Buku Tentang Cinta Yang Hilang

Posted: 14 Maret 2011 in Gaya Hidup, Novel Populer
Tag:

Cover Buku Cinta Yang Hilang

Psikolog mazhab Humanis, Erich From, dalam buku The Art of Loving, mengatakan: cinta bukanlah tentang memperoleh. Melainkan kesediaan menerima dan bertanggung jawab.

Ujung kata itu, tanggung-jawab, tak bisa tidak harus dilakukan dengan memberikan pengorbanan. Sesuatu harus ke luar, hilang, teralihkan, dari apa yang kita punyai.

Tentang cinta, memang jauh lebih sering berbentuk memberi —kerap kali tanpa perolehan balik. Per definisi, makna cinta sedemikianlah yang terjasi dalam kumpulan cerpen di buku ini.

Buku ini, mengusung title “Cinta Yang Hilang”, memuat tujuh Cerita Pendek, memang bukan love melulu. Namun unsur-unsur romantika tersaji di sini. Hanya saja dengan teknik narasi yang luar biasa piawai. Karya dari O Henry ini, cerpenis kawak di Negeri Paman Sam (namanya lantas diabadikan untuk hadiah tahunan untuk cerpen terbaik), adalah mantan narapidana perampokan bank, yang lantas menjadi penulis. Ia tak terikat pakem apapun. Bayangkan: kejutan berbau horor, sinisme, kritik sosial, olok-olok, dan bahkan potret sosial yang perih di Kota New York, bercampur baur jadi satu.

Semua cerita berlangsung cepat (rata-rata Cerpen di sini tak lebih dari 20-an halaman). Tak bisa ditebak. Sudah tentu pula, tak ada happy ending. Penulisnya seolah ingin menggerojoki nalar kita dengan ending terbuka. Membuat penasaran dan terus bertanya-tanya. Di sinilah uniknya.

Jika membuat perbandingan, cerpen-cerpen di buku ini berada dalam genre yang sama denan karya Putu Wijaya, Danarto, Budi Darma, atau juga Seno Gumira Adjidarma. Bedanya, O Henry tidak bermain dengan abstraksi, surealisme atau gambaran absurd. O Henry malah asyik dengan petikan-petikan metaforik yang nakal dan lucu.

Cinta Yang Hilang
Dibuka dengan cerita pertama, berjudul Cinta Yang Hilang. Berlatar kawasan padat dan sibuk, penginapan yang kumuh, serta orang-orang yang menggelandang. Seorang laki-laki, berhari-hari mencari gadis idamannya. Ia lalu tiba di sebuah hotel tua, dengan penjaga yang sikapnya aneh. Tibalah lelaki itu di sebuah hotel. Suasana yang tak nyaman berhamburan. Sekonyong, menghirup harum yang tajam dari bunga mignonette. Aroma ini tak asing, milik gadis pujaannya (yang cantik, memiliki tahi lalat di atas pelipis mata).

Sontak ia berteriak-teriak, mencari ke sana kemari. Nihil. Satu-satunya yang bisa menjadi keterangan penjelas, bertanya pada penjaga hotel. Meski akhirnya hanya mendapat jawaban “palsu”, bahwa tak pernah ada seoarang gadis “bertahi lalat di atas pelipis mata” seperti yang ia tanyakan. Lelaki muda itu balik ke kamar. Lantas di bawah, pejaga hotel itu terlibat obrolan santai dengan bos-nya. Sang Bos lalu berkata: “Jika saja lelaki yang baru menginap itu tahu, bahwa minggu lalu ada gadis bertahi lalat di atas pelipis mata yang mati bunuh diri, maka ia tak akan berani menginap di kamar itu.”

Hadiah Kejutan
Sesungguhnya, di bagian “Hadiah Kejutan” inilah kekuatan utama dari buku ini. Kisahnya: seorang isteri cantik dengan rambut indah terjurai (jika saja Ratu Sheba melihat, maka permaisuri Raja Sulaiman ini akan iri hati). Tapi sayang ia bukan ratu, cuma pengurus rumah yang setia menunggu suami pulang. Untuk hadiah natal, uang di dalam genggaman hanya 88 Dollar (mau beli apa?).

Jalan ke luar kemudian menyembul dalam benak. Sang isteri cantik bernama Della itu nekat menjual rambutnya di sebuah Salon Kecantikan. Dengan rambut indah yang telah terpotong, ia berlarian menuju toko, membeli rantai platinum, untuk menjadi gelang pengikat jam tangan milik suaminya.

Malam natal tiba. Suami yang ditunggu pulang. Persis, tak lama keduanya terlibat “pertukaran hadiah”. Sang suami lunglai, karena ia melihat rambut indah isterinya telah putus pendek, padahal hadiah yang ia bawa adalah dua buah bros cantik (yang selalu diidamkan isterinya). Sebaliknya Della, tergeragap karena ternyata Jam Tangan suaminya telah dijual, untuk membeli bors cantik itu (padahal ia sudah membeli rantai platinum, dengan menjual rambut panjangnya).

Bukti Cerita
Judul yang ini agak sarkastis (menyindir para suami). Kisahnya dua orang sahabat dekat. Masing-masing: Westbrook, berprofesi sebagai Redaktur Majalah Minerva dan Shackleford Dawe, seorang penulis kisah fiksi yang hebat, tapi jatuh miskin. Kebetulan, isteri dari dua sahabat ini berteman akrba pula, yaitu Nyonya Wstbrook dan Nyonya Dawe.

Westbrook dan Dawe terlibat debat sengit. Ingin membuktikan kata-kata seperti apa yang akan diucapkan para Ibu yang anaknya diculik, atau ekspresi seperti apa yang terlontar dari mulut para isteri yang kehilangan suami. Demi membuktikan argument masing-masing, keduanya sepakat menguji Isteri Dawe.

Lalu dua sahabat itu mengatur skenario, yaitu Dawe menulis surat kepada isterinya, seolah ia akan pergi bersama wanita lain, dan tak akan kembali. Para suami itu membayangkan, teriakan apa yang akan meluncur deras dari mulut Isteri Dawe.

Tibalah waktunya: dua sahabat itu mendatangi rumah Nyonya Dawe. Sayang, persis di depan pintu, mereka menemukan surat, yang isterinya ternyata menginformasikan bahwa justru Nyonya Dawe yang sudah pergi dan tak akan kembali. Nyonya Dawe mengaku tak kuat lagi hidup bersama dalam kepapaan. Ia pergi, juga ditemani oleh Nyonya Westbrook, yang justru jenuh hidup dalam kondisi serba ada. Sungguh kejutan yang menggelikan.

Tak Akrab
Cerita-cerita pendek yang mengalir di buku ini butuh konsentrasi kita untuk menyantapnya. Lantaran berlatar belakang yang tak akrab dengan kita (yaitu hiruk pikuk dinamika sosial kelas bawah di New York). Butuh kesabaran dan memperlambat penelusuran tiap kata yang tercantum di lembar-lembar buku ini. Tetapi menjadi puas begitu intisari kisah berhasil kita tangkap.

Dari sejumlah judul, selain dua yang telah disarikan di atas, yaitu: (1) Cinta Yang Hilang; dan (2) Hadiah Kejutan, masih ada lima Cerpen lainnya. Masing-masing: (3) Bukti Cinta; (4) Semata-Mata Bisnis; (5) Kenyataan Adalah Sandiwara; (6) Perempuan dan Suap Menyuap; dan (7) Demi Cinta. Tiga cerpen paling awal, termasuk yang ketiga,yang berjudul Bukti Cinta, relatif mudah kita ikut. Sisanya yang lain, masih butuh mengernyitkan dahi. Selamat menikmati…

Informasi Detil Buku:
Judul : Cinta Yang Hilang
Penulis : O Henry
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, Februari 2011
Tebal : 118 halaman
ISBN : 978-979-024-241-8

//

Komentar
  1. boim_doyok mengatakan:

    aq mncari arti sbuah cinta sejati yang menerima kenyataan hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s