-pulau kecil di Afrika. Korban tewas saat itu mencapai 36 ribu (ingat, populasi Batavia waktu itu cuma ratusan ribu orang). Konon, bukti-bukti vulkanologis yang tersedia menyebut ledakan itu adalah kelima terbesar sepanjang sejarah. Empat yang lainnya…terjadi di zaman Purba.

Bukan peristiwa itu yang menarik —setidaknya bagi kita, bangsa pelupa.

Buku Simon Winchester, diterbitkan Serambi, Tahun 2006, ini mengabarkan potensi yang mengancam. Hari ini, Gunung Rakata, yang muncul-membesar-mengancam dari reruntuhan “ibunya” yaitu Gunung Krakatau, kini telah berusia matang. Tak bisa dipastikan si anak baru ini berperilaku sopan —tak seperti pendahulunya yang memuntahkan bebatuan panas dan menimbulkan Tsunami setinggi belasan meter di Selat Sunda. Dengan keliahan bertutur disertai dokumentasi klasik, penulis buku ini membuat telaah sejarah. Menurutnya, gugusan gunung di ujung barat Pulau Jawa itu telah belasan kali berulah. Sebelum “kiamat” di 1883 itu, Krakatau (atau apapun namanya) pernah pula meledak di Tahun 1600-an. Artinya? Hitungan matematika dasar akan menyebut: terjadi siklus 200 tahunan, untuk mengulang letupan Krakatau. Kini, nyaris 1,5 abad lebih setelah ledakan Krakatau di 1883 itu.

Bagaimana prediksi pakar?

Marco Fulle (51) ilmuwan, astronomer, dan pakar gunung api, dari Italia, mencoba mengingatkan bahayanya letusan Krakatau.

“Ledakan seperti 1883 bakal terjadi lagi. Krakatau akan menjadi sangat berbahaya jika tingginya sudah setara dengan ketinggian 1883, atau dua kali dari tinggi sekarang,” katanya. Meskipun begitu, tidak ada jaminan ledakan tidak terjadi dalam waktu dekat.

Bahkan ada nujuman yang lebih mendebarkan. Ramalan Drosnin, Gilbert, atau nubuat Bangsa Maya, tentang ancaman 2012 barangkali lebih cepat dibanding siklus dua abad versi Krakatau. Meskipun temanya tetap sama: kekacauan alam semesta ini.

Pikiran waras kita akan buru-buru berdoa, atas nama agama atau Tuhan apa saja, agar seperti ramalan sejenis lainnya, hitung-hitungan berbau klenik itupun (kembali) melenceng. Sepusing apapun, hiduplah terus. Utang masih bisa dibayar. Lantaran anda tak bisa menyewa pengacara jika badai taufan menghumbalang di kampung halaman.

Petikan Hikmah
Seperti solidaritas dunia terhadap Ranah Minang saat ini, seperti perdamaian Helsinki paska Tsunami Aceh, bencana-bencana besar senantiasa menyembulkan hikmah. Luberan lahar meneburkan lapisan humus yang menyuburkan tanah pertanian, seperti yang terjadi setelah Galunggung (di Jawa Barat) meletus. Dulu, ledakan Krakatau juga melahirkan dampak sampingan yang sama-sama luar biasa.

Buku ini menyulam dengan halus, fakta-fakta filologi (naskah kuno), gulungan catatan klasik, koleksi pamflet, laporan telegraf dari Kumpeni Belanda, sampai studi vulkanologi dan rekaman sejarah yang sangat ilmiah. Menghadirkan fakta-fakta menarik seputar bencana Krakatau.

Beberapa diantaranya kontroversial. Seperti pembuktian bahwa era globalisasi yang disebut bak mantra oleh manusia penggila internet kini, bermula dari Krakatau. Saat itu adalah era Victorian, di kala koran-koran Eropa punya kontributor di negeri terjauh —termasuk di Kota Batavia. Guncangan Krakatau adalah peristiwa dalam sejarah yang informasinya tersebar cepat, karena kiriman berita via telegraf (yang belum lama diciptakan).

Dampak Krakatau juga berdimensi politik, mungkin sama dengan penandatanganan damai antara GAM dan Pemerintah RI. Bedanya, yang di Aceh adalah gencatan senjata, sementara di Tatar Sunda malah angkat senjata. Menurut buku ini, lima tahun setelah letupan Krakatau, terjadi Geger Cilegon, perlawanan kaum tani dan Kyai di Banten terhadap kolonialisme Belanda. Lahar Krakatau menggelegak dalam pemberontakan itu, karena keyakinan bahwa alam marah atas tingkah-polah penjajah.

Petikan menarik dari dampak Krakatau, adalah lahirnya kekayaan vegetasi (biodiversity) baru di ujung barat Pulau Jawa itu. Setelah luluh lantak, dan menyisakan abu vulkanik, batu panas, pohon yang merangas, serta semak berarang, justru muncul kehidupan baru di pulau itu. Kehidupan laba-laba, tumbuhan dan burung, lalu lama-lama berubah menjadi hutan belantara. Tak akan pernah habis pikir kita tentang bagaimana binatang dan tumbuhan itu sampai pulau itu. Bagaimana mereka bisa melintasi lautan meninggalkan induknya di seberang sana.

Catatan:
Simon Winchester, penulis buku ini, adalah kelahiran Skotlandia yang menyelesaikan studinya di Jurusan Geologi Universitas Oxford, Inggris. Penulis berjuluk The Madman Professor ini telah banyak menulis petualangannya di berbagai penjuru dunia untuk National Geographic, Conde Nats Traveler, dan Smithsonian, juga telah menyelesaikan 18 buku.

Diposkan oleh Buku dan Renunganku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s