Buku Tentang Biografi Imam Syafi’i

Posted: 12 Agustus 2011 in Agama Islam, Tokoh
Tag:

Biografi Imam Syafi'i

Ilmu bak buruan, dan catatan adalah pengikatnya…

(Imam Syafi’i)

Khasanah intelektual Islam bak sumur tanpa dasar. Tak akan pernah habis ditimba. Selain mewariskan karya-karya luar biasa yang menyumbang peradaban umat manusia (dari aspek keilmuan, teknologi, sastra, dan budaya), juga memberikan kita aneka artefak dan maintifak (hasil pemikiran, gagasan) nan mengagumkan.

Namun berbeda dengan warisan intelektual sekuler ataupun tradisi ilmiah dunia klasik, peradaban Islam yang berkibar lewat pesona ilmu, juga memancarkan teladan dan kharisma —dari para individu yang menjadi cendekiawan di masa lalu. Agaknya, kaum cerdik pandai di dunia Islam masa lalu adalah intelektual paripurna. Teruji dalam teori, terbukti dalam budi pekerti!

Satu bukti —dari sekian banyak ilmuan Muslim terkemuka— adalah Imam Syafii. Kebanyakan kita mengenal tokoh ini sebagai satu dari empat Imam dari golongan Ahlussunnah Wal Jamaah, atau sebagai pakar ilmu fiqh semata. Padahal, Imam Syafii adalah intelektual ensiklopedik (wawasan sangat luas), sekaligus intelektual prolific (sangat ahli dalam bidang tertentu). Dari dunia ilmu, ia ahli sastera, balagah, ilmu hadis, bahasa Arab, bahkan juga kedokteran. Menurut pengakuan salah satu ulama yang dipetik buku ini, setiap ucapan yang dikeluarkan Imam Syafii adalah bagaikan gula (halaman 106). Sampai-sampai, buku ini juga menyebut bahwa jika saja Imam Syafii tidak menjadi Ahli Hadis, maka mungkin ia akan menjadi ahli pengobatan (kedokteran).

Masih ada sisi lain, suatu keistimewaan yang selalu mengiringi keunggulan para intelektual muslim periode salaf (klasik), yaitu mereka juga memiliki keahlian tertentu. Imam Syafii, misalnya, yang juga adalah seorang ahli memanah dan berkuda.

Riwayat hidupnya, yang ditulis dalam buku ini, adalah jejak kesempurnaan. Meski demikian, buku ini tak jatuh sebagai hegiografi (sejarah orang suci, yang melulu berisi puja-puji). Melainkan ditulis berdasarkan aneka sumber, ratusan referensi, pelbagai testimoni, dan juga karya-karya utama dari Sang Imam. Tambahan lain, buku ini jauh dari kerumitan sebuah telaah ilmiah, melainkan disusun sistematik. Dengan bahasa mudah. Dibantu dengan ilustrasi di sana sini.

Perjalanan Sang Imam diulas tuntas. Sedari awal —tatkala Syafii kecil hijrah untuk belajar Bahasa Arab Murni di Hudzail—, masa-masa remaja dan menuntut ilmu di Mekah, petualangan ke Madinah, penjelajahan ke Irak dan Mesir, hingga di akhir pengabdian beliau. Gambaran perjalanan panjang dan petualangan tanpa titik inilah yang melegenda. Sang Imam bahkan memiliki fatwa yang terkenal —sempat pula dipetik dalam buku Ahmad Fauzi, yang berjudul Negeri Lima Menara— bunyinya adalah: Orang yang berakal dan berbudaya takkan tenang berdiam di suatu tempat. Karena itu, tinggalkanlah kampung halaman dan mengembaralah! (Lihat halaman 45).

Tak lupa pula, buku berjudul Biografi Imam Syafi’I, Kisah Perjalanan dan Pelajaran Hidup Sang Mujahid, yang ditulis DR. Tariq Suwaidan ini membuat bahasan yang ringkas namun pungkas, tentang karya-karya monumental dari sang Imam. Dua buku utama Imam Syafii, masing-masing Al Umm dan Ar Risalah, terkategori sebagai Magnum Opus, alias masterpiece, karya-karya yang terbilang istimewa!

Pembela Hadis

Sebutan lain untuk Sang Imam adalah pembela hadis (Nashiru Hadis). Totalitas dan komitmen teguh untuk mengibarkan hadis (dan Al Qur’an) sebagai rujukan utama dalam memutuskan setiap perkara ke-umatan, telah diperlihatkan Imam Syafi’i. Ia kemudian mengukuhkan pijakan dasarnya itu sebagai mazhab (school of thought, aliran pemikiran) tersendiri, yang kemudian memiliki pengaruh luas, bahkan kini terbilang paling banyak pengikut, yang tersebar di sejumlah negara, seperti di penduduk Mesir, Arab Saudi (bagian barat), Suriah, Indonesia, Malaysia, Brunei, Yaman dan Bahrain.

Padahal, jika berkaca dari konteks sosio-historis di masa ketika beliau hidup (paruh akhir abad kedua hijriah), gagasan utamanya itu berada di luar mainstream (di luar arus utama). Sejarah mencatat, waktu itu adalah puncak intelektual Islam berkibar penuh pesona. Bermacam aliran (firqah) tumbuh menguat. Sejumlah ideologi (termasuk Syiah, Sunni, Mutajilah, dan bahkan Khawarij) bermunculan. Telah hadir pula para Ulama dan Imam besar. Namun, berkat kecintaannya kepada ilmu dan hasil dari perjalanan panjang, Imam Syafi’I bisa memperoleh pengikut dan pengakuan dari banyak pihak. Ia tidak terjebak dalam dua arus utama dalam hal ilmu fiqh, yaitu condong kepada teks hadis semata, atau melulu berpijak pada nalar (ray’i). Imam Syafi’I berhasil mengkombinasikan antara fiqh Imam Hanafi (yang condong pada nalar dan fiqh Imam Maliki yang berat pada hadis. Ia melahirkan fiqh dengan metode baru —yang disusunnya sendiri (halaman 156).

Meski begitu, kemunculannya dengan kaidah baru ini tak sekedar pelengkap. Lantaran kepakarannya sudah diakui oleh siapapun, termasuk oleh para Imam besar saat itu. Termasuk oleh Imam Hanafi, yang tak segan menyebutnya sebagai ensiklopedia berjalan.

Dari olahan Sang Imam inilah kemudian dunia Islam memperoleh mutiara hikmah tak berbanding. Corak pemikiran Sang Imam relatif moderat, adaptif, dan paling penting adalah ilmiah. Beliau mengokohkan prinsip dalam mempertimbangkan masalah keagamaan dengan berdasar pada Al Quran dan Hadis, Ijma Ulama, pendapat sahabat, dan Qiyas. Inilah berbagai fakta dan informasi penting yang tersaji di buku ini. Catatan lain yang tak boleh diabaikan, adalah betapa buku ini juga dilampiri dengan bahan berharga, yaitu matriks Perbandingan Empat Imam Mazhab, yang terhidang di halaman akhir buku ini. Sebuah karya yang sangat patut kita baca —terlebih di Bulan Ramadhan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s