Buku Tentang Isteri Terakhir Bung Karno

Posted: 20 Januari 2012 in Biografi
Tag:

Heldy Djafar seolah mengatur nasib sendiri dengan teramat cermat. Meski lahir di luar istana, tetapi mampu merangsek ke inti jantung kekuasaan di Indonesia, dari masa ke masa. Perjalanan hidupnya seolah terbentang lempang: dari istana ke istana.

Bayangkan, di masa muda, ketika kawan-kawan sebayanya sibuk sekolah dan mondar-mandir jalan kaki, ia sudah menjadi pusat perhatian, karena digandeng oleh Pemimpin Besar Revolusi, yaitu Soekarno. Ke mana-mana naik mobil Holden Premier (dan segera diganti dengan Mercedes Benz, yang di waktu itu terbilang ck, ck, ck). Pekerjaannya hanya jalan-jalan. Belanja. Atau berdandan secantik mungkin. Untuk semua kesenangan itu, ia pun masih mendapat layanan plus. Dengan hadirnya para pengawal dan sekretaris khusus. Sekali lagi, semua itu diperoleh di usia belia.

Lantas, ketika Indonesia bergolak, yaitu di Tahun 1965, ia justru plesiran ke Hongkong dan Jepang. Dengan ongkos yang lebih dari cukup, dijamu sebagai tamu penting. Diantar ke mana-mana oleh Dubes RI di Jepang. Duhai…

Lalu, begitu lepas dari pemanjaan diri dari Bung Karno, ia tak lantas limbung dan bernasib buntung. Melainkan beralih ke seorang Pangeran yang masih keturunan dari darah biru di Bumi Kalimantan. Janda muda dari Bung Karno ini pun lantas menikah dengan Gusti Suriansyah Noor, yang masih punya trah (berdarah) Sultan Kalimantan.

Selesai di situ? Belum. Bahkan perjalanan lanjutan dari Heldy terbilang “mengagumkan”.

Hanya sedikit orang yang pernah (sangat) dekat dengan Bung Karno lantas bisa masuk ke lingkungan keluarga inti Pak Harto. Semua tahu, betapa keji Jenderal Besar Seoharto memperlakukan Bung Karno, keluarga, dan sahabat-sahabatnya. Tapi Heldy seolah lolos dari lubang jarum. Memang bukan dirinya sendiri yang berhasil masuk ke Istana Keluarga Cendana. Melainkan via anaknya yang bernama Maya. Anak perempuannya itulah yang lantas membawa kembali Heldy ke sentra kekuasaan di negeri ini. Maya menikah dengan cucu pertama Soeharti, yaitu Ari Sigit (Putera Sigit Hardjojudanto). Nah…

Awal Mula

Tapak awal nasib baiknya bermula dari kesempatan menjadi Barisan Bhineka Tunggal Ika, di era orde lama. Kelompok ini, berisi para gadis muda yang berjejer di tangga Istana Negara —yang dihuni penguasa RI saat itu, yaitu Bung Karno. Menurut berbagai informasi, Barisan Tunggal Ika adalah perempuan muda pilihan, cantik, rupawan, dan sedap dipandang mata. Tugas mereka sederhana saja: berdiri manis untuk menunggu para tetamu. Atau sekedar “menjemput” kehadiran Soekarno di depan pintu. Jika diperbandingkan dengan suasana sekarang ini, mereka adalah para penjaga karpet merah…

Heldy Djafar, perempuan elok, kelahiran Kalimantan, dengan mata bulatnya sungguh-sungguh memesona Bung Karno. Bukan cerita aneh, sesungguhnya. Kita dan dunia tahu persis, Bung Karno salah satu pemimpin besar pemuja (selain revolusi, juga) para gadis cantik. Serentetan nama bisa kita sebut —yang mampu mengisi relung cinta Sang Putera Fajar ini. Setidaknya, sembilan perempuan tercatat sebagai isteri-isteri Bung Karno. Mereka adalah: (1) Oetari Tjokroaminoto; (2) Inggit Garnasih; (3) Fatmawati; (4) Hartini; (5) Ratna Sari Dewi; (6) Haryatie; (7) Kartini Manopo; (8) Yurike Sanger; dan terakhir, (9) Heldy Djafar.

Dengan demikian, Heldy Djafar menjadi catatan pamungkas untuk sulam asmara Sang Penyambung Lidah Rakyat ini. Meski terbilang singkat, hanya satu tahunan lebih, Heldy benar-benar menyimpan segudang memori indah —bersama Bung Karno.

Dari buku ini, berjudul Heldy, Cinta Terakhir Bung Karno, kita memang tak menemukan fakta-fakta baru yang meletupkan gairah. Kecuali fotongan-fotongan ingatan dari tokoh yang dibicarakan buku ini, yaitu diri Heldy sendiri.

Agak Janggal

Buku ini seolah dengan sengaja menaburkan rupa-rupa keistimewaan Heldy. Sayangnya, bagi pembaca yang kritis, catatan detil buku ini justru terasa membingungkan.

Di bagian awal, buku ini bercerita tentang seorang Heldy yang mengaku cantik lahir (ini mungkin benar) dan cantik batin. Elok rupa (barangkali ini juga benar) dan jiwa. Tetapi ada pengakuan-pengakuan yang membuat pembaca bertanya-tanya.

Menurut pengakuan Heldy, ia sedari kecil rajin membaca Al Quran —bahkan pernah menjuarai MTQ. Lalu didikan keagamaan yang kuat dari lingkungan keluarga dan lingkungan desa kelahirannya. Inilah, menurutnya, yang menjadi prinsip hidup serta dasar ahlaknya. Akan tetapi, di bagian lain buku ini justru membuat kita geleng-geleng kepala, ke mana prinsip hidupnya yang mulia itu?

Pertanyaan besar adalah: ketika Bung Karno didera masalah berat, pun dengan para isteri dan sanak keluarganya, mengapa ia tega pergi jalan-jalan ke luar negeri? Meskipun, dalam tuturan di buku ini, semua itu adalah perintah Bung Karno. Namun logika kesetiaan pasti akan menyodorkan pilihan lain. Yaitu mati-matian memberikan pembelaan, atau sekedar memperlihatkan solidaritas atas penderitaan Bung Karno, para isteri, dan anak-anaknya. Persisnya di waktu huru-hara pemberontakan PKI Tahun 1965.

Lantas, informasi lain menyebutkan, bahwa Heldy memilih “bercerai” dengan Bung Karno, di saat si Bung masih menginginkannya. Heldy memilih pisah, karena tak tahan dengan kondisi —-jarang dijenguk, dan sering konflik dengan Yurike Sanger (isteri Bung Karno yang lain, dan kawan sepergaulan dengan Heldy). Perpisahan itu juga dikarenakan faktor hadirnya orang lain, yang berani masuk ketika Bung Karno sudah tak berkuasa, lalu Heldy pun berani mengambil keputusan cerai (yang mungkin tak akan dilakukan, andai saja Bung Karno masih digdaya).

Catatan aneh lain adalah: bisa-bisanya seseorang yang mengaku pengamal Al Quran sejak kecil tetapi tega mengungkap aib Isteri Bung Karno yang lain, yang sebenarnya kawannya sendiri, yaitu Yurike Sanger. Juga percaya pada ramalan paranormal? Atau begitu dipengaruhi mimpi, hingga pernah berjudi untuk menentukan nasib? Belum lagi, bila kita mendata fakta dari buku ini, bahwa anak dari Heldy, yang bernama Maya, menjadi pecandu narkotika (dan ini salah satu faktor yang meremukan jalinan keluarga antara Maya dan Ari Sigit).

Sungguh, pengakuan Heldy (bila memang benar), potensial meletupkan kemarahan para pengagum Bung Karno dan juga yang mengasihi para isteri Bung Karno. Jauh benar dengan penderitaan Inggit Garnasih, misalnya. Isteri Bung Karno di zaman pra kemerdekaan itu, yang harus berjalan kaki puluhan kilo di tengah hujan deras, hanya untuk menengok suami tercinta di dalam penjara. Heldy Djafar, engkau memang berhak memilih jalan nasib sendiri…

Informasi Dasar Buku:

Judul : Heldy, Cinta Terakhir Bung Karno

Penulis : Ully Hermono dan Peter Kasenda

Penerbit : Penerbit Buku Kompas, 2011

Tebal : 254 halaman

ISBN : 978-979-709-579-6

About these ads
Komentar
  1. bzee mengatakan:

    Mungkin karena ditulis berdasarkan pengakuan satu pihak, jadi terdapat byk kontroversi. Kadang2 dihapuskannya sedikit fakta bisa mengubah keseluruhan cerita.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s