Buku Tentang Kepemimpinan Genghis Khan

Posted: 21 Oktober 2010 in Kepemimpinan, Sejarah, Tokoh
Tag:

“Sejarah”, seperti dikatakan Thomas Carlyle, “pada akhirnya adalah… sejarah orang-orang besar”. Dan itu tak selalu riwayat orang-orang besar dengan berbagai peristiwa agung —seperti kisah-kisah para nabi dan orang suci. Tetapi juga bersimbah darah. Bercampur kengerian yang tak hapus dari memori manusia hingga kini.

Seperti diingatkan oleh Barbara Kellerman, yang dikutip buku ini di halaman 11, bahwa sejarah tentang “kepemimpinan yang buruk” adalah pokok kajian yang sama menariknya dengan sejarah tentang “kepemimpinan yang baik”. Dan seorang muda bernama Temujin, dari kaum nomad pengembara Mongolia, dan kelak bergelar Genghis Khan, adalah berada dalam dua posisi itu.

Ia bisa buruk, jika dilihat dari praktek pembantian tak terperi, yang dilakukan di berbagai tempat yang ia taklukkan (menurut catatan buku ini, di halaman 11, diperkirakan 3 juta manusia tewas terbantai, dan itu terjadi delapan abad silam). Sementara bagi dunia Islam, tak pelak nama yang satu ini adalah trauma, horror, sekaligus ratapan panjang.

Tetapi ia juga bisa baik, apabila menatap kemampuannya dalam memimpin pasukan “tentara barbar”, sehingga bisa begitu solid dan setia terhadapnya. Bagi bangsa Mongol saat ini, Genghis Khan adalah “pahlawan yang sempurna”. Kisahnya yang heroic dibukukan dalam buku The Secret History of Mongol. Sementara bagi bangsa China moderen, bagaimanapun Genghis Khan adalah orang yang pertama memberikan citra geografis atas peta bumi China moderen.

Kepemimpinan

Zaman moderen mau tak mau merindukan kepemimpinan efektif yang dijalankan secara demokratis. Seraya menyingkirkan pemaksaan dan hegemoni, sebagaimana titah dari Mao Zedong, bahwa kekuasaan berada di laras senjata. Akan tetapi, bukankah pola demokratis itu bukan satu-satunya cara? Lebih-lebih bila suasana dan konteks tidak memungkinkan pilihan demokratis itu. Benak kita sekarang memang tak bisa menerima kepemimpinan model keras non kompromi, padahal mestinya, ada saat ketika kita harus menerima keputusan seorang pemimpin yang keras —sesuai dengan konteks yang dibutuhkan.

Buku ini, berjudul The Leadership Secret of Genghis Khan, ditulis sejarawan John Man, membeber semua konteks yang menjelaskan berbagai karakter kepemimpinan Genghis Khan. Olehnya menjadi jelas, bahwa meski bengis, tetapi itu adalah cara yang tepat —setidaknya untuk saat itu.

Bisa dibayangkan, rombongan tentara yang menjelajah alam begitu berat, gurun Ghobi yang ganas, perjalanan pasukan berkuda yang begitu jauh (ribuan kilometer), sistem logistik terbatas, serta perlawanan hebat dari koloni yang diserang, sangat tidak mungkin dipimpin dengan metode lunak. Di tangan seorang Genghis Khan, kekajaman dan kebengisan adalah strategi. Menjadi wajar jika kemudian ia tak pernah menyesali apapun kehancuran dan kerusakan yang ia perbuat. Menjadi bengis adalah pilihan, barangkali begitu.

Trauma Islam

Seorang cendekiawan muslim, Nurcholis Madjid, dalam buku Islam, Doktrin, dan Peradaban, pernah menyebut bahwa apabila perpustakaan besar di Baghdad tidak dibumihanguskan oleh balatentara Genghis Khan, maka dunia hari ini bukan lagi berpikir tentang kehidupan di Bulan, melainkan sudah tinggal di sana. Karena perpustakaan di Baghdad itu begitu lengkap, menyimpan sumber-sumber ilmu yang sangat kaya untuk zaman itu (beberapa abad sebelum kebangkitan Eropa).

Di buku ini, Genghis Khan hadir sebagai perwujudan kehendak Tuhan. Tuhan ingin menghukum dunia Islam —karena para khalifah yang korup dan bertengkar sesama mereka sendiri. Bagaimana mungkin Genghis Khan bisa merontokkan imperium Islam yang sangat besar dan berkuasa, jika Tuhan tak menyetujui? Begitulah asumsi yang dibangun.

Nah, bila tak setuju, maka beralihlah pada “visi” yang ditawarkan buku ini. Bahwa setiap pemimpin tak lahir dari paket kilat yang dikirim dari langit. Melainkan ada beragam latar peristiwa yang mendukung kelahirannya. Termasuk, tentu saja, visi dan karakter yang melekat dari seoarang pemimpin.

Menurut John Man, penulis buku ini, Genghis Khan juga memiliki “visi yang hidup”. Selain kejam, ia juga ternyata sangat solider terhadap perkawanan, menghormati keluarga, dan memiliki kecakapan sosial (halaman 37). Hikmah berharga dari buku ini tak lain adalah menjadi referensi yang enak dibaca tentang Genghis Khan, seraya mengurangi trauma terhadap citranya yang kejam. Entahlah…

 

Informasi Detil Buku:

Judul: The Leadership Secret of Genghis Khan

Penulis: Jhon Man

Penerbit: Kelompok Pustaka Alvabet, Mei 2010

Tebal: 251 halaman

About these ads
Komentar
  1. […] Buku Tentang Kepemimpinan Genghis Khan October 2010 3 […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s