Jangan Sampai Indonesia Selalu Membakar Buku

Dulu pernah ada iklan susu formula di televisi yang menggambarkan “anak cerdas dan kreatif”, dengan cara menginjak buku —sebagai balok penatah, karena si bocah itu ingin meraih mobil-mobilan di rak yang tinggi. Inilah salah satu cara orang Indonesia mengajari anak-anak tentang buku. Betapa barbar dan bodoh (seolah tumpukan buku sama belaka denganseonggok balok-balok atau batu bata).

Namun ajaib, iklan itu selamat dari hujatan. Tak ada perang protes, sepi respon, dan kalau tak salah hanya secarik surat pembaca yang menggugat muatan iklan ini. Info pariwara di media pandang dengar itupun Gone With the Wind, lalu bersama angin….

Mari kita masuk ke isu pembakaran buku yang kini kembali mencuat —dan agaknya tidak akan menjadi kasus terakhir, sejauh batok kepala rakyat di negeri ini masih menganggap buku sebagai benda remeh temeh. Sebelumnya, sedikit menguar keganjilan dan tradisi berpikir orang-orang kreatif di industri periklanan, yang tega-tega membuat skenario “menginjak buku”, seperti yang dipetik di atas barusan.

Asumsinya gampang: pekerja kreatif di industri periklanan pastilah tergolong manusia berpendidikan, jebolan kampus bermutu, dan bergulat dengan ide-ide cerdas. Lalu salah satu produknya adalah menistakan nilai seonggok buku —untuk dilihat anak-anak balita. Jika di kalangan ini saja sebegitu rendah pandangannya, maka bagaimana dengan publik di bidang profesi lain?

Rezim SBY pun Membakar Buku
Jangan sampai tradisi bakar-bakaran buku ini berlanjut. Meskipun hingga hari ini udara negeri ini begitu pekat dengan bubungan asap dari lembaran pustaka yang gosong. Sesuatu yang membuktikan betapa munafiknya bangsa ini, menurut saya, adalah dengan berkaca cari peristiwa-peristiwa berikut:

Di saat rezim SBY gencar mengkampanyekan budaya baca, termasuk Ibu Ani yang rajin membuat motor pintar, perahu pintar, dan mobil pintar yang membawa ratusan buku ke berbagai penjuru negeri, justru di saat yang bersama Kejaksaan dan aparat pemerintah membakar ratusan buku —dengan alasan sepele, ada sebuah buku ajar yang tidak mencantumkan kata PKI di depan istilah Gerakan 30 September!

Ini cermin hipokrisme (kemunafikan) telanjang…

Mengangkangi terang-terangan program yang dihela oleh SBY dan aparatnya, termasuk, misalnya bantuan BOS buku ke sekolah-sekolah. Atau proyek digitalisasi buku gratis untuk para pelajar. Mengapa? Perlakuan tak adil, di situlah masalahnya. Rezim SBY bertindak sebagai hakim tunggal, mempromosikan satu produk buku dan memberangus produk yang lain. Saat bersamaan juga mengkerdilkan daya kritis dan pemahaman publik pembaca —siapapun mereka, mulai anak sekolah hingga penyandang gelar doktoral. Agaknya semua kita masih belum percaya, bahwa para pembaca punya mekanisme sendiri untuk menilai mana buku palsu, mana buku bermutu. Untuk itu, tak perlu ada ritus pembakaran buku.

Guru Besar Bakar Buku?
Lalu berita heboh berikut ini memperpanjang fakta tentang ruwetnya opini publik terhadap nilai sebuah buku. Diberitakan, Guru Besar Sejarah ikut-ikutan dalam aksi membakar buku berjudul Revolusi Agustus, karangan Soemarsono. Dengan gampang nanti, peristiwa ini dijadikan teladan terbalik (dan teladan terbaik bagi pihak yang berlaku barbar terhadap buku). Sang Guru Besar, kelak menjadi causa celebrare, peristiwa yang selalu di kenang, diulang-ulang, untuk tragedi yang serupa. Jangan lupa, ia memperkokoh perilaku barbar, untuk manusia-manusia yang tak cinta buku.

Adakah beliau telah kehilangan akal, atas sebuah karya yang berlatar ketokohan seorang yang terlibat di PKI? Lupakah ia pada perjuangan Amelia Yani dan Keluarga Aidit yang mencoba untuk melakukan rekonsiliasi? Bagaimana bangsa ini bisa bijak, bila dendam dan kesumat masa lalu terus dihembus-hembuskan? Termasuk dengan membakar buku yang berbeda versi —-dari mereka yang pernah terlibat di peristiwa 65 lalu.

PKI seperti hantu, bahkan dalam industri perbukuan kita.

Seolah-olah tak ada sama sekali hikmah sejarah, bahwa negeri ini bisa lolos dari cengkraman kolonialisme, bukan semata-mata oleh bedil, tombak, atau bambu runcing para pejuang. Tetapi juga lahir dari sumbangsih gagasan, tentang nasionalisme, tentang sosialisme, dan bahkan tentang komunisme. Bahkan, jika tak keliru, pemberontakan melawan belanda juga pernah dilakukan oleh kaum kiri ini. Saat itu, bukankah mereka hero untuk kita?

Barangkali juga aksioma bahwa buku harus dilawan dengan buku telah terlalu melelahkan….

Hingga itu, mereka-mereka yang berikhtiar pendek, kurang tekun, selalu mengambil jalan pintas: bakar!

Boleh belaka, bahwa seruan buku di lawan buku bisa kita tolak. Karena tak gampang dilakukan, butuh energi, materi, serta pemikiran serius. Untuk apa pula buku-buku sampah harus ditanggapi dengan kelas yang sama. Bukankah lebih baik dibiarkan saja? Serahkan pada pembaca. Saya kira, ini adalah salah satu pilihan masuk akal. Termasuk untuk generasi di bawah kita nanti, anak-anak kita (jangan sampai membakar buku lagi).

One thought on “Jangan Sampai Indonesia Selalu Membakar Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s