Resensi Buku Ibnu Qayim Al Zaujiyah

Buku dari Ibnu Qayim Al Jauziyah, tentang fadhillah berdzikir, merampas perhatianku. Di sebuah tempat di Leces, Probolinggo, saat musim kampanye, risalah itu kutemukan di tempat bacaan umum —milik seorang kawan. Isinya lumayan bagus, dan banyak hal-hal baru kutemukan. Sekitar seratusan dalil tertuang, mengenai seluk-beluk (dan manfaat) berdzikir.

Dari sekian banyak itu, satu yang selalu kuingat-ingat hingga saat ini. Bukan apa-apa, keterangan yang diberikan tergolong luar biasa. Belum pernah aku dengar, baca, atau temukan di tempat lain. Sayangnya, aku lupa, apakah tulisan Ibnu Qayim itu bersumber dari hadis, atsar, atau kisah sufistik.

Pesan yang disampaikan sesungguhnya bertema umum: keteguhan dan kesabaran —tanpa pamrih. Teladan yang dijadikan anutan adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Orang pasti sepakat: beliau tak ada banding dalam perkara kesabaran. Jutaan ummat patut berpaling, seraya memetik hikmah atas pelajaran yang telah disampaikan nabi. Terutama di saat-saat penuh goncangan dan tantangan seperti sekarang ini.

Saya tak berpanjang debat tentang suri tauladan Nabi, itu adalah urusan yang sudah diterima sepenuhnya (taken for granted). Melainkan membincang berbagai predikat yang tersemat kepada beliau, yang disampaikan oleh para ulama —dari dulu hingga kini.

Ada satu kekhawatiran menyembul: jangan-jangan ada sejumlah cerita yang dikemas bombas, hiperbolik, dan akhirnya kehilangan nilai kebenaran. Barangkali tak ada niatan apapun dari si pengarang, ketika menulis riwayat yang “berlebihan” tentang Nabi. Maklumlah, kecintaan luar biasa terhadap Sang Nabi adalah sebentuk kemuliaan juga. Jutaan Ummat mungkin berada dalam posisi ini.

Namun, sekali lagi, harus ada unsur kebenaran di dalamnya. Kalaupun terjadi penambahan kisah dan pengangungan yang sifatnya pujian, maka harus memberikan keterangan penjelas, bahwa ini adalah kreativitas dari si penulis, atau si periwayat. Agar kita bisa mahfum, dan mampu membedakan mana yang bernuansa argumentasi, dan mana yang mengarah pada puisi.

Pencampuradukan hanya akan membuat pikiran limbung. Sekaligus juga menambah beban ummat. Lantaran tak sedikit upaya rekayasa atas hadis, atsar, fatwa, ijma, dan berbagai dalil dalam ajaran Islam.

Pengemis Yahudi

Pokok soal yang ingin saya angkat: tentang pengemis Yahudi yang buruk rupa sekaligus bejat akhlak. Si pengemis, dalam tausiyah yang dipetik oleh Ibnu Qoyim, setiap hari tanpa lelah memaki-maki nabi. Omongannya teramat kasar, menyakitkan, pedas dan panas. Tak sedikit sahabat marah, ingin menghabisi riwayat si pengemis. Lebih-lebih, obyek hinaan utama si pengemis adalah seorang mulia yang teramat dihormati.

Bagaimana reaksi Nabi?

Di sinilah, rasionalitas dan emosionalitas kita terlihat kerdil. Kebanyakan kita, tatkala menghadapi cercaan dan hinaan —terlebih oleh orang yang derajatnya di bawah kita—- pasti murka luar biasa. Bukan hanya membalas, tapi pasti membuat reaksi yang sekuat-kuatnya. Bara dendam kesumat, kemarahan, dan kebengisan, adalah sesuatu yang biasa terjadi sebagai respon atas hinaan terhadap diri kita —-yang dilakukan tiap hari.

Nabi, justru sebaliknya. Ia tanpa pamrih dan rutin malah menyambangi si pengemis Yahudi, setiap hari. Sembari mendatangi, beliau tak pernah lupa memberi makanan, langsung diantar sendiri, —dan ini luar biasanya—- menyuapi si Yahudi sialan itu.

Saya tergetar dengan cerita ini. Lantaran ada keterangan lanjutan. Bahwa, dalam rutinitasnya menyuapi pengemis buruk tabiat itu, nabi tak pernah mengatakan bahwa ia adalah orang yang selalu dimaki-dihujat-dihinakan.

Tak pernah ada upaya baginda untuk membujuk, mencoba meredakan kebiasaan memaki nabi dari mulut kurang ajar sang pengemis. Sebagai manusia agung, mudah saja ia melakukan itu. Tetapi tidak….

Tiap hari, hingga beliau wafat, tak sepotong kalimatpun terlontar dari mulut Nabi Muhammad —-yang menjelaskan siapa dirinya, atau menegur agar si pengemis menghentikan aksinya.

Ini adalah sebentuk kesabaran yang tiada tertandingi. Manusia mulia, penuh kekuatan, dihormati, dicintai, membiarkan manusia buruk derajat memaki-makinya setiap hari. Bukan semata membiarkan, malah memberi makan sambil menyuapi, juga saban waktu! Tak ada upaya memaksa, membalas, membujuk, atas perbuatan tercela dari manusia celaka! Pantas saja, bila ukurannya adalah logika dan emosionalitas kita, semua itu tergolong mustahil!

Cerita Israiliyat

Saking dramatisnya cerita ini, saya seringkali terguncang. Jujur, iman seperti limbung, penasaran oleh kebenaran kisah itu. Entah kenapa, dulu, ketika membaca, saya tak memperhatikan detil dari isi buku itu. Apakah kisah pengemis itu hanya petikan kisah sufistik —-yang memang terkadang imajiner— cerita dari tanah arab belaka, atsar, atau tausiyah dari siapa. Tak jelas pula, saat itu, apakah bersumber dari Hadis. Jikapun dari hadis, golongannya di mana: sahih, mutawatir, hasan, dhoif, atau maudhlu….

Sekarang malah penasaran. Ditambahi oleh kondisi pribadi saya yang memang kurang normal. Digempur hinaan. Dirundung kesedihan. Terbelit masalah ekonomi. Pekerjaan yang serba tak pasti. Penghasilan (atau rezeki) yang seperti dipermainkan orang. Plus, miskin penghargaan dari orang yang telah dibantu. Pokoknya prihatin.

Tetapi dibanding kisah di atas, seperti sepilin kapas di atas langit berawan. Tak ada apa-apanya.

Saya rindu dan bertekad akan bertanya kanan kiri. Meriset dari buku dan literatur, searching di internet, tentang versi sebenarnya dari kisah Nabi dan Pengemis Yahudi. Saya rindu, mudah-mudahan itu tergolong hadis, kalau perlu hadis sahih. Bukan untuk mengurangi kecintaan dan takzim terhadap Rosul. Tetapi untuk menambah mempertebal keyakinan saya. Seraya menjadi pengingat, bahwa dikala dirundung susah, riwayat itu menjadi cermin penginat. Jangan sampai, kisah itu justru kontroversial dan berbau cerita Israiliyat —-dibuat untuk membingungkan ummat.
Bersabar

Muaranya adalah bersabar. Meneguhkan sikap ikhlas, ridho, menerima ketentuan Allah adalah sumber penopang dan ketegaran kita. Bila tidak, diri ini akan gampang limbung. Kerasnya hidup dan kesulitan yang mendera, butuh cantelan pengaman, agar kita tak jatuh dalam sikap-sikap keliru.

Saya juga berjanji. Sebisa dan sedapat mungkin memperbaiki kualitas kesabaran. Mendorong ke arah yang lebih baik, agar segala sesuatu yang menjadi ketentuan Illahi, bisa diterima secara ikhlas dan ridhlo. Kalau sesekali muncul gerutu, kecewa dan sedih, biarkanlah lahir sebagai respon manusiawi —-sebagai bukti rendahnya derajat diri. Tetapi tak akan menjadi pilihan permanen, diendapkan menjadi bara kemarahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s