Buku Pendek Ala Krisdayanti

Salah satu perilaku celaka elit politik adalah menulis buku dengan materi yang sudah bisa ditebak arahnya: bela diri, raih simpati. Belakangan trend sejenis ini juga menyergap tokoh publik yang lain, misalnya selebritis. Dengan agak enggan, saya terpaksa memasukan nama Diva, Krisdayanti dalam golongan ini.

Wajar saja disebut celaka, lantaran hal itu juga menghadirkan sejumlah kecelakaan bawaan. Misalnya mencetak buku dengan hard cover dan print digital, sebuah pemborosan yang mestinya dialihkan saja ke buku-buku ajar anak-anak sekolah. Mencantumkan testimoni atawa pengakuan dari sejumlah nama di halaman belakang, dengan isi yang kadang keterlaluan. Lalu beberapa waktu setelah diluncurkan, si buku itu juga kesulitan memperoleh tempat layak, biasanya di rak perpustakaan umum yang jarang tersentuh. Terkadang teronggok begitu saja di tempat-tempat yang kurang terurus. Lantaran tak layak untuk menempati gerai khusus di toko buku dengan label best seller. Saya sendiri kerap mengikuti peluncuran buku model begini (dalam seminar atau diskusi), meski bukunya dibagi gratis, tapi orang sering malas membawanya pulang….

Pendek Usia
Dari berbagai kasus, bolehlah dilahirkan sebuah premis: bahwa buku-buku tersebut, meski menyimpan potensi kebenaran, tetapi usianya tak lama. Pupus dan tak terbukti hanya dalam hitungan bulan atau tahun. Terbantahkan isinya secara otomatis, tak lama setelah tokoh yang dibukukan itu naik jabatan. Ini khusus untuk buku-buku politisi yang diterbitkan di masa kampanye.

Saat ditulis, berhamburan pernyataan dan idealisasi atas sebuah cita-cita. Tentang visi misi anti korupsi, cita memberantas kemiskinan, dan perjuangan menegakkan keadilan publik. Namun begitu si penulis duduk di parlemen, berbalik punggung dengan harapan. Ia bahkan menjadi sosok yang begitu rakus.

Model lain, adalah buku putih atas tokoh-tokoh kunci dalam sejarah. Pengakuan mereka menggetarkan, seakan hero yang menyelamatkan nasib negeri. Seraya tak lupa menista nama lain yang menjadi saingan. Akan tetapi, begitu kontroversi meledak, lahirlah pengakuan-pengakuan yang sebaliknya, justru membuktikan ketidakbenaran buku putih yang ditulis sebelumnya. Misalnya, adalah pertarungan dalam dunia pustaka, antara Prabowo, Wiranto, Habibie, dan Sintong Pandjaitan.

Sesungguhnya banyak contoh. Tapi cukup satu tambahan lagi.

Sebelumnya kita membincang buku-buku biografi, otobiografi atau personal profile. Namun ingat, dalam mitologi Yunani, ada istilah yang disebut dengan hegiografi, alias buku-buku yang ditulis tentang orang-orang suci. Nah, bedanya dengan kita sekarang, manusia yang dijadikan objek buku tak benar-benar suci. Melainkan pengakuannya saja yang seolah-olah bersih tanpa cacat.

Satu tambahan itu adalah tentang betapa sejarah mengulang-ngulang kebiasaan lama, historia panta rei (sejarah selalu terulang, kata pepatah Perancis). Begitu suatu rezim menang, ia akan menerbitkan puluhan buku yang membenarkan tindak tanduknya, dengan mencantumkan begitu panjang kesalahan-kesalahan musuh. Tipe seperti inipun sama saja, berusia pendek. Terbantahkan setelah rezim itu runtuh oleh kekuatan yang lain.

Buku Krisdayanti
Terus terang saya bukan golongan kaum nihilis yang mengosongkan makna atas tindakan seseorang. Benar, bahwa selalu ada nilai positif atas sesuatu, termasuk penerbitan buku Krisdayanti, My Life, My Secret, dengan sampul mewah nan kinclong. Setidaknya pelantun Menghitung Hari ini memulai kebiasaan bagus, menulis buku untuk kalangan yang sesungguhnya jauh dari produk seperti ini. Setahu saya, ada beberapa pesohor industri hiburan yang telah melakukan hal yang sama. Ada Nurul Arifin, Pelawak Dono, Dhee, dan lain-lain. Karena perilaku mereka selalu ditiru, siapa tahu mengedukasi fans mereka di mana-mana. Tapi agaknya ini pun belum terjadi.

Dalam karyanya, Krisdayanti menulis tentang puja puji terhadap peran sang suami, Anag. Dalam resensi yang saya baca, ada bab khusus tentang hal itu. Bahwa suaminya itu adalah salah satu tiang yang meyangga kesuksesan karirnya.

Tapi rupanya My Life, My Secret inipun pendek umur. Hari ini terjadi kegemparan di jagat infotainment, tentang kisruh rumah tangga pasangan ini. Menurut pengakuan manajer Anang, konflik mereka sudah lama, artinya terjadi sejak buku itu belum ditulis. Nah, bukankah ada kontradiksi di sini?

Pelajaran yang bisa dipetik sederhana saja: tak mudah menulis buku! Lebih-lebih bila tujuannya jauh dari menebar gagasan dan melakukan pencerahan. Tetapi di sisi lain, teramat mudah menemukan kebohongan dalam buku. Dari sini, tanpa ragu saya menyebut: buku tak selalu menjadi guru yang baik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s