Buku Tentang Mutiara Keteladanan, Yudi Latif

Mutiara Keteladanan

Buku ini seolah kembali mengabari kita bahwa Indonesia adalah negeri yang diberkahi para pengikut setia Yesus, Muhammad, Sang Budha, bahkan kaum Brahmana suci sekaligus (juga ladang subur penyemaian filosifi bijak Konfusius). Begitu banyak orang yang sanggup menjadi batu karang. Bersetia melakoni prinsip nilai-nilai kemanusiaan yang universal (kebaikan, cinta kasih, saling tolong, dan solidaritas). Baca lebih lanjut

Buku Anak Anak Revolusi 2, Budiman Sudjatmiko

anak anak revolusi 2

Resensi Buku Anak-Anak Revlusi 2. Aku tak mau menghadapi era politik baru dengan jadi keledai di Indonesia. Kalimat bertenaga ini menjadi bantal penopang Budiman Sudjatmiko ketika menghadapi tantangan menarik, yakni melanjutkan kuliah di Cambride University, Inggris. Pendek kata, eks Ketua Umum Partai Rakyat Demokrat ini ingin menggenapkan jalan hidupnya sebagai politisi sekuat mungkin. Termasuk dengan melengkapi diri melalui pelbagai khasanah ilmu pengetahuan. Catatan: (petikan kalimat berhurup miring terdapat di halaman 144). Baca lebih lanjut

Buku Quraish Shihab: Tuhan di Mana-Mana

dia di mana mana

Nostalgia lama yang hadir nyata! Qurais Shihab seolah hadir guna meyakinkan ummat, bahwa kehebatan kaum Ulama Islam tak tanggung-tanggung.

Ulama pembela Islam, selalu berarti orang yang menguasai segala cabang ilmu. Mereka adalah para intelektual ensiklopedik (tahu segala macam bidang). Bahwa kebesaran nama-nama intelektual Islam klasik, dari Ibnu Khaldun, Al Farazi, Ibnu Sina, hingga Ibnu Rusyd, yang fasih dalam multi disiplin ilmu (dari Filsafat, seni, matematika, biologi, sampai astronomi) bukanlah sejarah palsu. Baca lebih lanjut

Buku Tentang Perjuangan Syeikh Yusuf

Syeikh Yusuf

Syeikh Yusuf Al Makassari Al Bantani. Lahir dan besar di Makassar. Merantau ke Banten. Berguru ke Aceh hingga Mekah. Berjuang kontra Belanda dalam hutan-hutan lebat di tatar Banten (bersama Sultan Ageng Tirtayasa, Pangerang Purbaya). Ditipu siasat culas Kumpeni di pedalaman Pandeglang. Dibuang ke Cylon (Srilangka). Kemudian wafat di Cape Town (Tanjung Harapan) Afrika Selatan. Baca lebih lanjut

Buku Tentang Sejarah Tuhan

Buku Tentang Sejarah Tuhan

Resensi Buku. Mitra tanding untuk debat intelektual tentang Tuhan, menurut buku ini, adalah kaum atheis.

Terutama mereka para intelektual dan pemikir ingkar Tuhan di abad-abad belakangan ini. Menariknya, menurut Karen Armstrong, penulis buku ini, yang berjudul Masa Depan Tuhan, kaum atheis tak sungguh-sungguh menentang eksistensi Tuhan. Slogan Tuhan Sudah Mati (dari Filsuf Sartre) atau perayaan kembali pemikiran agnostik (penentang gagasan-gagasan Tuhan yang bersumber dari teks kitab suci), melulu sebagai respon psikologis. Baca lebih lanjut

Buku Tentang “Rahasia” Bank Indonesia

Terlalu banyak isu dengan sedikit jawaban —inilah fenomena sosial politik kita sehari-hari. Wacana keseharian terisi dengan saling tuding dan lempar masalah. Segala perkara yang muncul ke permukaan lalu kemudian dibahas dengan gaya rumpi. Lalu sepertinya semua pihak kian cerewet, mudah berpolemik, dan termakan dengan desas-desus. Baca lebih lanjut

Buku Tentang Chairul Tandjung

Chairul Tandjung

Resensi Buku: Nama besar sudah pasti beriring sejalan dengan gosip besar. Pun dengan Chairul Tanjung. Kini, nyaris tiap momen politik yang mengguncang, nama CT selalu disebut. Anda tentu tak asing dengan isu panas atas kemenangan SBY di dua kali Pemilu Presiden (2004 dan 2009). Kata sahibul kisah, Bos CT Corp menjadi penyokong utama (pemenangan) SBY. Tentu, bumbu cerita berlanjut, bahwa atas jasanya itu, CT memperoleh aneka fasilitas first class, untuk memenangkan tender, mengakuisisi, memborong saham, dan segala proyek gajah di negeri ini. Baca lebih lanjut

Buku Tentang Khalifah Harun Ar Rasyid

Harun Ar Rasyid

Baghdad dalam Bahasa Persia artinya didirikan oleh Tuhan. Jauh sebelum kota ini mengalami puncak kejayaan di masa Harun Al Rasyid, telah menjadi tempat kuno yang melegenda (yaitu Babilonia di masa Nebukadnezar).

Oleh Khalifah Al Mansyur —kakek Harun Al Rasyid— kota ini dibangun dengan tangannya sendiri. Dan seperti lahir dari tongkat seorang penyihir, Baghdad kemudian menjadi mercusuar menggemintang dari Dinasti Abbasiyah. Bahkan pesona Baghdad tak jua pupus. Pun ketika berkali-kali dihempas prahara. Dahulu oleh Pasukan Mongol dan kini oleh balatentara Amerika Serikat dan para sekutunya. Baca lebih lanjut