Hikayat Lalat dan Buku Agung

Bahkan seekor lalat mampu berperan dalam kelahiran sebuah literatur klasik yang terkenal hingga detik ini, baik di kalangan Muslim atau mereka-mereka yang tertarik dengan sejarah Islam.

Syahdan, ketika Imam Al Ghazali menulis kitab Ihya Ulumudin, sempat tersela oleh hinggapnya seekor nyamuk di ujung penanya. Harap ingat, pena Jadul (zaman doeloe) bukan Du Pont atau Pilot seperti yang kita kenal sekarang. Mungkin lebih mendekati ini: sebatang bulu angsa yang diisi dengan tinta. Nah, si lalat pengganggu itu hanya sekedar melakoni instink hewaninya, menganggap isi pena sebagai darah…

Sang Imam membiarkan mahluk kecil itu. Padahal jika mau, sekali kibas umur si lalat langsung tumpas. Di sini faktor keimanan yang bermain: bahwa sesama mahluk Allah tak boleh saling bunuh. Oleh karena pilihan bijak ini, menurut beberapa atsar Ulama, Imam Al Ghazali naik derajat. Allah meninggikan statusnya di antara kaum Muslim. Lalu kita mengenal dengan bangga, sebuah Kitab Ihya Ulumudin, yang disebut-sebut sebagai magnum opus (karua luar biasa) dalam khasana literatur ke-Islam-an.

Mudah-mudahan petikan kisah ini cukup pantas guna mengawali serentetan cerita menarik di balik lahirnya buku-buku besar. Dengan terlebih dahulu memuat pesan pentingnya, bahwa karya-karya yang berpengaruh sepanjang zaman itu tidak selalu lahir sendiri. Melainkan ada berbagai sumbangsih (besar atau kecil) dari orang-orang di sekeliling. Bahkan juga peran dari mahluk lain.

Sebuah buku memang tidak dari langit. Kehadirannya juga tak bisa dipesan cepat sebagaimana meminta Bang Agus membuat martabak telur. Ada proses yang berjalin berkelindan, interaksi dan pergumulan dari waktu ke waktu. Perkara ini tercermin, misalnya, dari buku Das Capital-nya Karl Marx atau The Origin of Species-nya Charles Darwin. Dua pemikir hebat ini mendapat bantuan penting dari kawan-kawannya, baik teman dekat atau kolega dari jauh.

Namanya Frederich Engels, dan dia yang memberi support materi terhadap Karl Marx, selama nama yang terakhir ini sibuk meriset di perpustakaan. Beberapa kalangan malah curiga, kalau-kalau buku Das Capital tak lain adalah pesanan Engels. Berlanjut ke tokoh lain, Charles Darwin, perumus teori Evolusi. Mari lihat penggunaan kata “perumus” di kalimat barusan. Sengaja memang tidak ditulis dengan kata “penemu”. Lantaran sejatinya Darwin berhasil merumuskan teori evolusi, dia bukan satu-satunya orang yang menemukan teori yang membuat marah penganut agama fanatik, di Islam, Kristen, atau Yahudi sekalipun. Artikel ini tak berpanjang debat tentang kerumitan Das Capital atau Charles Darwin. Semata mengingatkan ada pihak lain yang berperan. Charles Darwin, ketika menyusun teorinya, mendapat sumbangan materi ilmiah hasil temuan lapangan di Molucas (Maluku), dari seorang periset bernama Wallacea.

Debat memang bisa dibuka tentang “seorang jenius dengan buku hebat” dan sumbangsih orang-orang di sekelilingnya. Sebelumnya, mari telusur informasi berikut.

Saya pernah membaca di buku-buku motivasi. Ketika Nathaniel Harthow menulis The Scarlett Letters, nyaris frustasi, ada isteri yang memberi dukungan menggebu, agar novel itu dituntaskan. Begitu pula, kata sahibul hikayat, tentang lahirnya novel Gone With The Wind. Omong-omong, bukankah Andrea Hirata tak berniat menerbitkan bukunya (tetralogi Laskar Pelangi), melainkan kawannya sendiri yang mengirim naskah dahsyat itu ke “pabrik” buku? Dari panorama yang sewarna, J.K. Rowling pun bisa digolongkan dalam kasus yang mirip. Saya hanya membayangkan, seandainya penjaga Cafe itu seorang yang garang dan mengusir Rowling karena kebiasaan duduk berlama lama hanya dengan pesanan murah: setengah cangkir kopi. Kala itu, ia belum kaya raya, masih miskin dan hanya mampu pesan kopi setengah gelas. Paling jelas, ada kemungkinan spekulatif di sini, bahwa ide Harry Potter berkembang biak dalam lamunan Rowling di (salah satunya) Cafe itu. Meskipun ide kuat Harry Potter terumuskan dalam perjalanan di sebuah gerbong kereta api.

Barangkali lebih tepat membuat posisi cocok, di mana dan sejauh mana peran orang-orang di sekitar penulis-penulis hebat. Agar kita ingat dengan persis, bahwa talenta dan kegeniusan tak berarti apa-apa bila “tak ada atmosfir dan pertolongan yang tepat”.

Ini dikuatkan oleh dalil sebuah buku baru, yang diterbitkan Gramedia tahun ini, berjudul The Outlier, karangan Malcolm Gladwell.Dengan berani Gladwell membuat klaim: bahwa para jenius sekalipun membutuhkan kesempatan untuk besar dan bantuan yang disebut sebagai “kecerdasan praktis”. Frasa kecerdasan praktis mengacu pada kemampuan membaca situasi dan mendapatkan apa yang diinginkan. Dan hal ini hadir dari orang-orang di lingkungan tempat si jenius tinggal.

Mari berkhayal, dengan sedikit contoh soal pilihan ganda. Pertanyaannya adalah: Bila Kaka Kaladze (bintang Real Madrid yang tampan) atau Maria Sharavova (petenis cantik) lahir dan besar di Jakarta, akan jadi apakah ia? Jawaban yang tersedia:
a. Menjadi atlet dan olahragawan besar
b. Menjadi bintang sinetron dan bintang iklan
c. Menjadi foto model
d. Menjadi pembawa acara acara konyol di televisi…

Tolong jawab dengan jujur. Bukankah gampang saja kita memilih butir b, c, dan d untuk jawabannya?

Kalau poin a yang anda abaikan, berarti kita sepakat. Bakat besar, talenta luar biasa dan sesuatu yang bernama kejeniusan, hanya salah satu faktor di luar faktor-faktor lain.

Rumusan pendeknya adalah gampang. Lingkungan yang cocok, orang-orang yang memberi semangat, kehadiran materi yang dibutuhkan, menjadi unsur penting dan penentu dari lahirnya karya-karya agung. Karl Marx bahkan mengatakan pikiran seseorang ditentukan oleh benda-benda material di sekitarnya. Jangan harap, mungkin bisa dibilang begitu, lahir Michael Jackson di lingkungan yang kecanduan musik keroncong atau dangdut.

Olehnya, saya wanti-wanti. Mungkin kebanyakan kita tidak jenius, biasa-biasa saja. Tetapi bukan berarti kesempatan kita hilang sama sekali. Posisi sebagai penolong, pembantu, pemberi kontribusi pada lahirnya buku (atau karya apapun) bukanlah sesuatu yang hina. Bahkan bisa jadi (ter)amat penting. Siapa tahu, kita menjadi penolong untuk teman, keluarga, kenalan, anak, isteri, atau atasan kita, dalam merumuskan sebuah buku yang bagus. Semoga….

Iklan

Jangan Sampai Indonesia Selalu Membakar Buku

Dulu pernah ada iklan susu formula di televisi yang menggambarkan “anak cerdas dan kreatif”, dengan cara menginjak buku —sebagai balok penatah, karena si bocah itu ingin meraih mobil-mobilan di rak yang tinggi. Inilah salah satu cara orang Indonesia mengajari anak-anak tentang buku. Betapa barbar dan bodoh (seolah tumpukan buku sama belaka denganseonggok balok-balok atau batu bata).

Namun ajaib, iklan itu selamat dari hujatan. Tak ada perang protes, sepi respon, dan kalau tak salah hanya secarik surat pembaca yang menggugat muatan iklan ini. Info pariwara di media pandang dengar itupun Gone With the Wind, lalu bersama angin….

Mari kita masuk ke isu pembakaran buku yang kini kembali mencuat —dan agaknya tidak akan menjadi kasus terakhir, sejauh batok kepala rakyat di negeri ini masih menganggap buku sebagai benda remeh temeh. Sebelumnya, sedikit menguar keganjilan dan tradisi berpikir orang-orang kreatif di industri periklanan, yang tega-tega membuat skenario “menginjak buku”, seperti yang dipetik di atas barusan.

Asumsinya gampang: pekerja kreatif di industri periklanan pastilah tergolong manusia berpendidikan, jebolan kampus bermutu, dan bergulat dengan ide-ide cerdas. Lalu salah satu produknya adalah menistakan nilai seonggok buku —untuk dilihat anak-anak balita. Jika di kalangan ini saja sebegitu rendah pandangannya, maka bagaimana dengan publik di bidang profesi lain?

Rezim SBY pun Membakar Buku
Jangan sampai tradisi bakar-bakaran buku ini berlanjut. Meskipun hingga hari ini udara negeri ini begitu pekat dengan bubungan asap dari lembaran pustaka yang gosong. Sesuatu yang membuktikan betapa munafiknya bangsa ini, menurut saya, adalah dengan berkaca cari peristiwa-peristiwa berikut:

Di saat rezim SBY gencar mengkampanyekan budaya baca, termasuk Ibu Ani yang rajin membuat motor pintar, perahu pintar, dan mobil pintar yang membawa ratusan buku ke berbagai penjuru negeri, justru di saat yang bersama Kejaksaan dan aparat pemerintah membakar ratusan buku —dengan alasan sepele, ada sebuah buku ajar yang tidak mencantumkan kata PKI di depan istilah Gerakan 30 September!

Ini cermin hipokrisme (kemunafikan) telanjang…

Mengangkangi terang-terangan program yang dihela oleh SBY dan aparatnya, termasuk, misalnya bantuan BOS buku ke sekolah-sekolah. Atau proyek digitalisasi buku gratis untuk para pelajar. Mengapa? Perlakuan tak adil, di situlah masalahnya. Rezim SBY bertindak sebagai hakim tunggal, mempromosikan satu produk buku dan memberangus produk yang lain. Saat bersamaan juga mengkerdilkan daya kritis dan pemahaman publik pembaca —siapapun mereka, mulai anak sekolah hingga penyandang gelar doktoral. Agaknya semua kita masih belum percaya, bahwa para pembaca punya mekanisme sendiri untuk menilai mana buku palsu, mana buku bermutu. Untuk itu, tak perlu ada ritus pembakaran buku.

Guru Besar Bakar Buku?
Lalu berita heboh berikut ini memperpanjang fakta tentang ruwetnya opini publik terhadap nilai sebuah buku. Diberitakan, Guru Besar Sejarah ikut-ikutan dalam aksi membakar buku berjudul Revolusi Agustus, karangan Soemarsono. Dengan gampang nanti, peristiwa ini dijadikan teladan terbalik (dan teladan terbaik bagi pihak yang berlaku barbar terhadap buku). Sang Guru Besar, kelak menjadi causa celebrare, peristiwa yang selalu di kenang, diulang-ulang, untuk tragedi yang serupa. Jangan lupa, ia memperkokoh perilaku barbar, untuk manusia-manusia yang tak cinta buku.

Adakah beliau telah kehilangan akal, atas sebuah karya yang berlatar ketokohan seorang yang terlibat di PKI? Lupakah ia pada perjuangan Amelia Yani dan Keluarga Aidit yang mencoba untuk melakukan rekonsiliasi? Bagaimana bangsa ini bisa bijak, bila dendam dan kesumat masa lalu terus dihembus-hembuskan? Termasuk dengan membakar buku yang berbeda versi —-dari mereka yang pernah terlibat di peristiwa 65 lalu.

PKI seperti hantu, bahkan dalam industri perbukuan kita.

Seolah-olah tak ada sama sekali hikmah sejarah, bahwa negeri ini bisa lolos dari cengkraman kolonialisme, bukan semata-mata oleh bedil, tombak, atau bambu runcing para pejuang. Tetapi juga lahir dari sumbangsih gagasan, tentang nasionalisme, tentang sosialisme, dan bahkan tentang komunisme. Bahkan, jika tak keliru, pemberontakan melawan belanda juga pernah dilakukan oleh kaum kiri ini. Saat itu, bukankah mereka hero untuk kita?

Barangkali juga aksioma bahwa buku harus dilawan dengan buku telah terlalu melelahkan….

Hingga itu, mereka-mereka yang berikhtiar pendek, kurang tekun, selalu mengambil jalan pintas: bakar!

Boleh belaka, bahwa seruan buku di lawan buku bisa kita tolak. Karena tak gampang dilakukan, butuh energi, materi, serta pemikiran serius. Untuk apa pula buku-buku sampah harus ditanggapi dengan kelas yang sama. Bukankah lebih baik dibiarkan saja? Serahkan pada pembaca. Saya kira, ini adalah salah satu pilihan masuk akal. Termasuk untuk generasi di bawah kita nanti, anak-anak kita (jangan sampai membakar buku lagi).

Buku Pendek Ala Krisdayanti

Salah satu perilaku celaka elit politik adalah menulis buku dengan materi yang sudah bisa ditebak arahnya: bela diri, raih simpati. Belakangan trend sejenis ini juga menyergap tokoh publik yang lain, misalnya selebritis. Dengan agak enggan, saya terpaksa memasukan nama Diva, Krisdayanti dalam golongan ini.

Wajar saja disebut celaka, lantaran hal itu juga menghadirkan sejumlah kecelakaan bawaan. Misalnya mencetak buku dengan hard cover dan print digital, sebuah pemborosan yang mestinya dialihkan saja ke buku-buku ajar anak-anak sekolah. Mencantumkan testimoni atawa pengakuan dari sejumlah nama di halaman belakang, dengan isi yang kadang keterlaluan. Lalu beberapa waktu setelah diluncurkan, si buku itu juga kesulitan memperoleh tempat layak, biasanya di rak perpustakaan umum yang jarang tersentuh. Terkadang teronggok begitu saja di tempat-tempat yang kurang terurus. Lantaran tak layak untuk menempati gerai khusus di toko buku dengan label best seller. Saya sendiri kerap mengikuti peluncuran buku model begini (dalam seminar atau diskusi), meski bukunya dibagi gratis, tapi orang sering malas membawanya pulang….

Pendek Usia
Dari berbagai kasus, bolehlah dilahirkan sebuah premis: bahwa buku-buku tersebut, meski menyimpan potensi kebenaran, tetapi usianya tak lama. Pupus dan tak terbukti hanya dalam hitungan bulan atau tahun. Terbantahkan isinya secara otomatis, tak lama setelah tokoh yang dibukukan itu naik jabatan. Ini khusus untuk buku-buku politisi yang diterbitkan di masa kampanye.

Saat ditulis, berhamburan pernyataan dan idealisasi atas sebuah cita-cita. Tentang visi misi anti korupsi, cita memberantas kemiskinan, dan perjuangan menegakkan keadilan publik. Namun begitu si penulis duduk di parlemen, berbalik punggung dengan harapan. Ia bahkan menjadi sosok yang begitu rakus.

Model lain, adalah buku putih atas tokoh-tokoh kunci dalam sejarah. Pengakuan mereka menggetarkan, seakan hero yang menyelamatkan nasib negeri. Seraya tak lupa menista nama lain yang menjadi saingan. Akan tetapi, begitu kontroversi meledak, lahirlah pengakuan-pengakuan yang sebaliknya, justru membuktikan ketidakbenaran buku putih yang ditulis sebelumnya. Misalnya, adalah pertarungan dalam dunia pustaka, antara Prabowo, Wiranto, Habibie, dan Sintong Pandjaitan.

Sesungguhnya banyak contoh. Tapi cukup satu tambahan lagi.

Sebelumnya kita membincang buku-buku biografi, otobiografi atau personal profile. Namun ingat, dalam mitologi Yunani, ada istilah yang disebut dengan hegiografi, alias buku-buku yang ditulis tentang orang-orang suci. Nah, bedanya dengan kita sekarang, manusia yang dijadikan objek buku tak benar-benar suci. Melainkan pengakuannya saja yang seolah-olah bersih tanpa cacat.

Satu tambahan itu adalah tentang betapa sejarah mengulang-ngulang kebiasaan lama, historia panta rei (sejarah selalu terulang, kata pepatah Perancis). Begitu suatu rezim menang, ia akan menerbitkan puluhan buku yang membenarkan tindak tanduknya, dengan mencantumkan begitu panjang kesalahan-kesalahan musuh. Tipe seperti inipun sama saja, berusia pendek. Terbantahkan setelah rezim itu runtuh oleh kekuatan yang lain.

Buku Krisdayanti
Terus terang saya bukan golongan kaum nihilis yang mengosongkan makna atas tindakan seseorang. Benar, bahwa selalu ada nilai positif atas sesuatu, termasuk penerbitan buku Krisdayanti, My Life, My Secret, dengan sampul mewah nan kinclong. Setidaknya pelantun Menghitung Hari ini memulai kebiasaan bagus, menulis buku untuk kalangan yang sesungguhnya jauh dari produk seperti ini. Setahu saya, ada beberapa pesohor industri hiburan yang telah melakukan hal yang sama. Ada Nurul Arifin, Pelawak Dono, Dhee, dan lain-lain. Karena perilaku mereka selalu ditiru, siapa tahu mengedukasi fans mereka di mana-mana. Tapi agaknya ini pun belum terjadi.

Dalam karyanya, Krisdayanti menulis tentang puja puji terhadap peran sang suami, Anag. Dalam resensi yang saya baca, ada bab khusus tentang hal itu. Bahwa suaminya itu adalah salah satu tiang yang meyangga kesuksesan karirnya.

Tapi rupanya My Life, My Secret inipun pendek umur. Hari ini terjadi kegemparan di jagat infotainment, tentang kisruh rumah tangga pasangan ini. Menurut pengakuan manajer Anang, konflik mereka sudah lama, artinya terjadi sejak buku itu belum ditulis. Nah, bukankah ada kontradiksi di sini?

Pelajaran yang bisa dipetik sederhana saja: tak mudah menulis buku! Lebih-lebih bila tujuannya jauh dari menebar gagasan dan melakukan pencerahan. Tetapi di sisi lain, teramat mudah menemukan kebohongan dalam buku. Dari sini, tanpa ragu saya menyebut: buku tak selalu menjadi guru yang baik….

Indonesiaku Butuh Buku…

Anda mungkin sering mendengar, eksekutif perusahaan raksasa di Eropa atau Amerika yang melakukan “bunuh diri status”. Menanggalkan rutinintas kerja bergelimang dollar, pergi ke belahan dunia nun jauh, ke Etopia, Somalia, atau puncak Himalaya sana. Tak jelas benar apa yang dicari. Namun luar biasa adalah hasil dari yang mereka kerjakan.

Lihatlah Jhon Wood, pejabat pemuncak di kerajaan (atau imperium) Bisnis Microsoft. Bagi kebanyakan kita pilihannya lebih patut disebut kurang waras. Dalam buku hariannya, Leaving Microsoft to Change the World, memilih dengan tegas: ke luar dari pekerjaan yang telah memberi segalanya, untuk kemudian bergumul dengan kaum papa di pegunungan Nepal. Ia, dengan falsafah Tujuan berani akan mengundang orang-orang yang berani, kemudian berhasil membangun ratusan perpustakaan lengkap dengan ratusan ribu buku —ya, yang Jhon Wood lakukan adalah mendirikan perpustakaan dengan makna yang sebenar-benarnya (bukan papan nama bagus tapi kosong).

Tetapi senyatanya negeri inipun tak berarti sepi dari manusia-manusia berobor dedikasi. Tatkala Tsunami menghumbalang dan menghempaskan setiap pojok bumi Nangroe Aceh Darussalam, para musisi kawak unjuk muka. Melalu konser amal, Iwan Fals dan Grup Band Slank berhasil mengumpulkan Rp. 3,3 milyar, sebuah jumlah yang mampu membangun kembali perpustakaan Aceh yang tumpas. Lengkap dengan bangunan baru dan tiga ratus ribuan eksemplar buku.

Begitu juga gaya hidup Jakarta. Bukan pemandangan ganjil menemukan kotak sumbangan buku, di pintu masuk restoran, lantai Mall, atau bahkan kantor Partai Politik (dan ini sedikit melenyapkan rasa sumpek kita melihat pemandangan kotak amal lain untuk tujuan yang itu-itu juga).

Penyemangat
Sayangnya belum lahir rallying point, tapping point atau penularan efek, untuk kasus-kasus heroisme di dunia perbukuan kita.

Aneka bahasa penyemangat, tema kampanye, “hikmah pejabat” dalam prosesi upacara bendera di kantor pemerintahan, belum benar-benar menolong untuk posisi akut perbukuan kita. Bila statistik berikut ini berbohong, itupun tak berarti kabar bagus. Data Bank Dunia menyebutkan rasio jumlah buku dengan populasi kita adalah jomplang. Begitupun dengan kabar gembira tentang tingginya tingkat melek hurup (mengecilkan jumlah buta hurup), tak beriring dengan jumlah produksi plus konsumsi buku. Aneh, bila alasan daya beli yang dijadikan ganjalan. Coba bandingkan, di pelosok kampung sekalipun begitu mudah mencari gerai Hape guna membeli pulsa, tapi tak begitu untuk mencari loper koran… dan jangan bilang mencari perpustakaan.

Dan untuk “jamaah Ahlul Hisapiyah” maaf saja: berita penjualan PT Bentoel Internasional cukup mengejutkan. Mereka mengaku tahun 2008 lalu berhasil menjual 3.000.000.000 batang rokok di dalam negeri. Belum lagi perusahaan lain, PT. Sampoerna, Gudang-Garam, dan silahkan tambah sendiri. Berapa puluh milyar batang? Andai uang yang dibakar itu teralihkan untuk buku….

Harus mulai dari mana? Sedangkan mayoritas penduduk negeri ini yakin bahwa wahyu pertama Al Quran berbunyi IQRA, bacalah. Bahwa penaklukan Tarikh Bin Jiyad di Bumi Andalus (Spanyol) berlanjut dengan pembangunan perpustakaan akbar, di Grenada, Sevila dan Cordoba. Bahwa yang disebut ulama salaf adalah mereka yang mampu menulis, menyalin, menerjemahkan ribuan suhuf, lembar-lembar papyrus yang ditulis tangan seraya menghasilkan karya setebal bantal semen.

Bila itu terlalu jauh, ada teladan yang melekat dalam riwayat republik. Betapa Muhammad Hatta harus rela lubang hidungnya menghitam, lantaran membaca dengan ditemani lampu minyak tempel. Atau Bung Karno, yang untuk mengumpulkan bahan debat tentang keruntuhan Dinasti Usmaniyah di Turki, perlu memesan ratusan buku, langsung dari negeri Kemal Attaturk sana? Tetapi hari ini, malah tak terdengar politisi yang prihatin tentang isu buku. Tak ada demonstrasi aktivis mahasiswa yang protes karena kampusnya tak punya perpustakaan bagus.

Tak Perlu?
Keprihatinan layak lahir karena atmosfir Indonesia terasa kering gagasan. Lebih-lebih dengan kemajuan sains, teknologi informasi, dan gurita bisnis. Posisi kita hanya menjadi pengimbang rezim pasar, dalam margin konsumen-user. Rantai kemajuan pasar, yang terdiri dari produsen, distribusi, dan konsumen, bergerak beriringan. Tetapi locus kita tak pindah, di rantai terakhir saja. Seolah kemajuan millennium kedua ini (di benak kepala kita) lepas sama sekali dari faktor buku. Padahal senyatanya tidak. Tengolkalh Singapura, China, India, yang berhasil membangun basis kedigdayaan sains karena berhasil mengembangkan pendidikan bermutu, berbasis buku.

Kalau pengamat di negeri ini begitu pasih mengurai tentang berbagai keboborokan negeri, maka mereka hanya ngoceh di televisi. Lupa menulis buku —kalaupun ada, kelasnya adalah a half book, kumpulan tulisan yang disabet dari sana sini. Bukan buku utuh.

Berikut secuplik bukti. Tentang keunikan Indonesia, perkara kerusuhan, gonjang-ganjing politik, budaya, ekonomi dan sosial, telah melahirkan ratusan buku, puluhan grand theory, dan adagium besar di blantika ilmu pengetahuan dunia. Margaret Mead terkenal karena teori post figurative, yang berdasarkan pada fakta budaya Hindu-Bali. Begitu juga Cliford Geertz, yang bukunya menjadi magnum opus (literatur agung) karena meneliti keunikan Santri-Priyayi-Abangan di Mojokuto, Jawa. Termasuk Julien Benda yang mengamati ketertinggalan Negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Nah, adakah lahir teori-teori besar dan buku laku, hasil riset tentang fenomena terorisme di Jakarta?

Saya menjadi curiga bahwa ratusan kampus, ribuan doktor, dan serombongan pengamat, juga masih berposisi sebagai konsumen buku. Belum sanggup menulis Indonesia dengan selengkap-lengkapnya. Kemampuan kita, jujur saja, masih dalam kategori buku-buku popular segolongan chick lit, buku kompilasi, dan psikologi how to…. Begitulah.

Tafsir Al Misbah Yang Melegakan

Tak mungkin kegelapan total terjadi dalam diri kita, sekiranya akal dan kalbu mau meraba-raba wilayah yang menyediakan cahaya. Boleh jadi hari ini saya dan anda berada dalam kejengkelan luar biasa. Marah, geram… atas sesuatu yang menerpa diri sendiri —atau terhadap pihak lain. Saya yakin, jutaan kepala di tanah air marah luar biasa atas perilaku dzholim, meledakkan bom di Hotel JW Marriot, Jakarta, beberapa hari lalu. Dalam bahasa logoteraphy, kepedihan itu tersimbolisasikan dalam kegelapan. Tetapi bukan berarti harus total, bukan?

Kecuali memang hati sudah mati. Tak ada nur (cahaya) yang bisa menyinari. Gulita atau tersaput pekat oleh hawa nafsu, amarah, gerutu…. Mudah-mudahan, telikungan beban hidup tidak menggiring pada sikap atau penyikapan seperti itu.

Saya berbicara terhadap diri sendiri. Di balik gundah didera kecemasan atas ketidakpastian nasib —-setelah berhenti bekerja, menyembul percikan-percikan cahaya. Sungguh membantu untuk menyelamatkan keruwetan pikiran dan qalbu yang galau. Alhamdulillah, ada saja seulur tali penyelamat, agar saya tidak terkubang dalam liang lahat kematian hati dan semangat! Kondisi boleh payah, tapi tak boleh kalah. Lagipula, sejatinya ini adalah ujian semata dari Allah.

Mainan Anak
Dulu, atau tepatnya beberapa waktu lalu, aku acuh tak acuh terhadap mainan anak-anakku. Cukup membawa mereka ke toko mainan, Mal, atau di mana saja, yang mereka mau. Setelah membeli, selesai. Tak pusing. Mau rusak atau apa. Kini berbalik. Rasanya asyik masuk ke gudang. Berbagai peralatan rupanya lengkap —koleksi mertua, mantan montir. Juga sangat banyak barang-barang bekas, besi tua, baut, kaleng, pipa plastik, lem, kertas. Pokoknya macam-macam. Tak nyana asyik juga. Selama nganggur, hampir tiap hari aku menemani anak-anak bermain. Menciptakan mainan kreatif buat mereka. Kebetulan, sewaktu kecil, aku memang kreatif menciptakan berbagai mainan sederhana, untuk kupakai sendiri.


Membaca Buku
Ini juga hobi lama, tapi terus berlanjut. Hanya sempat terhenti, ketika aku pernah merasakan kebencian luar biasa terhadap buku, yang berlangsung sekitar lima tahunan. Ini juga tak susah-susah amat, lantaran semuanya tersedia. Aku masih menyisakan banyak koleksi buku. Begitupun punya Bang Yayat. Terus, ke perpustakaan daerah juga tak terlalu jauh. Ringan melenggang hobi ini kubangkitkan lagi.

Tafsir Al Misbah

Kemudian, aku bersua dengan yang sangat kuidam-idamkan. Membaca buku-buku Tafsir Al Quran, yang serius, tajam, otoritatif, dari ulama yang mumpuni. Dari sekian banyak bacaan yang aku konsumsi, kebanyakan memang didominasi buku-buku keIslaman. Terutama yang berkaitan dengan Al Quran. Sengaja dilakukan, agar membangkitkan motivasi aku untuk memperkuat ibadah —serta membersihkan jiwa dari keguncangan yang mendera tak henti-henti.

Tafsir Al Misbah sungguh banyak di petik dari berbagai literatur. Lantaran penulisnya memang tak diragukan dedikasi dan kredibilitasnya dalam mengupas tema-tema Al Quran. Jika jalan-jalan ke toko buku, koleksi tafsir ini juga kerap kulirik. Tapi tak mungkin kumiliki, karena kalau dijual per-set, harganya jutaan.

Tapi ini memang di luar dugaan. Adalah rumah kawan yang sering aku kunjungi —-terutama untuk membaca koleksi bukunya, baca di tempat, tidak dibawa pulang ke rumah. Hampir semua koleksinya sudah aku baca. Rasanya bosan juga. Tapi, entah kenapa, ada koleksi dia yang rupanya di simpan di tempat khusus, tak pernah aku jangkau. Saat iseng mencari buku, ketemulah buku itu. Jadi, senang tak kepalang. Kini, untuk surat-surat tertentu yang aku sukai, sudah kubaca tafsirnya. Terima kasih kawan. Terima kasih, ya Allah.

Diposkan oleh Buku dan Renunganku…

Resensi Buku Ibnu Qayim Al Zaujiyah

Buku dari Ibnu Qayim Al Jauziyah, tentang fadhillah berdzikir, merampas perhatianku. Di sebuah tempat di Leces, Probolinggo, saat musim kampanye, risalah itu kutemukan di tempat bacaan umum —milik seorang kawan. Isinya lumayan bagus, dan banyak hal-hal baru kutemukan. Sekitar seratusan dalil tertuang, mengenai seluk-beluk (dan manfaat) berdzikir.

Dari sekian banyak itu, satu yang selalu kuingat-ingat hingga saat ini. Bukan apa-apa, keterangan yang diberikan tergolong luar biasa. Belum pernah aku dengar, baca, atau temukan di tempat lain. Sayangnya, aku lupa, apakah tulisan Ibnu Qayim itu bersumber dari hadis, atsar, atau kisah sufistik.

Pesan yang disampaikan sesungguhnya bertema umum: keteguhan dan kesabaran —tanpa pamrih. Teladan yang dijadikan anutan adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Orang pasti sepakat: beliau tak ada banding dalam perkara kesabaran. Jutaan ummat patut berpaling, seraya memetik hikmah atas pelajaran yang telah disampaikan nabi. Terutama di saat-saat penuh goncangan dan tantangan seperti sekarang ini.

Saya tak berpanjang debat tentang suri tauladan Nabi, itu adalah urusan yang sudah diterima sepenuhnya (taken for granted). Melainkan membincang berbagai predikat yang tersemat kepada beliau, yang disampaikan oleh para ulama —dari dulu hingga kini.

Ada satu kekhawatiran menyembul: jangan-jangan ada sejumlah cerita yang dikemas bombas, hiperbolik, dan akhirnya kehilangan nilai kebenaran. Barangkali tak ada niatan apapun dari si pengarang, ketika menulis riwayat yang “berlebihan” tentang Nabi. Maklumlah, kecintaan luar biasa terhadap Sang Nabi adalah sebentuk kemuliaan juga. Jutaan Ummat mungkin berada dalam posisi ini.

Namun, sekali lagi, harus ada unsur kebenaran di dalamnya. Kalaupun terjadi penambahan kisah dan pengangungan yang sifatnya pujian, maka harus memberikan keterangan penjelas, bahwa ini adalah kreativitas dari si penulis, atau si periwayat. Agar kita bisa mahfum, dan mampu membedakan mana yang bernuansa argumentasi, dan mana yang mengarah pada puisi.

Pencampuradukan hanya akan membuat pikiran limbung. Sekaligus juga menambah beban ummat. Lantaran tak sedikit upaya rekayasa atas hadis, atsar, fatwa, ijma, dan berbagai dalil dalam ajaran Islam.

Pengemis Yahudi

Pokok soal yang ingin saya angkat: tentang pengemis Yahudi yang buruk rupa sekaligus bejat akhlak. Si pengemis, dalam tausiyah yang dipetik oleh Ibnu Qoyim, setiap hari tanpa lelah memaki-maki nabi. Omongannya teramat kasar, menyakitkan, pedas dan panas. Tak sedikit sahabat marah, ingin menghabisi riwayat si pengemis. Lebih-lebih, obyek hinaan utama si pengemis adalah seorang mulia yang teramat dihormati.

Bagaimana reaksi Nabi?

Di sinilah, rasionalitas dan emosionalitas kita terlihat kerdil. Kebanyakan kita, tatkala menghadapi cercaan dan hinaan —terlebih oleh orang yang derajatnya di bawah kita—- pasti murka luar biasa. Bukan hanya membalas, tapi pasti membuat reaksi yang sekuat-kuatnya. Bara dendam kesumat, kemarahan, dan kebengisan, adalah sesuatu yang biasa terjadi sebagai respon atas hinaan terhadap diri kita —-yang dilakukan tiap hari.

Nabi, justru sebaliknya. Ia tanpa pamrih dan rutin malah menyambangi si pengemis Yahudi, setiap hari. Sembari mendatangi, beliau tak pernah lupa memberi makanan, langsung diantar sendiri, —dan ini luar biasanya—- menyuapi si Yahudi sialan itu.

Saya tergetar dengan cerita ini. Lantaran ada keterangan lanjutan. Bahwa, dalam rutinitasnya menyuapi pengemis buruk tabiat itu, nabi tak pernah mengatakan bahwa ia adalah orang yang selalu dimaki-dihujat-dihinakan.

Tak pernah ada upaya baginda untuk membujuk, mencoba meredakan kebiasaan memaki nabi dari mulut kurang ajar sang pengemis. Sebagai manusia agung, mudah saja ia melakukan itu. Tetapi tidak….

Tiap hari, hingga beliau wafat, tak sepotong kalimatpun terlontar dari mulut Nabi Muhammad —-yang menjelaskan siapa dirinya, atau menegur agar si pengemis menghentikan aksinya.

Ini adalah sebentuk kesabaran yang tiada tertandingi. Manusia mulia, penuh kekuatan, dihormati, dicintai, membiarkan manusia buruk derajat memaki-makinya setiap hari. Bukan semata membiarkan, malah memberi makan sambil menyuapi, juga saban waktu! Tak ada upaya memaksa, membalas, membujuk, atas perbuatan tercela dari manusia celaka! Pantas saja, bila ukurannya adalah logika dan emosionalitas kita, semua itu tergolong mustahil!

Cerita Israiliyat

Saking dramatisnya cerita ini, saya seringkali terguncang. Jujur, iman seperti limbung, penasaran oleh kebenaran kisah itu. Entah kenapa, dulu, ketika membaca, saya tak memperhatikan detil dari isi buku itu. Apakah kisah pengemis itu hanya petikan kisah sufistik —-yang memang terkadang imajiner— cerita dari tanah arab belaka, atsar, atau tausiyah dari siapa. Tak jelas pula, saat itu, apakah bersumber dari Hadis. Jikapun dari hadis, golongannya di mana: sahih, mutawatir, hasan, dhoif, atau maudhlu….

Sekarang malah penasaran. Ditambahi oleh kondisi pribadi saya yang memang kurang normal. Digempur hinaan. Dirundung kesedihan. Terbelit masalah ekonomi. Pekerjaan yang serba tak pasti. Penghasilan (atau rezeki) yang seperti dipermainkan orang. Plus, miskin penghargaan dari orang yang telah dibantu. Pokoknya prihatin.

Tetapi dibanding kisah di atas, seperti sepilin kapas di atas langit berawan. Tak ada apa-apanya.

Saya rindu dan bertekad akan bertanya kanan kiri. Meriset dari buku dan literatur, searching di internet, tentang versi sebenarnya dari kisah Nabi dan Pengemis Yahudi. Saya rindu, mudah-mudahan itu tergolong hadis, kalau perlu hadis sahih. Bukan untuk mengurangi kecintaan dan takzim terhadap Rosul. Tetapi untuk menambah mempertebal keyakinan saya. Seraya menjadi pengingat, bahwa dikala dirundung susah, riwayat itu menjadi cermin penginat. Jangan sampai, kisah itu justru kontroversial dan berbau cerita Israiliyat —-dibuat untuk membingungkan ummat.
Bersabar

Muaranya adalah bersabar. Meneguhkan sikap ikhlas, ridho, menerima ketentuan Allah adalah sumber penopang dan ketegaran kita. Bila tidak, diri ini akan gampang limbung. Kerasnya hidup dan kesulitan yang mendera, butuh cantelan pengaman, agar kita tak jatuh dalam sikap-sikap keliru.

Saya juga berjanji. Sebisa dan sedapat mungkin memperbaiki kualitas kesabaran. Mendorong ke arah yang lebih baik, agar segala sesuatu yang menjadi ketentuan Illahi, bisa diterima secara ikhlas dan ridhlo. Kalau sesekali muncul gerutu, kecewa dan sedih, biarkanlah lahir sebagai respon manusiawi —-sebagai bukti rendahnya derajat diri. Tetapi tak akan menjadi pilihan permanen, diendapkan menjadi bara kemarahan.