Buku Edisi Ulang: 100 Tokoh Paling Berpengaruh

BERMILYAR manusia sempat mencicipi hidup di jagat dunia. Namun sedikit saja yang menancapkan pengaruh secarah kokoh —menjadi ingatan sejarah sepanjang waktu. Orang-orang yang melegenda itu, berbaur dalam aneka jenis. Dari tokoh bijak bestari, Nabi, hingga penguasa despotik yang bengis sekalipun. Wajar belaka, bila memori kita kemudian menyimpan file berikut: dari Yesus, Muhammad, Budha, Lao Tze, hingga hingga Hitler, Polpot, Stalin, atau bahkan Mao.

Dan tradisi perbukuan punya cara untuk itu. Merekam sepak terjang manusia-manusia pilih tanding, dalam jutaan lembar teks pustaka. Praktek inilah yang melahirkan berbagai artefak sejarah, dalam biografi, hegiografi, ensiklopedi tokoh, dan semacamnya. Lebih spesifik lagi, adalah buku-buku yang menyimpan nama-nama para tokoh. Seperti dalam Whos Who, Apa dan Siapa, serta yang paling kontroversial ini: 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah….

Berpenanda tahun 1978, buku 100 Tokoh ini terbit. Seorang bernama Michael H. Hart, lahir 28 April 1923, pernah bekerja di NASA, adalah guru besar astronomi dan fisika di Maryland, Amerika Serikat. Hart mendapat sorotan dunia berkat buku yang ditulisnya itu. Entah sudah berapa edisi dan berapa bahasa yang menerbitkan kembali buku ini. Jelas, kalau sekedar ingin populer, Michael Hart telah melampaui itu. Alumni NASA itu bahkan memetik kontroversi —bahkan hingga saat ini. Dan itu ia jawab dengan edisi revisi buku ini.

Mengapa ia menulis ulang? Seraya membuang beberapa nama yang sebelumnya masuk daftar 100, disertai penjelasan detail.

“Satu alasan untuk membuat revisi,” kata Hart, “adalah bahwa sejarah tidak berhenti di tahun 1978, ketika edisi pertama buku ini ditulis. Sebaliknya, banyak peristiwa baru terjadi sejak itu—beberapa di antaranya tidak terantisipasi—dan tokoh-tokoh sejarah baru bermunculan. Walaupun pengetahuan saya tentang masa lalu memang sempurna pada dua belas tahun lampau, buku ini tetap membutuhkan revisi karena dunia telah berubah sejak itu.”

Nabi Muhammad
Ummat Islam mungkin tak memusingkan perguliran kontroversi. Tetapi bukan berarti subyektivitas buta, jika kemudian buku ini nyaris menjadi fardu kifayah, tersimpan baik di rak perpustakaan (di rumah atau komunitas mereka). Buku ini toh memakai tata krama sahih dalam penulisan, standar yang jelas. Ada tujuh kriteria, mengapa sebuah nama masuk dalam 100 daftar.

Menurut Hart sendiri, aturan pertama yang dia gunakan adalah orang yang masuk dalam daftar merupakan tokoh yang benar-benar ada. Aturan kedua, Hart tidak hanya memilih tokoh yang paling terkenal atau prestisius dalam sejarah. “Ketenaran, atau bakat, atau kemuliaan karakter tidaklah sama dengan pengaruh,” tulis Hart. Aturan ketiga, Hart tidak membatasi daftar orang yang masuk dalam bukunya hanya pada orang-orang yang memengaruhi kondisi umat manusia saat ini. Pengaruh pada generasi terdahulu juga dipertimbangkan dalam posisi sejajar.

Aturan keempat, dalam menetapkan di mana tepatnya seseorang berada, Hart amat menekankan arti penting dari kontribusinya terhadap sebuah gerakan sejarah. Secara umum, perkembangan sejarah besar tidak pernah bergantung pada tindakan satu orang saja. Karena buku ini menyangkut pengaruh individu dan pribadi, Hart berusaha membagi pujian sebuah perkembangan pada beberapa orang yang berpartisipasi di dalamnya. Dengan begitu, perorangan tidak diperingkatkan bersejajaran dengan arti penting dari peristiwa atau gerakan yang terkait dengannya.

Aturan kelima, setiap orang yang dimasukkan dalam buku ini dipilih berbasiskan pengaruh aktualnya, bukan sebagai perwakilan sebuah gerakan penting. Aturan keenam, setiap orang yang masuk dalam daftar di buku ini—menurut pemahaman Hart—merupakan tokoh-tokoh yang amat monumental dalam sejarah. Aturan ketujuh, buku ini didasarkan pada apa yang sungguh terjadi di masa lalu, bukan apa yang seharusnya terjadi, atau apa yang mungkin terjadi jika masyarakat manusia lebih memgutamakan kesetraan. Demikian “ketujuh” aturan yang dicoba disarikan dari buku karya Hart.

Khusus Nabi Muhammad, penempatannya dalam peringkat pertama karena pengaruh langsung yang dilakoni sang Nabi sendiri. Menurut Hart, berbeda dengan Isa, Budha, atau tokoh agama lainnya, Muhammad adalah pemimpin politik (duniawi) sekaligus ukhrawi (akherat, keagamaan). Tulis Hart: dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.

Last But Not Least
Pesan gampangan untuk buku ini barangkali adalah klasik: memperkaya khasanah tentang ketokohan manusia-manusia besar. Tetapi, bila sepakat, ada juga tafsir lain, terutama dari lahirnya Edisi Revisi baru ini. Bahwa sejarah tak pernah berhenti. Tokoh legendaris bisa lahir dan berakhir. Keterkenalan dan kehebatan, juga tak semata-mata bersumber dari kebaikan, tapi juga kedholiman. Pilihan ada di tangan, berkiblat ke mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s