Buku Tentang Para Pengusaha Muda

Posted: 24 Februari 2011 in Bisnis
Tag:

Cover Buku Wirausaha Mandiri

Ada dua jenis batu. Pertama adalah batu penghalang dan kedua adalah batu loncatan. (Rhenald Kasali)

Cara terbaik menanam pohon jati adalah dilakukan 20 tahun lalu. Jika tidak, maka lakukan hari ini! Rhenald Kasali, melalui buku ini, seakan mengingatkan hal itu. Jika Indonesia masa depan kita idamkan makmur, maka hari ini harus lahir para (tunas) wirausahawan. Bahwa anak-anak muda Indonsia hari ini harus jadi pemenang di masa depan —dengan berbisnis sekarang juga. Jangan terlalu ruwet berteori. Sederhanakan masalah. Buang belenggu. Berbisnislah!!!

Maka kita bertemu dengan 24 pengusaha muda yang sanggup menjadi penakluk atas “penjara” berupa mental block, yaitu takut gagal, minder, malu, dan tak berani ambil resiko. Mereka ke luar dari zona nyaman dan menerobos tirani rutinitas. Alhasil, dalam usia belia, sanggup menangguk untung ratusan juta hingga miliaran rupiah. Tetapi jauh dari pakem buku-buku sejenis, yang menawarkan solusi “cara cepat jadi kaya”, Rhenald Kasali justru mengingatkan: tak ada paket kilat dalam berusaha. Dalam buku ini ia bahkan dengan bijak menyiram batin kita: bahwa orang berbisnis bukan semata-mata cari uang, melainkan mencari makna.

Buku berjudul Wirausaha Muda Mandiri ini, sungguh-sungguh melabrak tradisi “buku asal laku” yang menjual kiat-kiat bisnis (atau investasi). Sang Profesor dan Guru Besar Manajemen dari UI ini menjauhi bahasa over dramatisasi (misalnya dari judul bombastic). Disiplin dalam meracik contoh kasus (orang-orang yang ditulis, adalah para pengusaha muda alumni Program Wirausaha Muda Mandiri. Seraya memberikan kiat-kiat yang memiliki daya gugah —terutama petikan-petikan nasehat yang sesuai dengan konteks.

Secara umum, muatan buku mengurai proses kreatif para pengusaha muda yang sukses. Dari 24 nama, rata-rata adalah lulusan perguruan tinggi (atau malah masih kuliah), berlatar belakang keluarga menengah dan bawah. Tetapi sumber inspirasi untuk berbisnis, aneh-aneh. Ada yang dapat ide dari toilet —lantas mengolah kotoran sapi sebagai bahan baku untuk industri gerabah. Kerusuhan para fans Band Populer, juga jadi ide untuk mendirikan bisnis merchandise (mug unik bergambar para artis pujaan). Terdapat pula pengusaha muda yang berbisnis properti (perumahan murah), karena api idealisme membela kaum lemah.

Tetapi yang paling banyak, tak lain bersumber dari selera lidah dan isi perut. Beberapa orang mengaku berbisnis makanan karena melihat tantangan di sekitar. Seperti seorang pengusaha muda yang berbisnis bakso, karena melihat kedai bakso yang laris di bandara. Atau seorang pengusaha muda yang mendirikan bisnis oleh-oleh khas Batam, karena di kota itu tak ada oleh-oleh khas.

Dedikasi, Hobi
Boleh dikata, buku ini menekankan lima buah akhiran “i” (yaitu dedikasi, hobi, prestasi, inovasi, dan tentu saja hoki). Para pebisnis memilih jalan hidup dengan passion (hasrat tinggi). Mereka memang hobi dan terbiasa melakukan itu. Seorang pebisnis, yang unggul dalam usaha desain grafis karena memang sedari kecil hobi menggambar. Pengusaha muda yang lain, seorang dokter, kepincut dengan hobi anak muda di depan internet (yaitu blog), lantas membuat 200 alamat blog yang menghasilkan laba, ujungnya membuat Sekolah Blog Pertama di Indonesia.

Pastinya beragam kisah menarik lainnya berhamburan. Tak ada cerita baku dan beku dalam dunia entrepreneurship (kewirausahaan). Klaim-klaim sepihak, bahwa para pengusaha hanya lahir dari keturunan pengusaha, rupanya tak berlaku —karena ada anak arsitek, putera pegawai, yang justru berbisnis. Juga tentang kemampuan intelektual yang diukur via IQ, sama sekali tak berlaku. Lantaran ada pengusaha sukses yang terang-terangan menolak belajar matematika —-ketika sedang kuliah. Bagaimana dengan faktor uang? Justru inilah yang ditekankan dalam buku ini. Rata-rata mereka berbisnis karena keberanian, nekat, dan cerdik melihat peluang. Bahkan ada seorang pengusaha yang memulai bisnis dengan mencuil isi dompet sebesar 150 ribu rupiah.

Tentu saja, kisah-kisah mereka tak selalu mulus. Ada yang gagal lebih dari sepuluh kali. Ada yang tempat usahanya diobrak-abrik preman. Ada yang pernah tertipu. Malah yang mengesankan, ada juga yang diolok-olok temannya dengan sebutan banci!

Daya Gugah
Daya gugah buku ini juga terletak pada 24 tips bisnis yang ditulis Rhenald Kasali, di setiap ujung wawancara dengan para pelaku bisnis. Beliau memang otoritatif —baik dari aspek teori ataupun praktis. Namun personal touch (sentuhan emosional) yang dipaparkan sangat simpatik, melecut daya gugah kita untuk bangkit. Inilah yang tak kita temukan dari buku-buku sejenis ini.

Misalnya, nasehatnya tentang “melawan” kemiskinan. Kita tak boleh marah terhadap kemiskinan. Melainkan mengubahnya menjadi energi, menjadi motor penggerak. Selama ini, kemiskinan sering dijadikan alasan untuk berbuat apa saja, termasuk merusak dan mencuri. Atau tentang fenomena anak-anak muda yang bergaya. Menurutnya, ada perbedaan anatara “anak muda bergaya” dengan “anak muda berusaha”. Yang satu menghabiskan uang, satunya lagi mencari atau menghasilkan uang.

Terakhir, petikan tentang ragam masalah yang menghadang. Ia membuat analogi bagus. Menurutnya, ada dua jenis batu. Pertama adalah “batu penghalang” dan kedua adalah “batu loncatan”. Nah, bukankah hal ini tergantung cara pikir dan pilihan kita? Selamat membaca…


Informasi Detil Buku:

Judul Buku : Wirausaha Muda Mandiri
Pengarang : Rhenald Kasali
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetaka Pertama Januari 2010
Tebal Buku : 316 Halaman
ISBN-13 : 9789792252842

//

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s